REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Kabinet Keamanan dan Politik Israel (Kabinet Keamanan) pada Ahad (26/7/2026) menyetujui masuknya Pasukan Stabilitas Internasional yang berada di bawah naungan "Dewan Perdamaian" ke Jalur Gaza.
Dilansir Aljazeera, seorang pejabat di kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa kehadiran pasukan tersebut tetap bergantung pada persetujuan Israel dan harus dilakukan dengan koordinasi penuh bersama militer Israel.
Baca Juga
3 Analisis Ungkap Bagaimana Perang dengan Iran Ubah Perhitungan Kekuatan Amerika Serikat?
Apakah China dan Rusia Bantu Iran Serang Pangkalan AS? Ini Kata Media Barat
Kabar Gembira untuk Orang Beriman yang Diabadikan dalam Alquran dan Hadis
Pasukan Stabilitas Internasional merupakan salah satu dari empat entitas yang dirancang untuk mengelola Gaza berdasarkan Rencana Trump guna mengakhiri perang dan krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Rencana itu kemudian diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi Nomor 2803 yang disahkan pada 17 November 2025.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Berapa jumlah pasukan dan dari negara mana saja?
Pejabat di kantor Netanyahu menjelaskan bahwa pada tahap awal jumlah pasukan internasional yang akan dikerahkan sekitar 200 personel yang berasal dari negara-negara yang disebut sebagai "negara sahabat".
Sementara itu, stasiun televisi Israel I24 News, mengutip sumber diplomatik Israel, melaporkan bahwa Uganda dan Maroko termasuk di antara negara yang dipertimbangkan untuk berpartisipasi dalam pasukan tersebut.
Sumber diplomatik tersebut menambahkan bahwa Israel akan menentukan sendiri negara-negara yang diizinkan berkontribusi dalam pasukan internasional.
الكابينت الإسرائيلي يوافق على نشر قوات الاستقرار الدولية في قطاع غزة ومكتب نتنياهو يصر على عدم الانسحاب من الخط الأصفر#الأخبار pic.twitter.com/IbHRf8qNiy