Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menunda rencana memperluas agresi militer terhadap Iran setelah muncul kekhawatiran bahwa eskalasi serangan dapat menguras cadangan rudal pertahanan udara Amerika Serikat yang semakin menipis.
Penundaan Dipicu Kekhawatiran MiliterLaporan mengenai penundaan tersebut pertama kali disampaikan harian The New York Times dengan mengutip sejumlah sumber internal.
Sebelumnya, Axios melaporkan militer Amerika Serikat masih mematangkan rencana operasi militer berskala besar terhadap Iran meski Trump belum mengeluarkan perintah resmi.
Menurut Axios, Trump telah menginstruksikan penghentian serangan baru terhadap Iran sejak Jumat (25/7), sehingga rangkaian serangan yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut dihentikan sementara.
The New York Times menyebut keputusan itu didasari kekhawatiran Pentagon terhadap menipisnya stok rudal pencegat Patriot dan amunisi pertahanan udara lainnya yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah.
Para pejabat Amerika Serikat juga disebut mengkhawatirkan dampak perluasan konflik terhadap hubungan dengan sekutu di Teluk Persia, kondisi ekonomi global, krisis energi, dan meningkatnya arus migrasi.
Pertimbangan Strategis Pemerintah ASKeputusan tersebut diambil setelah Trump menggelar pertemuan tertutup dengan para penasihat dan pejabat senior pemerintah pada Jumat.
Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine secara internal memperingatkan bahwa operasi militer skala besar masih memungkinkan dilakukan, namun berisiko menguras persediaan rudal pencegat milik militer Amerika Serikat.
Laporan itu juga menyebut sebagian besar lingkaran dalam pemerintahan Amerika Serikat menilai rencana eskalasi serangan bukan langkah yang bijaksana.
Salah seorang pejabat bahkan meragukan serangan baru dapat membawa Iran kembali ke meja perundingan dan justru berpotensi memperkuat persatuan rakyat Iran dalam menghadapi ancaman dari luar.




