Nepal van Java, tapi dari Darat

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Bu Slamet berjalan pelan di jalan menurun. Badannya dicondongkan ke belakang  untuk mengerem laju langkahnya. Di kanan kirinya, sejauh mata memandang adalah hamparan kebun sayuran berundak. Pagi itu, di akhir 2025, matahari pagi menyapa cerah dan menyajikan visual kontras bayangan yang menambah sensasi suasana pagi.

”Mau ke ladang, Mas… nanam luncang,” jawab Bu Slamet sambil tersenyum. Luncang adalah sebutan bagi tanaman daun bawang yang sepertinya sedang musimnya ditanam di kawasan Dusun Butuh, Kelurahan Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Deretan daun bawang yang ditanam membentuk konfigurasi yang sangat elok untuk dipadang. Barisan tanaman daun bawang seolah menjadi padang ilalang yang membentuk kontur alam yang indah.

Bu Slamet mengiyakan ketika diminta untuk berpose dan difoto. Posisi berhenti Bu Slamet dan bayangan badan yang jatuh di jalan membentuk komposisi garis yang digemari fotografer. Seusai difoto, Bu Slamet dengan tersenyum hangat pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Pagi itu adalah seperti pagi-pagi lain yang dijalani oleh warga Dusun Butuh. Mereka sebagian besar adalah petani sayuran yang menjadi pemasok kebutuhan sayuran untuk kawasan Magelang, Purworejo, Temanggung, hingga Yogyakarta. Para petani tersebut seolah telah dikunci jalan hidupnya. Bangun-bertani-pulang-istirahat, diulang-ulang hingga saat mereka tidak lagi mampu pergi ke ladang. Dengan tanah yang penuh berkah, kesuburan yang tidak pernah hilang, bertani adalah jalan ninja mereka.   

Pak Slamet

Aktivitas warga tidak berubah sejak dulu hingga kini, tetapi suasana Dusun Butuh kini tidak pernah sama lagi. Di antara para petani di ladang, berseliweran jip bak terbuka yang mengangkut para wisatawan. Sebuah dusun di kaki gunung, jauh dari gemerlap kota, dan kental dengan kehidupan agraris tiba-tiba menjadi titik kumpul manusia dari seluruh penjuru Nusantara.

Adalah teknologi visual drone yang merubah takdir dusun terpencil itu. Drone menggantikan mata di posisi kita tidak bisa berada. Lewat foto dan video yang dihasilkan oleh drone, sebuah perkampungan di dusun yang berada di lembah curam di kaki Gunung Sumbing menjadi sebuah visual yang eksotis. Tata bangunan yang bersusun mengikuti kontur kaki gunung itu kemudian menjadi perbincangan setelah diunggah di media sosial. Dengan latar Gunung Sumbing yang berbentuk kerucut dan cahaya pagi serta langit yang biru, foto dan video Dusun Butuh begitu menakjubkan dan memukau indra visual.

Dusun Butuh yang dulunya tenang dan dipenuhi pekerja keras sebagai petani sayur kini berubah menjadi kawasan wisata. Sejak foto dan video aerial kawasan tersebut beredar luas dan lalu banyak yang membandingkan kemiripan visual Dusun Butuh dengan visual desa-desa di kaki Gunung Everest di negara Nepal, Dusun Butuh lalu dijuluki ”Nepal van Java”.

Julukan ini menambah keragaman ”Van Java” di Indonesia, setelah ”Paris van Java” untuk Kota Bandung dan ”Swiss van Java” untuk Garut. Mereka yang gemar berwisata setidaknya berkeinginan sekali seumur hidup bisa datang ke Nepal van Java. Mereka merasa harus hadir dan menjadi saksi mata keindahan alam Indonesia yang disajikan oleh Dusun Butuh.

Poster denah wisata Nepal van Java di Dusun Butuh

 

Kompas/Yuniadhi Agung

Mural di Nepal van Java

 

Kompas/Yuniadhi Agung

Jip wisata

 

Kompas/Yuniadhi Agung

 

Mengunjungi Dusun Butuh sebaiknya dilakukan sepagi mungkin. Tempat tersebut bisa dijangkau dari kota-kota besar terdekat, seperti Semarang dan Yogyakarta, tetapi perlu upaya berangkat dini hari. Saran terbaik adalah menginap di Kota Magelang, kota yang berada di posisi teratas dalam indeks kota slow living, tempat yang sangat menarik untuk menjadi tempat tinggal saat pensiun (liputan jurnalisme data Kompas, Desember 2024). Selain bisa menikmati kuliner enak di Kota Magelang, seperti kupat tahu Pak Pangat, ketan lupis Pasar Cacaban, atau es pleret Warung Semanggi, perjalanan bisa dilakukan saat fajar tiba.

Paling seru jika kita menggunakan sepeda motor dengan rute Kota Magelang-Bandongan-Kaliangkrik. Perjalanan di jalan dengan aspal halus dengan rute menanjak akan menjadi pengalaman tersendiri. Setidaknya, kita bisa merasakan sensasi menikung ala pebalap MotoGP. Jika beruntung, kita bisa menerobos kabut pagi yang mistikal dan meneduhkan. Sebuah perjalanan yang akan menyempurnakan hidup Anda.

Perjalanan darat ini memakan waktu 30 menit tanpa ada macet. Pagi itu, di lahan parkir yang disediakan di pintu masuk Dusun Butuh, telah parkir aneka mobil dan bus dengan pelat kendaraan AB, H, K, pelat merah B, T, hingga DD. Satu keluarga memarkir minivan mereka di ujung lahan parkir dan mendirikan tenda untuk menikmati suasana pagi.

Mengenal warga

Tiba di Nepal van Java, Anda akan terpukau oleh sajian alamnya. Jika alam sedang baik hati, di pagi yang cerah kita akan dapat menyaksikan kontur Gunung Sumbing yang tegas dan garang. Hanya saja, 80 persen visual keindahan bangunan berundak Dusun Butuh tidak akan kita dapatkan ketika memotret di kawasan tersebut. Dari sudut darat mana pun, visualnya tidak akan sama dengan yang dihasilkan oleh drone. Walhasil, wisatawan hanya berfoto dengan latar belakang deretan rumah di bukit dan hasil fotonya sebetulnya tidak terlalu istimewa.

Namun, bukankah itu tujuan mereka? Tiba di sana dan menyiarkan keberadaan mereka di media sosial?

Nepal van Java sesungguhnya bukan cuma tempat yang sedap dipandang mata. Jika kita mau lebih berkunjung ke dalam, ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari sekadar berfoto-foto. Dusun butuh menyimpan pesona yang mungkin terlewatkan. Mereka sejatinya adalah warga yang ramah dan membuka ruang privat mereka untuk siapa pun yang hadir. Ucapan ”monggo pinarak” adalah kata sandi keramahan organik mereka. Bagi mereka, tidak ada istilah orang asing, semua adalah tamu yang perlu diajeni (dimuliakan).

Untuk mengenal lebih jauh warga Dusun Butuh, yang diperlukan hanya perjalanan pendek (yang mungkin akan melelahkan fisik karena harus berjalan di labirin kampung dengan elevasi di atas 45 derajat). Di ujung kampung, banyak jasa ojek motor yang akan mengantarkan Anda berkeliling kampung. Sensasi naik motor di Dusun Butuh seperti saat Luke Hoobs mengejar Dominic Toretto di gang-gang sempit Rio de Janeiro, Brasil, dalam film Fast and Furious-Fast Five. Diperlukan skill tingkat dewa untuk mengatur tarikan gas, keterampilan membelokkan setang sepeda motor untuk melintasi gang yang lebarnya hanya 1 meter.

Di gang-gang yang sambung-menyambung seperti sistem saaraf tubuh itu wisatawan bisa menyapa atau bahkan duduk mengobrol santai dengan warga. Pada pagi hari saat cuaca cerah, sebagian warga duduk di depan rumah mereka mencari paparan sinar matahari untuk sekadar menghangatkan badan. Tidak pernah ada percakapan basa-basi, mereka akan bertanya dengan tulus dan sopan tentang asal tempat tinggal kita. Tanyalah satu hal tentang tempat ini, maka mereka akan menjelaskan panjang kali lebar dengan tutur yang tertata. Ketika mereka berbicara, mereka akan menatap mata kita sebagai tanda menghormati lawan bicaranya. Hanya beberapa menit saja, Anda akan merasa di kampung halaman Anda. Jika Anda beruntung, sajian teh panas manis dan kental atau kopi hitam dengan aneka gorengan akan hadir di tengah perbicangan tadi.

Warung

Mereka telah menerima bahwa wisata adalah hal baru yang menjadi bagian dari keseharian mereka. Para warga berupaya membuat wisatawan nyaman di tempat tersebut. Kunjungan wisatawan tidak mengganggu aktivitas mereka. Sejatinya, kehidupan mereka tidak pernah berubah. Semua telah diatur seperti kerja otomatis. Warga pria membawa bibit tanaman dan pupuk ke ladang dengan sepeda motor yang telah dimodifikasi akan kuat melintasi tanjakan terjal. Para perempuan yang tinggal di rumah berbelanja, menjemur pakaian, dan sesekali mencabuti rumput-rumput liar di halaman mereka. Aktivitas agraris ini menjadi pertunjukan utama di Dusun Butuh. Mereka bergerak dinamis, tidak seperti bangunan dan gunung yang mungkin akan tampak biasa di mata setelah beberapa saat kita mengaguminya.

Anak-anak di Desa Butuh tumbuh dengan alam indah di sekitarnya. Lokasi yang berkontur tidak menghalangi usaha mereka mencari kebahagiaan. Tidak memiliki tanah lapang datar untuk bermain sepak bola, anak-anak memanfaatkan halaman masjid di kampung untuk sekadar menendang bola dan memeragakan gerak idola mereka yang hanya bisa ditonton di televisi atau tayangan di layar telepon seluler. Warung-warung makanan menjadi ”minimarket” anak-anak yang hendak jajan. Dan, yang terpenting, seperti orangtua mereka, anak-anak juga ramah kepada para wisatawan. Sapaan kita selalu dibalas dengan senyum dengan ekspresi malu mereka.

Hadirnya wisatawan direspons sebagai peluang usaha. Warga Dusun Butuh mendapatkan manfaat ekonomi darinya. Mengingat para wisatawan datang dari kota, maka Dusun Butuh menyediakan tempat nongkrong yang nyaman untuk wisatawan. Selain ruang pandang untuk berfoto yang umumnya berada di atap rumah warga, di Nepal van Java wisatawan juga bisa santai di kafe. Para staf kafe dan barista di pagi itu dengan profesional menyiapkan segala hal, seperti mengelap meja dan kursi serta mengalibrasi rasa kopi di mesin ekspresso.

Pemandangan itu sudah seperti di kedai kopi orang berdasi di kawasan bisnis SCBD Jakarta. Jika dulu, orang yang berkunjung ke Dusun Butuh hanya bisa menyeruput kopi hitam dan singkong goreng, kini mereka bisa memilih menu pastry dan dirty latte. Tidak ada momen yang lebih mengesankan selain menyeruput kopi hangat di rooftop kafe yang sejuk sambil memandangi Gunung Sumbing dan Nepal van Java. Namun, jangan terlalu lama di atap, kulit Anda bisa gosong terbakar matahari.

Satu ”oleh-oleh” yang akan dibawa pulang para wisatawan setelah berkunjung ke Nepal van Java adalah semerbak aroma pupuk kandang yang mengunci indera penciuman. Aroma tersebut akan mengalahkan semprotan parfum merek Burberry Brit Sheer, Layr-Kyoto Jazz, atau Scent of Pluto-Lost in Italian Sea yang Anda semprotkan ke badan karena Anda belum mandi pagi. Aroma pupuk kandang adalah bau kenang-kenangan yang mungkin saja belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Jika Anda pernah ke sana dan membaca tulisan ini, saya yakin Anda akan ingat lagi bau pupuk kandang itu.

Dusun Butuh yang menjelma menjadi Nepal van Java adalah anugerah indah bumi pertiwi. Nepal van Java bukan hanya indah dilihat dari udara, melainkan juga menyimpan banyak cerita di darat. Meski pariwisata mungkin tidak akan bertahan selamanya di Dusun Butuh, mereka tetap memiliki keistimewaan, yaitu semangat kerja, keramahan, dan ketulusan yang akan tetap lestari.  

Sekali seumur hidup, jika Anda punya kesempatan, berkunjunglah ke Nepal van Java.

Baca JugaSurga Tersembunyi Itu Bernama Lemelu
Baca JugaMenjaga Osan, Awal Peradaban Banggai Kepulauan
Baca JugaMemahami Wawonii dalam Perjalanan Menuju Banda


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PDB Indonesia Melesat, Mengapa Ekonomi Masih Terasa Berat?
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dilantik Jadi Jampidus, Kuntadi Dapat Pesan Khusus dari Jaksa Agung Soal Febrie, Ini Isinya
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Motif Penusukan Anggota TNI AD di Tangerang: Rebutan Antrean Sate Taichan
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Febrie Eks Jampidsus Tiba di Rutan KPK, Kata-kata Pertamanya: Aman Ya
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Trump Wanti-wanti China dan Rusia Tidak Terlibat Perang Iran
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.