Pertunjukan “Galung”: Menggugat Retakan Tanah di Tengah Laju Pembangunan

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

Sawah-sawah menyusut. Laju pembangunan terus menggerus lahan pertanian di Makassar. Di tengah kepungan beton, sebuah pertunjukan teater hadir menjadi suara bagi petani yang kian terpinggirkan.

ILHAM WASI
Batua

Di bawah temaram lampu malam di kawasan Batua, Kota Makassar, pemandangan yang kontras tersaji. Di sela-sela deretan perumahan dan fondasi bangunan yang terus merangsek, sepetak sawah aktif berubah menjadi panggung pertunjukan yang sunyi sekaligus menggugah.

Sabtu (25/7/2026) malam itu, kelompok seni mementaskan “Galung: Tanah, Musim, dan Retakan-retakannya”, pertunjukan teater eksperimental yang mengangkat kegelisahan atas menyusutnya ruang hidup pertanian di tengah ekspansi pembangunan perkotaan.

Perjalanan pertunjukan dimulai sejak penonton melangkah dari gerbang perumahan. Mereka tidak langsung disuguhi panggung, melainkan diajak menyusuri ruang yang menjadi bagian dari cerita. Iringan dua gendang dan alunan pui-pui memecah heningnya malam. Berjalan melewati fondasi bangunan, menyusuri pematang sawah yang dipenuhi ilalang, hingga berhenti di sebuah pohon diterangi lampu biru yang menaungi sebuah sumur tua.

Di bawah pohon itu, enam aktor—dua laki-laki dan empat perempuan—memulai adegan. Diiringi tiga pemusik, mereka menimba air dan menuangkannya ke dalam kendi-kendi tanah liat. Penonton berdiri melingkar, menyaksikan setiap gerak yang perlahan membawa mereka menuju hamparan sawah, panggung utama pertunjukan malam itu.

Di tengah sawah berdiri sejumlah tiang dengan potongan-potongan seng yang bergantung. Saat diterpa angin, seng-seng itu berdenting, menyerupai alat pengusir burung yang lazim digunakan petani. Tak jauh dari sana tersusun enam alat perontok padi tradisional dari kayu yang dalam bahasa Makassar dikenal sebagai patappasa. Seluruh benda itu bukan sekadar properti, melainkan bagian dari ingatan kolektif masyarakat agraris yang coba dihadirkan kembali.

Berbeda dari teater konvensional, “Galung” menggunakan konsep site-specific, yakni menjadikan ruang asli sebagai bagian dari dramaturgi. Penonton tidak duduk menyaksikan pertunjukan dari kursi, melainkan bergerak mengikuti alur cerita. Rumah warga, fondasi bangunan, sumur tua, pematang, hingga sawah menjadi elemen dramatik yang menyatu dengan pertunjukan.

Pertunjukan ini disutradarai Annisa Effendi dengan naskah karya Akhdan Abizar. Tim produksinya melibatkan dramaturg Ilham, manajer produksi Inna Hakim, stage manager Aan Aras, tim artistik Poy, Ahmed, dan Zulltz, visual designer Muhadir, hospitality Adrian, koreografer Boby, serta performer: Boby, Akhdan, Inna, Bella, Uli, dan Nanda, pemusik Vladimir, Ahyar, dan Beds, serta penanggung jawab keuangan Cia.

Bagi Annisa Effendi, pilihan menjadikan sawah sebagai panggung bukan semata pertimbangan artistik.

“Kami memilih sawah karena menganggap ruang ini menyimpan ingatan kolektif masyarakat, terutama kenangan masa kecil ketika berinteraksi dengan sawah. Melalui pertunjukan ini kami ingin membangkitkan kembali ingatan tersebut, sekaligus mengungkap retakan-retakan yang terjadi pada lahan pertanian di Kota Makassar,” ujarnya.

Pertunjukan dibangun melalui tiga situs utama, yakni Tanah yang Terbangun, Tubuh dan Retakan, serta Doa yang Menguap.

Menurut Annisa, seluruh elemen ruang sengaja dipertahankan sebagaimana adanya agar penonton dapat merasakan langsung benturan antara ruang pertanian dan laju pembangunan.

“Kalau melihat kondisi lokasi, sawah ini berada tepat di samping perumahan dan dikelilingi pembangunan yang semakin padat. Banyak beton dan fondasi baru yang mulai mengambil alih lahan. Situasi itulah yang kami respons melalui pertunjukan ini,” ujar alumni Sastra Indonesia Unhas ini.

Kata dia, salah satu simbol yang menonjol dalam pertunjukan ini adalah patappasa dan, alat tradisional pengusir burung yang masih banyak dijumpai di persawahan Makassar.

Menurut Annisa, kehadiran benda tersebut merupakan hasil riset lapangan. Pertunjukan ini juga sudah dipentaskan di Maros, Sabtu, 11 Juli 2026. Riset dilakukan sejak Februari 2026 di Maros dan Makassar.

Dari riset itu pula, tim menemukan kenyataan bahwa sebagian petani Makassar masih memanen padi menggunakan sabit.

Bukan karena menolak modernisasi, melainkan karena traktor sulit memasuki area persawahan. Jalan menuju sawah telah dipersempit, bahkan terputus oleh fondasi dan pembangunan permukiman yang terus meluas.

Realitas itulah yang diterjemahkan ke dalam berbagai adegan simbolik. Tokoh-tokoh seperti burung, tikus, dan sapi menghadirkan gambaran tentang ekosistem yang perlahan kehilangan ruang hidup akibat perubahan lanskap.

Krisis Regenerasi

Naskah karya Akhdan Abizar tidak berhenti pada persoalan alih fungsi lahan. Ia juga menyoroti krisis regenerasi petani.

Pertunjukan menggambarkan kegamangan keluarga petani ketika generasi muda enggan melanjutkan pekerjaan di sawah. Mereka memilih bekerja di sektor industri atau menjadi buruh demi penghasilan yang dianggap lebih menjanjikan.

Sawah pun perlahan berubah makna, dari ruang kehidupan menjadi aset yang sewaktu-waktu dapat dijual kepada pengembang.

Kapolsek Manggala, Kompol Semuel To’longan, yang hadir menyaksikan pertunjukan memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut.

Menurutnya, “Galung” tidak hanya menjadi ruang kreativitas bagi generasi muda, tetapi juga menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat untuk menikmati seni di lingkungan mereka sendiri.

“Ini menjadi wadah kreativitas yang sangat baik. Kegiatannya sangat kreatif dan diharapkan bisa terus diadakan di tempat-tempat lain. Suasananya juga bagus karena masyarakat dapat menikmati pertunjukan secara langsung di lingkungan mereka,” ujarnya. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kuasa Hukum Richard Lee Soroti Kejanggalan Surat Kuasa Pelapor di Persidangan
• 23 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Hamzah Sheeraz Pertahankan Gelar Juara Dunia WBO Usai Taklukkan Simon Zachenhuber
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Dari PRSU Hingga Kursi Kepemimpinan: Kisah "Cinta Tukang Parkir'
• 19 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Mobil Kijang Terbakar Usai Isi Bensin di SPBU Tanjung Barat Jaksel
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Menko Yusril soal Sayembara Begal: Penegakan Hukum Tugas Aparat
• 9 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.