Ada Simbol Penolakan Prabowo Terhadap Gibran yang Lebih Keras dari Posisi Duduk

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Budayawan Mohamad Sobary menilai terdapat simbol penolakan Presiden Prabowo Subianto terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang lebih keras daripada sekadar posisi duduk dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026).

Dalam sidang tersebut, Gibran tidak lagi duduk di samping Prabowo, melainkan sejajar dengan para Menteri Koordinator. 

"Bagi Presiden Prabowo wakilnya itu symbol of nothing ya. Nothing lah. Prabowo sudah mengginikan itu melalui simbol tidak boleh duduk dekat dia tadi," ujarnya dalam Forum Keadilan TV, dikutip Sabtu (25/7).

Sobary menambahkan, simbol penolakan yang lebih tegas terlihat ketika Prabowo tidak mengajak Gibran dalam kegiatan blusukan bertemu rakyat.

"Tidak boleh ikut (ketika presiden bertemu rakyat) itu lebih keren lagi lebih keras simbol penolakannya itu lebih keras, meskipun mungkin Prabowo juga tidak terlalu bermain simbol macam itu," ucap Sobary.

Ia menilai ada semacam politik bawah sadar atau insting yang dimainkan Prabowo yang menganggap bahwa Gibran sebagai anak kecil hanya menghalang-halangi jalannya.

"Six sense, six sense-nya Prabowo. Comen sense-nya Prabowo mengatakan ini bocah cah cilik ini ngalang-ngalangi ngeribeti. Ditaruh di belakang dia narik-narik gondeli memberati di belakang ditaruh di depan dia ngalang-ngalangi. Itu anunya ungkapannya," ujarnya.

Sobary menegaskan bahwa Prabowo seolah ingin menunjukkan tidak ada hubungan langsung antara tugasnya sebagai presiden dengan peran Gibran sebagai wakil presiden.

"Jangan dekat-dekat sama gue. Gue enggak ada hubungan sama dia. Tugas-tugas gue harian itu enggak ada hubungan dengan tugas dia. Tugas gue tugas gua. Enggak perlu ada dia. Ngapain? Kaya gitu bung kira-kira," tandasnya.

Baca Juga: 'Dia Itu Boneka Bung', Kritik Pedas Budayawan soal Kekosongan Gibran

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memberikan klarifikasi resmi terkait posisi duduk Gibran. Ia menegaskan bahwa perubahan tata letak meja sidang murni karena kebutuhan teknis operasional, bukan karena adanya keretakan politik.

"Kalau saudara-saudara kemarin perhatikan adalah bapak presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari bapak wakil presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan," ujar Prasetyo.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prospek Cuaca Jawa Barat hingga 29 Juli 2026: BMKG Prediksi Hujan Lokal Masih Berpotensi Terjadi
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Tim UI Raih Peringkat Keenam Dunia pada Kompetisi Rekayasa Struktur Tahan Gempa EERI SDC 2026 di Amerika Serikat
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Tersangka Kasus Korupsi Masih Digaji: Kejagung Bilang Febrie Tetap Jaksa Aktif
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Jadwal Bentrok dengan Pramusim Eropa, Justin Hubner Tak Dilepas Klub ke Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026
• 11 jam lalubola.com
thumb
Peringkat Kredit Panda Bond AAA, Purbaya: Ada yang Bilang Saya Bohong
• 20 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.