Ahli Gizi Ungkap Bahaya Gula Tambahan Berlebih bagi Kesehatan Usus

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Mengonsumsi gula tambahan secara berlebihan dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus yang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pencernaan, peradangan, hingga masalah metabolisme.

Kara Hochreiter ahli gizi menjelaskan, gula tambahan merupakan gula yang ditambahkan ke dalam makanan selama proses pengolahan, seperti gula tebu, dekstrosa, madu, sirup mapel, sirup beras merah, maupun sirup jagung.

Mengutip laporan Eating Well, Hochreiter mengatakan konsumsi gula tambahan secara konsisten dalam jumlah berlebihan dapat mengubah keseimbangan mikroorganisme di dalam usus.

“Konsumsi gula tambahan secara berlebihan dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus sehingga mikroba yang kurang bermanfaat berkembang dan mengalahkan bakteri baik,” jelas Hochreiter.

Menurutnya, ketidakseimbangan mikrobioma usus atau disbiosis dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari masalah pencernaan, peradangan kronis, gangguan metabolisme, hingga perubahan suasana hati.

Jessie Wong ahli gizi juga menyebut asupan gula tambahan yang tinggi secara terus-menerus dapat mengubah lingkungan mikrobioma usus.

“Penelitian menunjukkan gula tambahan dapat memperkaya bakteri yang memanfaatkan gula sekaligus mengurangi bakteri yang menghasilkan asam lemak rantai pendek yang bermanfaat seperti butirat,” ujarnya.

Butirat merupakan salah satu asam lemak rantai pendek yang berfungsi menjaga kesehatan sel-sel pelapis usus.

Senyawa ini juga diketahui berperan dalam menurunkan peradangan serta mendukung sistem kekebalan tubuh dan kesehatan jantung.

Wong menjelaskan, semakin tinggi konsumsi gula tambahan, semakin sedikit produksi asam lemak rantai pendek. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko disbiosis serta memperbesar permeabilitas usus atau leaky gut.

Selain gula tambahan, pola makan yang didominasi makanan ultra-olahan juga dinilai berdampak buruk terhadap kesehatan usus. Produk makanan jenis ini umumnya mengandung gula tambahan tinggi, tetapi rendah serat.

“Gula tambahan berlebih dari makanan, terutama minuman manis dan makanan ultra-olahan, sering kali kekurangan serat, air, mikronutrien, dan senyawa protektif dari tumbuhan yang membantu menyehatkan mikrobioma usus,” kata Wong.

Ketika makanan tinggi gula menggantikan konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan sumber serat lainnya, bakteri baik di dalam usus kehilangan nutrisi yang dibutuhkan untuk berkembang.

Akibatnya, keragaman mikrobioma usus dapat menurun sehingga keseimbangan ekosistem mikroorganisme di saluran pencernaan ikut terganggu.

Wong mengingatkan bahwa kondisi mikrobioma setiap orang berbeda sehingga respons tubuh terhadap gula tambahan juga dapat bervariasi.

Meski demikian, ia menyarankan masyarakat membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula tambahan serta menerapkan pola makan bergizi seimbang untuk menjaga kesehatan usus dan tubuh secara keseluruhan.

Pola makan yang dianjurkan meliputi konsumsi buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan berbagai makanan tinggi serat.

Jika ingin mengonsumsi makanan manis, buah segar atau buah beku dapat menjadi pilihan yang lebih sehat karena mengandung serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan usus. (ant/saf/ham)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kompany Kalem dengan Kekalahan Bayern Munich di Laga Pembuka Pramusim
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Respons Kocak Catheez saat Ditanya Alasannya Mau Debut Main Series
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kekeringan Landa Kota Serang, Warga Antre Bantuan Air Bersih | KOMPAS SIANG
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Kemenhut amankan tersangka pengangkut 598 kayu ilegal di Sumut
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Mitigasi Kekeringan Nasional 2026, Kementan Siapkan 56 Ribu Unit Pompa Air
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.