JAKARTA, KOMPAS.TV - Perry Warjiyo resmi mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 26 Juli 2026, setelah memimpin bank sentral selama hampir dua periode.
Selama delapan tahun kepemimpinannya, perjalanan nilai tukar rupiah menghadapi berbagai dinamika, mulai dari tekanan normalisasi kebijakan moneter global, pandemi Covid-19, hingga gejolak geopolitik yang kembali menekan mata uang Garuda.
Saat pertama kali dilantik sebagai Gubernur BI pada 24 Mei 2018 menggantikan Agus Martowardojo, rupiah berada dalam tekanan akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Alasan Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur dari Jabatannya, Ini Kata Mensesneg
Dari penelusuran Kompas.tv, berdasarkan kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah saat itu berada di level Rp14.205 per dolar AS.
Di pasar spot, rupiah sempat menguat merespons pelantikan Perry. Pada perdagangan siang 24 Mei 2018, rupiah bergerak ke kisaran Rp14.150 per dolar AS.
Pandemi Covid-19 menjadi ujian terbesar bagi stabilitas rupiah pada periode pertama kepemimpinan Perry. Gejolak pasar keuangan global akibat pandemi sempat menekan nilai tukar hingga menembus kisaran Rp16.000 per dolar AS pada 2020.
Baca Juga: Terima Pengunduran Diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI, Prabowo Bakal Terbitkan Keppres
Namun, seiring berbagai langkah stabilisasi Bank Indonesia dan membaiknya sentimen pasar, rupiah kembali menguat.
Bahkan, pada Januari 2020, sebelum dampak pandemi meluas, rupiah sempat menjadi salah satu mata uang terkuat di Asia. Di pasar spot pada 24 Januari 2020, rupiah berada di level Rp13.595 per dolar AS, sementara kurs tengah BI tercatat Rp13.632 per dolar AS.
Penulis : Dina Karina Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- nilai tukar rupiah
- gubernur bi
- perry warjiyo mundur
- gubernur bi mundur
- bank indonesia





