Kaki-kaki liat dibelit giring-giring berbahan logam berbaur di antara ratusan pasang kaki yang menghentak tanah. Gerak lincah berpola membuat irama giring-giring senada. Dari sangat pelan, ritme menjadi tempo tinggi, lalu berakhir klimaks tegas.
Berbalut kain tenunan, untuk laki disebut nowing dan perempuan disebut kewatek, tarian masal dipentaskan di bawah langit malam berembun. Berbentuk lingkaran, berlapis-lapis. Mereka saling pegangan tangan. Pria wanita, tua muda melebur. Sambil menari, syair kuno dalam bahasa daerah dilantunkan dengan irama giring-giring jadi melodinya.
"Tana nua nebon, buta betek walan mara, tana betok eke luga, tana tadon Adonara. Jadi worak tite ata dike. (Pada mulanya adalah lumpur yang mengering. Muncul tana purba Adonara yang melahirkan manusia penghuni penuh kebajikan)," begitu potongan syair.
Tarian massal ini namanya sole oha. Orang-orang melingkar sambil melantunkan koda atau sabda adat yang semuanya berisi tentang pesan kehidupan. Sole oha ini dimainkan ratusan masyarakat diaspora Adonara di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (25/7/2026) malam.
Sole oha diadakan untuk memeriahkan pelantikan Ikatan Keluarga Adonara (IKA) di Kota Kupang. Paguyuban yang dibentuk tahun 1972 itu kini menjadi wadah penyatu bagi sekitar 12.000 jiwa diaspora Adonara yang menetap di Kupang.
IKA Kupang kini dipimpin ketua Marius Samon Ago dan sekretaris Ronald Raya Todo Boli. Hadir dalam acara di antaranya Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wali Kota Kupang Christian Widodo.
Sabtu malam itu, sabda adat bersahutan di langit Kota Kupang. Setiap pesan saling menguatkan pesan sebelumnya. Mulai dari kisah penciptaan tanah Adonara dalam sejarah tutur, keunikannya, keistimewaan, hingga Adonara yang sampai hari ini masih diwarnai konflik berdarah.
"Puin taan uhin, gahan taan kahan ehan (kesatuan terikat erat dalam persaudaraan yang kokoh)," begitu kutipan sabda adat yang berulang kali dilontarkan para maestro sole oha. Sabda yang diyakini lahir dari Tuhan melalui para leluhur dan diwariskan turun-temurun.
Sebanyak sepuluh orang maestro sole oha sengaja didatangkan dari Adonara ke Kupang untuk memandu jalanya sole oha. Mereka berbagi tugas, mengatur kerapian lingkaran massa hingga saling berbalas sabda adat. Kebanyakan Mereka berusia 60 tahun ke atas.
Bagi para maestro, sole oha jadi serana untuk mempersatukan orang Adonara, baik di tanah Adonara maupun di perantauan. Dari 122 desa di Adonara, mereka sudah masuk sampai ke 88 desa selama empat tahun terakhir. Bahkan, menemui diaspora Adonara di berbagai daerah di Indonesia.
"Kami akan berkunjung terus ke desa-desa di Adonara maupun ke daerah lain. Misi kami adalah menyatukan dan menyebarkan pesan-pesan kebaikan bagi orang Adonara," kata Bura Luli, koordinator maestro sole oha yang sehari-hari bekerja sebagai guru salah satu sekolah swasta di Adonara.
Serial Artikel
Konflik Berdarah di Adonara dan Julukan Pulau Pembunuh, Mengapa Demikian?
Penentuan batas wilayah dan pengangkatan raja-raja kecil merupakan warisan kolonial yang bisa menjadi bom waktu konflik berdarah di Adonara.
Adonara merupakan pulau dengan luas sekitar 509 kilometer persegi. Letaknya di Kabupaten Flores Timur. Pulau vulkanis itu kini dihuni sekitar 110.000 jiwa. Sejarah masa lalu Adonara penuh dengan kekerasan. Sampai saat ini, konflik berdarah antara kampung serta pembunuhan sadis masih sering terjadi. Sengketa lahan jadi penyebab paling dominan.
Bura pun menyinggung tentang konflik berdarah yang belakangan terjadi di Adonara. Menurutnya, ada yang hilang dalam tantanan masyarakat, terutama pesan-pesan kehidupan tentang atadiken Adonara. Atadiken berarti manusia yang penuh dengan kebajikan.
Seperti diberitakan sebelumnya, konflik yang dilatarbelakangi sengketa lahan antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina di Kecamatan Adonara Timur tak kunjung padam. Pada 18 Juli 2026 lalu, tiga orang dilaporkan tewas, puluhan orang terluka, dan puluhan rumah dibakar.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan, diaspora Adonara memiliki energi yang besar untuk membangun daerah. Banyak tokoh asal Adonara tercatat punya kontribusi besar bagi bangsa. Salah satunya Frans Lebu Raya, gubernur NTT 2008-2018.
Ia juga mengajak orang Adonara untuk menghapus stigma yang melekat selama bertahun-tahun sebagai daerah yang rawan kekerasan berdarah. "Orang Adonara harus bisa bukti itu dengan menjaga perdamaian. Sebab ke depan, pemerintah akan mendorong Adonara sebagai pusat pertumbuhan," kata Melkiades.
Dalam catatan Kompas, pandangan orang mengenai Adonara yang terkesan seram sebagaimana catatan antropolog Eropa, Ernst Vatter. Dalam bukunya yang berjudul Ata Kiwan, Ernst menyebutkan bahwa Adonara adalah pulaunya para pembunuh. Ernst menemukan hal itu saat melakukan penelitian di sana pada tahun 1930-an.
Kala itu, di Larantuka yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Flores Timur, Ernst menemukan banyak narapidana kasus pembunuhan yang datang menjalani persidangan di pengadilan setempat. Para terdakwa membunuh dalam kasus sengketa lahan.
Bagi masyarakat Adonara, sejengkal tanah akan dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Ada anggapan bahwa perang adalah cara untuk membuktikan siapa yang benar dan salah. Kebenaran berada pada pihak yang menang.
Kini berbagai cara dilakukan untuk meredam konflik Adonara yang menyita perhatian hingga pemerintah pusat. Selain rekonsiliasi yang difasilitasi pemerintah daerah, pendekatan budaya terus diperkuat. Salah satunya sole oha bersama IKA Kupang.
”Saat sabda adat dilantunkan ke langit Kota Kupang ini, terselip doa dari kami, damailah Adonara-ku,” kata Marius Samon Ago, Ketua IKA Kupang.
Serial Artikel
Kisah Toleransi dari Pulau Adonara hingga Kota Daeng...
Adonara oleh antropolog Eropa pernah dijuluki sebagai pulaunya para pembunuh. Kini, pulau di Nusa Tenggara Timur itu menggemakan pesan toleransi ke segala ujung bumi.





