Mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menambah ketidakpastian di bursa Tanah Air. Kondisi ini diperkirakan mendorong investor mengambil sikap wait and see dan berpotensi memicu aksi jual, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan pergantian kepemimpinan BI meningkatkan sensitivitas pasar mengingat implikasinya terhadap kredibilitas dan kelangsungan kebijakan moneter Bank Indonesia. Adapun pengganti Perry Warjiyo yakni Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.
“Rupiah kemungkinan akan bereaksi negatif terhadap berita ini, dan menurut pandangan kami, BI mungkin perlu meningkatkan intervensi pasar,” kata Nafan dalam analisisnya, Senin (27/7).
Menurut Nafan, gejolak akibat pergantian kepemimpinan BI juga berpotensi membebani pasar saham. Ia memperkirakan akan aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham bank berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun diperkirakan meningkat sehingga turut mendorong kenaikan tingkat suku bunga bebas risiko. Menurutnya, isu independensi bank sentral masih menjadi perhatian utama pasar sejak penunjukan Thomas Djiwandono, keponakan Presiden, ke dalam Dewan Gubernur BI.
Meski begitu, Mirae Asset Sekuritas masih memperkirakan akan ada satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6%. “Meskipun kebijakan moneter mungkin akan lebih condong ke arah pro-pertumbuhan, yang berpotensi menimbulkan risiko terhadap stabilitas,” kata Nafan.
Dari lantai bursa, berdasarkan RTI Business pada perdagangan saham intraday Senin (27/7) pukul 09.24 WIB, saham BBCA turun 1,20% ke Rp 6.200. Diikuti saham BMRI terkoreksi 1,21% ke Rp 4.080, BBRI tergelincir 0,68% ke Rp 2.940, dan BBNI turun 1,14% ke Rp 3.480.
Nafan menyarankan investor untuk melakukan akumulasi pada saham-saham pilihan dengan fundamental solid, terutama yang memiliki valuasi relatif murah. Investor juga dapat mencermati saham yang mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren, dengan tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin.
Secara teknikal, pergerakan IHSG masih cenderung bearish setelah membentuk pola long black opening marubozu candle. Sementara itu, indikator Stochastics K-D juga menunjukkan sinyal negatif yang diperkuat oleh penurunan volume perdagangan.
Adapun IHSG dibuka turun ke 6.144, volume perdagangan mencapai Rp 2,18 miliar, frekuensi perdagangan sebanyak 153 ribu kali transaksi, valuasi perdagangan senilai Rp 1,2 triliun dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 10.835 triliun.




