New Delhi: Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengundurkan diri pada Sabtu, 25 Juli 2026, di tengah gelombang protes nasional yang menuntut pertanggungjawabannya atas serangkaian kebocoran soal ujian.
Pengunduran diri tersebut disambut sorak-sorai para demonstran yang telah berunjuk rasa selama beberapa hari terakhir.
Pradhan mengumumkan keputusannya melalui unggahan di platform X, beberapa jam sebelum pemimpin demonstran dijadwalkan menggelar putaran kedua perundingan dengan pemerintah federal. Pengumuman itu juga disampaikan ketika polisi membubarkan massa di kawasan Jantar Mantar, New Delhi, menggunakan gas air mata.
"Dengan mempertimbangkan situasi yang terjadi di Jantar Mantar dan di seluruh negeri, agar kekuatan anti-nasional tidak memanfaatkan keadaan ini, saya telah mengirimkan surat pengunduran diri kepada Perdana Menteri Narendra Modi," tulis Pradhan, seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia mengatakan menghormati aspirasi, perasaan, dan harapan generasi muda India. Menurutnya, ia tidak ingin puluhan ribu mahasiswa yang menuntut pengunduran dirinya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang disebutnya sebagai "kekuatan anti-nasional" atau terjerat persoalan hukum sehingga mengganggu pendidikan dan masa depan mereka.
Kabar pengunduran diri Pradhan langsung disambut sorak-sorai ribuan demonstran yang berkumpul di kawasan Jantar Mantar maupun di sejumlah kota lain.
Aksi protes dipelopori oleh gerakan Cockroach Janta Party (CJP), sebuah gerakan satir politik yang muncul sebagai wadah bagi kekecewaan kalangan muda terhadap pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi, terutama terkait dugaan kebocoran soal ujian, minimnya lapangan pekerjaan, serta isu korupsi dan akuntabilitas pemerintah. Kemenangan 'Kecoak' Di media sosial X, CJP menulis, "Kecoak menang... Demokrasi menang!"
Sebelum pengunduran diri Pradhan, pemerintah telah membatasi akses internet di sejumlah wilayah ibu kota serta menutup akses ke 18 stasiun metro untuk membatasi mobilisasi massa.
Ketegangan meningkat sejak awal pekan setelah polisi membubarkan aksi demonstrasi menuju parlemen dengan pentungan dan gas air mata. Kelompok demonstran juga menuduh aparat menggunakan peluru pelet untuk membubarkan massa, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Pemerintah dan perwakilan demonstran sebelumnya telah menggelar dialog pada Jumat. Saat itu pemerintah meminta waktu hingga Sabtu sore untuk menanggapi tuntutan agar Pradhan mengundurkan diri.
Selain meminta pencopotan Menteri Pendidikan, demonstran juga menuntut agar peserta aksi tidak dijerat tuntutan pidana serta meminta kompensasi bagi keluarga mahasiswa yang meninggal dunia akibat bunuh diri setelah kasus kebocoran soal ujian.
Gelombang demonstrasi ini menjadi salah satu bentuk penentangan publik terbesar terhadap pemerintahan Modi dalam beberapa tahun terakhir dan mencerminkan meningkatnya keresahan masyarakat terkait lapangan kerja, korupsi, dan akuntabilitas pemerintah.
Baca juga: Gen Z India Buat Gerakan Satir 'Partai Kecoak', Simak Asal-Usulnya




