Suasana Car Free Day (CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (26/7), tak hanya diramaikan warga yang berolahraga. Di salah satu sudut kawasan itu, tawa pengunjung terdengar riuh saat mereka memainkan congklak, lompat karet, bekel, hingga kelereng.
Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa bergantian mencoba permainan tradisional yang disediakan Komunitas Bermain.
Banyak di antara mereka mengaku terakhir kali memainkan permainan tersebut saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Momen itu pun menjadi ajang bernostalgia di tengah hiruk-pikuk ibu kota.
Salah satunya dirasakan Aftasya Ramadianti (22), warga Mampang, Jakarta Selatan. Dian, sapaan akrabnya, datang ke CFD sekitar pukul 07.10 WIB menggunakan Transjakarta.
Ia mengaku baru mengetahui adanya area permainan tradisional di CFD. Begitu mencoba congklak, kenangan masa kecilnya langsung muncul kembali.
“Seru. Jadi mengingat permainan zaman dulu,” kata Dian kepada kumparan.
Menurutnya, permainan tradisional seperti congklak kini semakin sulit ditemui. Karena itu, ia berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan.
“Kalau jujur saya lebih suka permainan tradisional seperti ini. Kalau main handphone bisa bikin kecanduan dan terlalu lama melihat layar juga bikin pusing. Permainan tradisional lebih menyenangkan,” ujarnya.
Setelah puas bermain congklak, Dian berencana mencoba permainan bekel yang juga tersedia di lokasi.
Hal senada disampaikan Nabila Aulia (21). Ia awalnya tidak mengetahui adanya permainan tradisional di CFD dan baru ikut bermain setelah diajak temannya.
Terakhir kali ia memainkan congklak pun sudah cukup lama, yakni saat masih SD.
“Saya lebih memilih permainan tradisional. Permainan seperti ini bisa mengurangi penggunaan handphone dan membuat pikiran terasa lebih tenang,” ucap Nabila.
Ia berharap kegiatan serupa tidak hanya digelar di CFD Rasuna Said, tetapi juga diperluas ke ruang publik lain.
“Semoga kegiatan seperti ini tidak hanya ada di sini, tetapi juga diadakan di GBK atau tempat-tempat lain sehingga masyarakat bisa berolahraga sekaligus memainkan permainan tradisional dan bernostalgia,” katanya.
Sementara bagi Adis (34), warga Depok, keberadaan permainan tradisional di CFD menjadi kesempatan mengenalkan budaya permainan masa kecil kepada anaknya.
Ia mengaku awalnya tidak mengetahui adanya area permainan tradisional. Namun, setelah melihat congklak, ia langsung mengajak sang anak untuk ikut bermain.
“Menurut saya ini menarik, jadi saya langsung mengajak anak bermain congklak sekaligus mengenalkan permainan tradisional. Anak-anak sekarang, terutama Generasi Alpha, sudah banyak terpapar gadget,” ujar Adis.
Pagi itu, ia menghabiskan waktu di CFD dengan bersepeda bersama anak, berlari, lalu bermain congklak. Menurutnya, permainan tradisional memiliki nilai penting karena mulai asing bagi generasi muda.
“Adanya kegiatan seperti ini sangat membantu mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak Generasi Alpha sekaligus melestarikannya,” katanya.
Adis bahkan berharap pemerintah lebih sering mengadakan festival maupun perlombaan permainan tradisional hingga tingkat nasional agar semakin banyak anak mengenalnya.
Semangat yang sama juga dirasakan Akbar (14), warga Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Ia datang ke CFD sejak sebelum pukul 05.00 WIB dengan mengayuh sepeda dari rumah.
Meski baru pertama kali mengikuti permainan tradisional bersama Komunitas Bermain, Akbar mengaku langsung menikmati suasananya.
“Seru ya. Ada banyak orang juga, ramai. Ya pokoknya serulah,” katanya.
Akbar sempat mencoba permainan lompat karet dan kelereng. Selanjutnya, ia berencana mencari teman untuk bermain congklak.
Menurutnya, kehadiran permainan tradisional di tengah kawasan perkotaan menghadirkan suasana yang berbeda.
“Bagus aja sih, kayak ngingetin sama masa kecil gitu. Jadi ya bagus deh digelar begitu,” ujarnya.
Ia pun berharap kegiatan seperti itu bisa rutin digelar agar semakin banyak orang tertarik datang ke CFD.
Di balik ramainya warga yang bermain, ada Komunitas Bermain yang menjadi penggagas kegiatan tersebut. Co-Founder Komunitas Bermain, Iqbal (27), mengatakan komunitas itu berdiri sejak Agustus 2024 dengan tujuan menghadirkan ruang bermain yang inklusif bagi siapa saja.
“Awalnya inisiasi itu lebih ke gimana caranya kita menciptakan wadah yang inklusif, bisa buat siapa aja. Semua umur, semua ras, semua agama, tanpa memandang latar belakang. Akhirnya kepikiran menggabungkan permainan tradisional sebagai mediumnya dan Komunitas Bermain sebagai wadahnya,” kata Iqbal.
Komunitas Bermain menggelar kegiatan dua kali setiap pekan, yakni Jumat malam di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Minggu pagi di CFD yang lokasinya bergantian antara Sudirman-Thamrin dan Rasuna Said.
Seluruh kegiatan tersebut terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.
“Siapa pun boleh gabung. Kita gratis, tinggal datang aja. Semua alat sudah ada dari kita,” ujar Iqbal.
Sejauh ini, komunitas tersebut telah memainkan sekitar 30 jenis permainan tradisional. Namun, di CFD mereka menyesuaikan dengan kondisi lokasi sehingga permainan yang dibawa umumnya congklak, bekel, dan lompat karet.
Antusiasme masyarakat, kata Iqbal, terus meningkat. Pada kegiatan Jumat malam di GBK, jumlah peserta bahkan pernah mencapai sekitar 1.400 orang dalam satu pertemuan. Sementara anggota Komunitas Bermain di wilayah Jabodetabek kini telah menembus lebih dari 10.000 orang.





