Harga emas dunia melemah pada penutupan perdagangan Jumat (24/7), seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi. Kondisi tersebut memicu ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk meredam tekanan inflasi.
Mengutip Bloomberg, harga emas batangan sempat anjlok hingga 2,2 persen dan diperdagangkan di kisaran USD 4.050 per troy ons. Penurunan ini memangkas penguatan yang terjadi dalam dua hari sebelumnya, yang terutama ditopang aksi beli saat harga melemah (dip buying).
Analis Strategi Komoditas ING Bank N/V, Ewa Manthey, menilai lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah memperburuk prospek logam mulia tersebut.
“Kenaikan harga minyak yang terkait dengan konflik di Timur Tengah memperumit prospek emas,” kata Manthey.
“Dampak inflasi dari kenaikan harga energi dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga, sehingga mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan,” imbuhnya.
Sentimen negatif juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan meminta Iran bertanggung jawab atas serangan lanjutan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Pernyataan itu muncul setelah kelompok tersebut menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi.
Di tengah situasi tersebut, harga minyak Brent menembus USD 100 per barel. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun juga melanjutkan kenaikan untuk hari keenam berturut-turut.
Dari sisi data ekonomi, klaim awal tunjangan pengangguran di AS turun ke level terendah sejak 1969. Kombinasi pasar tenaga kerja yang masih kuat dan kenaikan harga energi memperbesar peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar swap kini memperkirakan peluang sebesar 36 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Pasar juga telah memperhitungkan sedikitnya satu kali kenaikan suku bunga pada September, dengan kemungkinan kenaikan kedua sebelum akhir tahun.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga emas bergerak di sekitar USD 4.000 per troy ons yang dinilai sebagai level dukungan (support) penting. Sejak akhir Februari, harga emas telah turun sekitar seperempat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Penurunan tersebut mengakhiri tren kenaikan yang berlangsung selama beberapa tahun, setelah sebelumnya harga emas sempat mencetak rekor mendekati USD 5.600 per troy ons.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai penguatan emas pada awal pekan ini tergolong tidak biasa mengingat lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Menurutnya, kenaikan harga dalam dua hari terakhir lebih banyak dipicu aksi penutupan posisi jual (short covering) dan pembelian saat harga turun (dip buying), bukan karena masuknya pembelian baru secara agresif.
Harga emas spot turun 1,9 persen menjadi USD 4.050,06 per troy ons. Harga perak ikut merosot 3,7 persen menjadi USD 57,55 per troy ons. Sementara itu, harga platinum dan paladium juga melemah, sedangkan Bloomberg Dollar Spot Index menguat 0,3 persen.





