Lampung Selatan (ANTARA) - Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, erupsi sebanyak dua kali pada Sabtu sore, menurut informasi yang disiarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa Suwarno, Sabtu, membenarkan bahwa PVMBG mencatat sebanyak dua kali erupsi dengan ketinggian kolom abu bervariasi.
“Iya benar, hari ini, Sabtu, telah terjadi dua kali erupsi, erupsi pertama pukul 16.52 WIB dan yang kedua pukul 18.00 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut,” ujar dia.
Ia menjelaskan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih bersifat fluktuatif sehingga potensi erupsi susulan masih dapat terjadi. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar Selat Sunda diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan Badan Geologi melalui PVMBG.
Baca juga: PVMBG minta warga pantau informasi resmi terkait Gunung Anak Krakatau
Menurutnya, peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi pada awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Meski demikian, aktivitas gunung api tersebut masih berada dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.
Oleh karena itu, masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau tidak beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi guna menghindari risiko yang dapat ditimbulkan akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.
“Gunung Anak Krakatau masih dalam stasiun Level II, atau Waspada, nelayan dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati dalam radius dua kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau,” ucapnya.
Selain itu, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi cuaca sebelum melaut.
Baca juga: PVMBG sebut Gunung Anak Krakatau 19 kali erupsi pada Juni-Juli 2026
Dia juga menegaskan bahwa masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan oleh lembaga berwenang.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa Suwarno, Sabtu, membenarkan bahwa PVMBG mencatat sebanyak dua kali erupsi dengan ketinggian kolom abu bervariasi.
“Iya benar, hari ini, Sabtu, telah terjadi dua kali erupsi, erupsi pertama pukul 16.52 WIB dan yang kedua pukul 18.00 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke barat laut,” ujar dia.
Ia menjelaskan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih bersifat fluktuatif sehingga potensi erupsi susulan masih dapat terjadi. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar Selat Sunda diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan Badan Geologi melalui PVMBG.
Baca juga: PVMBG minta warga pantau informasi resmi terkait Gunung Anak Krakatau
Menurutnya, peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi pada awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Meski demikian, aktivitas gunung api tersebut masih berada dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.
Oleh karena itu, masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau tidak beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi guna menghindari risiko yang dapat ditimbulkan akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.
“Gunung Anak Krakatau masih dalam stasiun Level II, atau Waspada, nelayan dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati dalam radius dua kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau,” ucapnya.
Selain itu, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi cuaca sebelum melaut.
Baca juga: PVMBG sebut Gunung Anak Krakatau 19 kali erupsi pada Juni-Juli 2026
Dia juga menegaskan bahwa masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan oleh lembaga berwenang.





