CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Mundurnya Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian publik. Seiring belum ditetapkannya gubernur definitif, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjalankan tugas sebagai Gubernur BI sementara sesuai ketentuan Undang-Undang.
Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 50 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang menyebutkan bahwa apabila terjadi kekosongan jabatan Gubernur BI dan belum diangkat penggantinya, maka Deputi Gubernur Senior menjalankan tugas sebagai pejabat Gubernur sementara.
Berakhirnya kepemimpinan Perry sekaligus menutup perjalanan panjang seorang bankir sentral yang telah mengabdikan lebih dari empat dekade di Bank Indonesia.
Rekam Jejak Perry Warjiyo
Perry Warjiyo mengawali karier di Bank Indonesia pada 1984. Saat itu ia bertugas sebagai staf di bidang penyelamatan kredit, pemeriksaan, dan pengawasan kredit.
Konsistensinya dalam dunia kebanksentralan membawanya menempati berbagai posisi strategis. Pada periode 1992–1995 ia menjadi staf Gubernur BI, kemudian dipercaya sebagai Kepala Biro Gubernur pada 1998.
Kariernya terus berkembang ketika ditunjuk sebagai pimpinan proyek Unit Khusus Program Transformasi BI pada 2001. Dua tahun berselang, Perry dipercaya memimpin Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan sebagai direktur.
Selama 2005–2007, ia memimpin Departemen Kebijakan Makroprudensial, salah satu unit penting yang berperan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Pengalaman Perry tidak hanya di dalam negeri. Pada 2007 hingga 2009, ia dipercaya menjadi Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF).
Dalam posisi tersebut, Perry mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group. Pengalaman di lembaga keuangan internasional itu memperluas kiprahnya dalam perumusan kebijakan ekonomi dan moneter global sebelum kembali bertugas di Bank Indonesia.
Sekembalinya ke Indonesia, Perry dipercaya menjadi Deputi Gubernur BI untuk periode 2013–2018.
Pada 2018, ia resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia dan memimpin bank sentral selama periode 2018–2023. Setelah itu, ia kembali mendapat kepercayaan untuk melanjutkan kepemimpinan pada periode kedua, yakni 2023–2028.
Selama menjabat, Perry menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pemulihan ekonomi pascapandemi hingga gejolak ekonomi global yang memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.
Perry Warjiyo merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1982. Ia kemudian melanjutkan studi di Iowa State University, Amerika Serikat, hingga meraih gelar Master pada 1989 dan gelar doktor (Ph.D.) pada 1991.
Selain aktif sebagai bankir sentral, Perry juga dikenal produktif di bidang akademik. Ia menulis sejumlah buku mengenai kebijakan moneter dan perbankan sentral, di antaranya Kebijakan Moneter di Indonesia (2003), Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik (2016), serta Central Bank Policy Mix: Issues, Challenges, and Policy Responses (2020).
Pada Mei 2026, Perry Warjiyo sempat menghadapi tekanan politik setelah muncul desakan agar dirinya mundur saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR.
Desakan itu muncul karena pelemahan nilai tukar rupiah yang saat itu dinilai belum mampu dikendalikan. Namun Perry menegaskan depresiasi rupiah pada April hingga Juni merupakan pola musiman akibat meningkatnya permintaan dolar Amerika Serikat.
Saat itu ia optimistis nilai tukar rupiah akan menguat pada Juli hingga September 2026. Namun hingga 27 Juli 2026, rupiah masih berada di kisaran Rp17.969 per dolar AS.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter dengan menaikkan BI Rate sebanyak tiga kali dalam rentang Mei hingga Juni 2026. Suku bunga acuan naik dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen pada 20 Mei, kemudian menjadi 5,50 persen pada 9 Juni, dan kembali naik ke level 5,75 persen pada 18 Juni.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya tekanan eksternal, meski pergerakan mata uang Garuda masih berfluktuasi.
Tongkat estafet kepemimpinan Bank Indonesia sementara dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti hingga gubernur definitif ditetapkan. Rekam jejak Perry pun menjadi bagian penting dalam sejarah perjalanan Bank Indonesia, dari seorang staf pada 1984 hingga memimpin bank sentral selama dua periode.
Sumber: Antara/ BBC




