Jakarta, CNBC Indonesia - Air tawar merupakan salah satu sumber daya paling penting bagi kehidupan.
Namun, distribusinya jauh dari merata. Sebagian negara memiliki sungai besar, danau, serta curah hujan yang melimpah, sementara negara lain hampir tidak memiliki sumber air tawar domestik sama sekali.
Data terbaru World Bank yang dihimpun Our World in Data menunjukkan kesenjangan tersebut sangat lebar. Kuwait menjadi negara dengan cadangan air tawar terbarukan domestik (renewable internal freshwater resources) per kapita paling rendah di dunia pada 2022, bahkan praktis tidak memiliki sumber air tawar yang dapat diperbarui.
Bahrain, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Qatar melengkapi lima besar negara dengan cadangan air tawar domestik paling sedikit. Sebagian besar negara dalam daftar berasal dari kawasan yang memang memiliki curah hujan rendah dan sumber air permukaan yang terbatas.
Sebaliknya, rata-rata ketersediaan air tawar domestik dunia mencapai sekitar 5.400 meter kubik per orang per tahun. Jarak yang sangat lebar ini menunjukkan bahwa persoalan air bukan hanya ditentukan oleh banyaknya hujan, tetapi juga dipengaruhi kondisi geografis, iklim, hingga jumlah penduduk.
Timur Tengah MendominasiPeta krisis air dunia memperlihatkan pola yang cukup jelas. Dari 20 negara dengan cadangan air tawar domestik per kapita paling rendah, tujuh berada di Timur Tengah. Kawasan ini diwakili Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Yaman, Yordania, dan Arab Saudi.
Afrika menyusul dengan jumlah yang sama, yakni Mesir, Sudan, Mauritania, Libya, Niger, Aljazair, dan Djibouti. Sementara itu, Asia diwakili Maladewa, Singapura, Turkmenistan, dan Pakistan. Eropa hanya memiliki satu negara dalam daftar, yakni Malta, sedangkan kawasan Amerika hanya diwakili Barbados.
_
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa kelangkaan air tidak tersebar secara acak. Negara-negara dengan iklim kering, curah hujan rendah, serta sumber air permukaan yang terbatas cenderung memiliki cadangan air tawar per kapita jauh lebih kecil dibanding rata-rata dunia.
Kuwait Hampir Tak Memiliki Air Tawar
Kuwait berada di posisi paling atas karena praktis tidak memiliki sumber daya air tawar domestik yang dapat diperbarui. Negara ini tidak memiliki sungai maupun danau permanen sehingga kebutuhan air minum penduduknya sangat bergantung pada air hasil desalinasi.
Bahrain menempati posisi kedua dengan hanya 3 meter kubik air tawar per orang per tahun. Mesir berada di peringkat ketiga dengan 9 meter kubik, meski dialiri Sungai Nil yang selama ribuan tahun menjadi sumber utama kehidupan di negara tersebut.
Perbandingannya dengan rata-rata global menggambarkan besarnya kesenjangan. Ketersediaan air tawar di Bahrain bahkan kurang dari 0,1% rata-rata dunia yang mencapai sekitar 5.400 meter kubik per orang.
Bukan Hanya Negara GurunDaftar tersebut juga menunjukkan bahwa keterbatasan air tidak selalu identik dengan negara gurun.
Singapura berada di peringkat ke-14 dengan 106 meter kubik air tawar domestik per orang. Sebagai negara kota dengan luas wilayah terbatas dan populasi lebih dari enam juta jiwa, ketersediaan sumber air alami relatif kecil dibanding kebutuhan penduduknya.
Malta dan Barbados menghadapi tantangan serupa sebagai negara kepulauan. Sementara itu, Maladewa juga masuk dalam daftar karena keterbatasan sumber air tawar alami di wilayah kepulauannya.
Temuan ini menunjukkan bahwa ukuran wilayah, kepadatan penduduk, dan kondisi geografis dapat sama pentingnya dengan curah hujan dalam menentukan banyaknya air yang tersedia bagi setiap orang.
Air Menjadi Isu StrategisData tersebut memperlihatkan bahwa krisis air tidak semata diukur dari total cadangan air suatu negara. Yang lebih menentukan adalah berapa banyak air yang tersedia untuk setiap penduduk.
Karena itu, banyak negara dengan cadangan air terbatas mengandalkan berbagai strategi, mulai dari desalinasi, pengelolaan konsumsi, hingga konservasi sumber daya air. Ketika populasi terus bertambah dan perubahan iklim memengaruhi pola curah hujan, ketahanan air semakin menjadi bagian penting dari kebijakan ekonomi dan pembangunan.
Bagi negara-negara dalam daftar tersebut, air bukan lagi sekadar sumber daya alam. Ketersediaannya akan semakin menentukan ketahanan pangan, aktivitas industri, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas ekonomi pada masa mendatang.
(mae/mae) Add as a preferred
source on Google




