Ketika Air Menjadi Arsitek Hutan

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

Oleh: PRISKA JULIANTI
Magang FAJAR

Air yang datang tanpa suara. Perlahan ia menyusup di antara akar mangrove di Kuri Caddi, Kabupaten Maros, mengangkat lumpur yang semula retak menjadi hamparan lumpur basah. Seekor kepiting bakau bergegas mencari celah, sementara burung-burung air berkicau sambil melintas rendah mengikuti pasang hingga ia hinggap di dahan dahan pohon mangrove. Tak ada tepuk tangan, tak ada sorak-sorai. Namun, pada saat itulah, sebuah hutan diam diam sedang membangun dirinya sendiri.

Bagi sebagian orang, rehabilitasi mangrove selalu identik dengan bibit yang ditancapkan satu per satu. Semakin banyak bibit yang ditanam, semakin besar pula keberhasilan yang dibayangkan. Cara pandang itu telah lama hidup, bahkan menjadi ukuran banyak program pemulihan pesisir. Sayangnya, alam tidak selalu tunduk pada hitungan jumlah pohon yang ditanam.

Di berbagai wilayah pesisir Indonesia, ribuan bibit mangrove pernah ditanam, tetapi tak sedikit yang akhirnya mati diterjang ombak, membusuk karena salah lokasi, atau gagal tumbuh akibat air yang tak lagi mengenali jalannya. Yang sering luput dipahami, mangrove bukan sekadar pohon yang bisa dipindahkan ke sembarang tempat. Ia adalah bagian dari sebuah ekosistem yang bekerja melalui ritme pasang surut, sedimen, salinitas, dan waktu.

Di Kuri Caddi, pelajaran itu dipraktikkan dengan cara yang berbeda. Tidak ada gegap gempita penanaman massal. Yang lebih dulu dipulihkan justru sesuatu yang nyaris tak terlihat: aliran air. Sebab sebelum hutan tumbuh, air harus lebih dahulu menemukan jalan pulangnya.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Direktur Blue Forest, Rio Ahmad, mengatakan Kuri Caddi dipilih karena merepresentasikan persoalan yang banyak ditemukan di pesisir Indonesia. Kawasan mangrove dikonversi menjadi tambak, lalu perlahan kehilangan produktivitas hingga akhirnya ditinggalkan.

Ketika Blue Forest mulai bekerja pada 2012–2014, sebagian tambak di kawasan itu telah terbengkalai hampir dua dekade. Meski demikian, kawasan tersebut masih menyimpan peluang besar untuk dipulihkan karena berada dekat sumber propagul alami dan masih dipengaruhi pasang surut. “Kuri Caddi bukan hanya lokasi rehabilitasi mangrove, tetapi kami niatkan menjadi laboratorium hidup untuk mempelajari bagaimana ekosistem yang pulih dapat kembali mendukung perikanan, perlindungan pesisir, pembelajaran, dan penghidupan masyarakat,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi penanda bahwa rehabilitasi bukan semata soal menumbuhkan pohon, melainkan mengembalikan hubungan yang sempat terputus antara alam dan manusia. Sebelum mangrove hilang, yang lebih dulu rusak sesungguhnya adalah cara kerja ekosistemnya.

Bekas tambak yang kini mulai menghijau itu dahulu dipagari pematang tinggi. Lantai tambaknya diperdalam agar produksi meningkat. Namun, tanpa disadari, perubahan itu memutus sirkulasi pasang surut yang selama ribuan tahun membentuk kehidupan mangrove. Air tak lagi bebas bergerak, sedimen berhenti mengendap, propagul kehilangan tempat berlabuh, dan regenerasi alami perlahan menghilang.

Di sinilah pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) menjadi pembeda. Bagi Blue Forest, rehabilitasi tidak dimulai dengan membawa bibit ke lapangan, tetapi dengan mencari tahu apa yang menyebabkan mangrove gagal tumbuh. Jika penyebab utamanya adalah hidrologi yang rusak, maka yang dipulihkan terlebih dahulu adalah hidrologinya.

Conservation and Restoration Manager Blue Forest, Akhzan Nur Iman, menjelaskan bahwa mangrove hidup mengikuti irama air.

“Ketika pasang surut dan aliran air kembali berfungsi, lokasi rehabilitasi memperoleh propagul, sedimen, bahan organik, dan unsur hara secara alami. Kondisi itu membantu membentuk elevasi dan substrat yang sesuai sehingga propagul dapat menetap dan tumbuh menjadi mangrove,” jelasnya.

Air ternyata bukan sekadar penghias lanskap pesisir. Ia membawa kehidupan dalam diam. Bersama arus, sedimen perlahan membentuk daratan yang stabil. Bersama pasang, propagul hanyut mencari tempat berpijak. Bersama surut, akar-akar muda belajar bertahan. Apa yang tampak sederhana di permukaan sesungguhnya adalah kerja panjang sebuah ekosistem yang saling menopang.

Karena itulah, menurut Akhzan, penanaman bukan selalu menjadi jawaban. Selama pohon induk masih tersedia, jalur pasang surut kembali terbuka, elevasi sesuai, dan gangguan utama telah diatasi, alam akan mengirim propagulnya sendiri. Penanaman hanya menjadi pilihan ketika regenerasi alami sudah tidak mampu lagi berlangsung. Pendekatan ini sekaligus menjadi kritik terhadap praktik rehabilitasi yang lebih mengejar jumlah bibit daripada memastikan pohon-pohon itu benar-benar memiliki kesempatan hidup.

Di Kuri Caddi, proses itu tidak berlangsung dalam semalam. Sejak 2014, Blue Forest bersama masyarakat memperbaiki bentuk lahan dan membuka kembali konektivitas pasang surut pada kawasan bekas tambak seluas sekitar 23 hektare. Air kembali mengisi saluran-saluran lama, sedimen mulai mengendap, dan propagul dari mangrove di sekitarnya perlahan berdatangan mengikuti arus.

Tidak semua berhasil tumbuh. Sebagian hanyut terbawa gelombang, sebagian lagi tertimbun sedimen. Namun alam tidak pernah terburu-buru. Ia bekerja dengan kesabaran yang sering kali tidak dimiliki manusia. Tahun demi tahun, anakan mangrove mulai memenuhi petak-petak tambak yang sebelumnya kosong. Yang pulih bukan hanya vegetasi, melainkan fungsi ekosistem yang sempat hilang.

Perubahan itu kini dapat dilihat tanpa perlu membaca laporan ilmiah. Di sela akar mangrove, kepiting bakau kembali menggali liang. Tiram menempel pada batang-batang tua. Burung air singgah mencari makan. Jalur sungai yang dahulu terbuka kini dinaungi tajuk hijau. Hutan perlahan mengambil kembali ruang yang pernah direbut darinya.

Bagi Sapri, Kepala Dusun Kuri Caddi, perubahan tersebut paling terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sekitar 90 persen warga menggantungkan hidup sebagai nelayan rajungan. “Mangrove bukan hanya menjadi pelindung perahu nelayan, tetapi juga merupakan rumah bagi biota laut yang menjadi sumber kehidupan masyarakat,” katanya. Bagi warga, hilangnya mangrove berarti hilangnya tempat rajungan, kepiting, dan berbagai biota pesisir berkembang.

Kesaksian itu diamini Abdul Latif, Ketua Kelompok Nelayan Kuribete-betea. Ia masih mengingat bagaimana kapal-kapal nelayan dahulu harus menghadapi musim barat tanpa perlindungan. Ombak sering merusak perahu yang ditambatkan di perairan terbuka. Kini, setelah mangrove kembali tumbuh, kapal-kapal dapat berlindung di jalur sungai yang dinaungi vegetasi. Selain lebih aman, nelayan juga memperoleh tambahan penghasilan dari kepiting bakau dan tiram yang kembali menghuni kawasan tersebut.

Jika nelayan merasakan manfaatnya di laut, perempuan-perempuan Kuri Caddi menemukannya di dapur. Di sebuah rumah sederhana, Dg Cora menjemur daun jeruju yang oleh warga setempat disebut kalli-kalli selama dua hingga tiga pekan sebelum menggilingnya menjadi bubuk teh. Daun berduri yang dahulu hanya dianggap semak pesisir kini berubah menjadi minuman yang memiliki nilai ekonomi cukup untuk kebutuhan rumah.

Usaha itu lahir dari sekolah lapang yang didampingi Blue Forest ketika pandemi Covid-19 membuat penghasilan masyarakat menurun. Dari pelatihan tersebut, perempuan-perempuan pesisir belajar mengolah hasil mangrove menjadi produk bernilai jual. “Kalau capek-capek, saya minum teh kali-kali,” ujar Sohra sambil tersenyum. Bagi perempuan berusia lebih dari lima puluh tahun itu, secangkir teh bukan hanya penghangat tubuh dan pemberi kesehatan, tetapi juga sumber penghasilan yang membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Ada ironi yang indah di sana. Jeruju adalah tumbuhan berduri yang tumbuh di tepian mangrove. Dari daun yang keras itulah lahir secangkir teh yang hangat. Seolah alam sedang mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak liar sekalipun dapat menjadi sumber kehidupan ketika dikelola dengan pengetahuan dan kesabaran.

Pemulihan mangrove akhirnya memperlihatkan satu kenyataan yang sering luput dari perhatian. Konservasi tidak akan bertahan jika hanya mengandalkan pagar, larangan, atau slogan. Ia bertahan ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung. Ketika hutan melindungi perahu, menghadirkan kembali rajungan, membuka ruang usaha, hingga membantu biaya sekolah anak-anak, menjaga mangrove bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan.

Rio Ahmad meyakini pelajaran terbesar dari Kuri Caddi bukanlah keberhasilan menumbuhkan mangrove, melainkan keberhasilan mengembalikan cara kerja alam. Manusia, katanya, tidak selalu harus menjadi pemeran utama dalam setiap upaya pemulihan. Tugas manusia adalah memahami ekosistem, memperbaiki kerusakan yang pernah diciptakannya, lalu memberi ruang bagi alam untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri.

Menjelang senja, air kembali naik menyusuri akar-akar mangrove. Riaknya mengulang perjalanan yang sama seperti hari-hari sebelumnya, membawa sedimen, propagul, dan kehidupan yang tak pernah lelah berulang. Tidak ada yang benar-benar berubah pada air. Yang berubah adalah cara manusia memandangnya.

Perjalanan pulang dengan jolloro menjadi penutup yang sulit dilupakan. Saya duduk di sisi kanan bagian belakang perahu, tepat di dekat mesin yang sesekali memancarkan hawa hangat hingga menyentuh kaki. Di saat yang sama, angin laut berembus pelan membawa aroma asin yang khas, berpadu dengan suara debur ombak kecil yang tercipta setiap kali jolloro membelah permukaan air.

Di sisi kiri, hamparan mangrove membentang seolah tak berujung, berdiri rapat mengikuti tepian sungai seperti benteng hijau yang setia menjaga pesisir.
Semakin jauh jolloro melaju, semakin saya menyadari bahwa yang tertinggal di belakang bukan sekadar deretan pohon. Hutan itu menyimpan pelajaran tentang kesabaran alam yang bekerja dalam diam. Air terus mengalir, mangrove terus tumbuh, dan manusia hanya perlu belajar untuk tidak lagi menghalangi keduanya.

Di Kuri Caddi, air bukan sekadar arus yang datang dan pergi. Ia adalah arsitek yang membangun hutan tanpa suara. Dan ketika manusia memilih bekerja bersama alam, bukan melawannya, yang tumbuh bukan hanya mangrove. Harapan masyarakat pesisir pun ikut berakar, menjulang, lalu menjaga kehidupan untuk waktu yang lebih panjang. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Profil Febri Diansyah: Berawal dari ICW, Berkarier di KPK, Kini Jadi Pengacara Febrie Adriansyah
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Maresca Ungkap Alasan Terima Pinangan City
• 15 jam lalumedcom.id
thumb
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK Usai Jalani Pemeriksaan di Kejagung
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Dulu Tergeser Maarten Paes dan Emil Audero, Kini Nadeo Argawinata Berpeluang Jadi Penyelamat Timnas Indonesia
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Titiek Soeharto Juara di Kejuaraan Menembak Polri, Diberi Piala oleh Kapolri
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.