Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunda serangan militer terhadap Iran untuk malam kedua berturut-turut guna memberikan lebih banyak waktu bagi upaya diplomasi, ujar Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, 26 Juli 2026, Waltz mengatakan Trump sengaja memberikan ruang bagi proses perundingan yang sedang berlangsung.
"Presiden memberi kesempatan bagi pembicaraan. Dia memberikan sedikit ruang bagi diplomasi," kata Waltz, seperti dikutip dari BBC.
Di saat yang sama, juru bicara Angkatan Darat Iran menyatakan Teheran juga telah menghentikan serangan balasan di kawasan sebagai respons atas jeda operasi militer tersebut.
Penghentian sementara itu terjadi setelah hampir dua pekan kedua negara saling melancarkan serangan setiap hari, yang secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang sebelumnya dicapai pada Juni.
Meski demikian, Waltz menegaskan seluruh opsi tetap tersedia bagi Presiden Trump.
Saat ditanya apakah Trump memutuskan untuk tidak meningkatkan operasi militer, Waltz mengatakan, "Saya tidak akan mengatakan sejauh itu. Presiden tetap membuka semua opsi."
Ia juga membantah laporan The New York Times yang menyebut sejumlah pejabat pemerintahan mengkhawatirkan perluasan operasi militer dapat menguras stok rudal pertahanan udara Amerika Serikat.
Menurut Waltz, militer AS masih memiliki seluruh kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi militer secara efektif. Perkembangan di Selat Hormuz Sementara itu, Trump hingga Minggu malam belum memberikan pernyataan resmi mengenai perkembangan terbaru. Namun sebelumnya ia mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) di platform Truth Social yang menggambarkan pesawat militer AS membombardir kapal-kapal Iran dan Pulau Kharg.
Di jalur diplomasi, Iran dan Oman menggelar beberapa putaran pembicaraan teknis di Teheran pada Jumat dan Sabtu untuk membahas pengelolaan Selat Hormuz, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei.
Perselisihan mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz kembali memicu ketegangan antara Washington dan Teheran pada awal Juli dan hingga kini masih menjadi salah satu hambatan utama menuju penyelesaian permanen konflik.
Pada Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan operasi militer, membuka kembali Selat Hormuz, serta mengupayakan perjanjian damai dalam waktu 60 hari.
Namun kesepakatan itu runtuh setelah serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz pada 13 Juli. Amerika Serikat kemudian melanjutkan serangan udara ke Iran dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran, yang dibalas Teheran dengan serangan terhadap fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengatakan akan bertemu Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pekan ini untuk membahas keamanan Selat Hormuz. Ia menegaskan Inggris dan Amerika Serikat memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya menjaga kebebasan pelayaran di jalur perdagangan energi strategis tersebut.
Di tengah konflik yang mendekati bulan kelima, jajak pendapat CBS/YouGov menunjukkan 57 persen warga Amerika Serikat merasa frustrasi terhadap perang tersebut, sementara hanya 19 persen yang menyatakan optimistis.
Presiden Trump dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Selasa mendatang untuk membahas perkembangan situasi di Timur Tengah.
Baca juga: Qatar Buka Kembali Jalur Pelayaran di Tengah Meredanya Konflik AS-Iran




