Antrean panjang mengular di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Sabtu (25/7). Sejak pagi, puluhan anak hingga orang dewasa bersama keluarganya datang mengikuti kegiatan Pemeriksaan Bibir Sumbing Gratis dalam rangka Cleft Month.
Bagi sebagian orang, pemeriksaan itu mungkin sekadar agenda kesehatan. Namun bagi sebagian lainnya, hari itu adalah awal harapan.
Salah satunya dialami Geubrina (22). Sebelum akhirnya mendapat penanganan di RSCM, ia mengaku sempat berkali-kali ditolak saat mencari tempat berobat. Pengalaman itu membuatnya ragu apakah masih ada rumah sakit yang bersedia membantunya.
“Saya pernah ditolak juga dari rumah sakit sebelumnya sampai akhirnya ke sini. Saya juga merasa, aduh ini saya bisa enggak ya di sini, karena sebelumnya kan sudah ditolak-tolak. Dan ini tuh harapan terakhir,” ujarnya.
Melalui pemeriksaan gratis itu, Geubrina bisa menjalani evaluasi dari berbagai poli dalam satu hari.
Menurutnya, layanan tersebut jauh lebih memudahkan karena pasien tidak perlu datang berkali-kali untuk mengetahui kondisi secara menyeluruh.
“Pemeriksaan gratis ini sangat membantu masyarakat. Kalau di sini langsung dalam satu waktu bisa ke poli-poli yang lain, ke rehab medik, ke dental,” katanya.
Di sisi lain, bagi Sofa (34), ibu dari Rara yang berusia dua tahun, pemeriksaan gratis itu menjadi kesempatan untuk mengetahui tahapan penanganan anaknya secara lebih lengkap.
Menurutnya, biasanya pasien hanya bertemu dokter bedah plastik, sedangkan dalam kegiatan ini anaknya dapat dievaluasi sekaligus oleh tim rehabilitasi medik hingga dokter gigi.
“Biasanya cuma bedah plastik doang, tapi di sini sudah semuanya, bahkan sama poli gigi juga. Jadi orang tua lebih tahu persiapan apa sih yang dibutuhkan untuk anaknya nanti,” katanya.
Ia mengaku biaya operasi bibir sumbing selama ini ditanggung BPJS Kesehatan. Namun, perjuangan yang masih harus dipikirkan keluarganya adalah biaya transportasi selama proses pengobatan yang berlangsung bertahun-tahun.
“Yang perlu dipikirkan tinggal gimana akomodasinya untuk memaksimalkan pengobatan,” ujarnya.
Bagi Ayu (26), ibu dari Kanaya (9 bulan), pemeriksaan gratis menjadi kesempatan untuk mempersiapkan operasi langit-langit yang akan dijalani putrinya saat berusia satu tahun.
Sejak awal, ia harus belajar banyak mengenai cara memberi makan bayi yang terlahir dengan bibir sumbing.
Ia mengatakan, tantangan terbesar bukan hanya soal operasi, tetapi bagaimana memastikan sang anak tetap bisa menyusu dan tumbuh dengan baik.
“Kanaya dari awal berbeda cara minumnya. Jadi benar-benar dituntun, misalnya enggak bisa ngedot, bisa pakai siring atau cara lain. Kalau ada masalah saat minum susu juga dicarikan solusinya,” ujar Ayu.
Menurutnya, melalui pemeriksaan gratis tersebut, ia semakin memahami tahapan penanganan yang akan dijalani Kanaya hingga proses operasinya selesai.





