REPUBLIKA.CO.ID, Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menyatakan bahwa hampir seluruh infrastruktur militer AS di Erbil, Irak, telah hancur akibat serangan terbaru yang dilancarkan oleh IRGC. Drone kiwari Iran disebut jadi andalan serangan balasan tersebut.
Hal ini disampaikannya kepada televisi pemerintah Iran sebagaimana dilaporkan oleh Anadolu Agency. Akraminia mengklaim bahwa Teheran kini sedang mengerahkan drone serang jenis baru yang lebih canggih dan memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dibandingkan drone Arash-2.
Baca Juga
3 Analisis Ungkap Bagaimana Perang dengan Iran Ubah Perhitungan Kekuatan Amerika Serikat?
Apakah China dan Rusia Bantu Iran Serang Pangkalan AS? Ini Kata Media Barat
Iran Bangun Kembali Aset-Aset Militer yang Dibom Musuh Lebih Cepat dari yang Diperkirakan
Ia menambahkan bahwa Iran telah menimbulkan kerusakan parah pada pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut, seraya mengklaim bahwa banyak di antaranya telah kehilangan sebagian besar kemampuan operasional mereka. Juru bicara tersebut juga menegaskan bahwa Iran siap melanjutkan operasi militer "hingga pihak Amerika menyadari bahwa mereka tidak dapat memaksakan kehendak mereka terhadap bangsa Iran melalui agresi.”
Seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan bahwa serangan Iran menghancurkan pesawat-pesawat AS yang berada di darat di berbagai pangkalan di kawasan tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Selain itu, 17 pesawat nirawak (drone) pengintai dan operasional, satu jet tempur F-15 di dalam hanggar, satu pesawat P-8, satu pesawat angkut C-17, serta 8 pesawat pengisi bahan bakar juga hancur," ujar juru bicara tersebut dalam pernyataan yang diterbitkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Fars.
Setelah 13 hari membombardir Iran, AS akhirnya berhenti menyerang semalam. Dalam dua pekan serangan AS yang melanggar gencatan senjata itu, sedikitnya 55 warga Iran meninggal.
Sementara Pentagon telah menurunkan jumlah personel militer Amerika yang secara resmi tercatat tewas dalam perang dengan Iran, mengubah angka korban dari 18 menjadi 14 di tengah meningkatnya pertanyaan mengenai cara pemerintahan Trump melaporkan korban jiwa di kalangan militer.
Menurut laporan yang diterbitkan di New York Times pada hari Rabu, situs web Departemen Pertahanan yang memuat data korban mencatat 18 personel militer AS tewas selama perang tersebut. Pada Kamis pagi, angka tersebut telah dikurangi menjadi 14, dengan jumlah personel yang diklasifikasikan tewas akibat tindakan musuh turun dari 11 menjadi tujuh orang.
Tiga pejabat militer AS mengatakan kepada New York Times bahwa perubahan tersebut mencerminkan keputusan pemerintah untuk mengeluarkan empat anggota militer yang tewas pada akhir pekan sebelumnya dari daftar korban perang dengan Iran. Tiga dari prajurit tersebut tewas di Yordania, sementara satu lainnya meninggal di Irak utara.
Menurut para pejabat tersebut, keempat kematian itu tidak disertakan karena terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata pada bulan April, meskipun pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran telah kembali terjadi sejak saat itu.
Pentagon Menyalahkan ‘Anomali’ Situs Web Penjabat Sekretaris Pers Pentagon, Joel Valdez, memberikan penjelasan berbeda; ia mengaitkan perubahan angka tersebut dengan "gangguan data sementara" dan "anomali situs." Valdez mengatakan bahwa pihaknya sedang berupaya mengatasi masalah tersebut dan tetap berkomitmen untuk memastikan keakuratan pelaporan jumlah korban.
"Departemen telah berupaya menjelaskan anomali tersebut kepada New York Times sebelum berita diterbitkan, namun karena kurangnya pemahaman mereka mengenai hal ini, mereka tetap menulis berita yang keliru," ujarnya.
Kendati demikian, pada hari Kamis, Trump tetap menyebutkan angka awal sebanyak 18 kematian. Saat membandingkan jumlah korban saat ini dengan korban dalam perang-perang AS sebelumnya, Trump mengatakan bahwa satu kematian saja "sudah terlalu banyak, namun jumlahnya mencapai 18."
Pernyataan yang saling bertentangan ini menimbulkan ketidakjelasan mengenai apakah angka yang lebih rendah dari Pentagon tersebut merupakan kesalahan teknis sementara atau perubahan yang disengaja pada kriteria yang digunakan untuk mengklasifikasikan kematian yang terkait dengan perang.