REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Jakarta memperkuat komitmennya dalam mendukung pembangunan kesehatan berbasis masyarakat melalui program pengabdian kepada masyarakat di Desa Weninggalih. Program tersebut mengusung tema Transformasi Limbah, Kesetaraan Gender Menuju Desa Mandiri dan Inovatif dalam Pembangunan Kesehatan sebagai upaya mendorong masyarakat mengelola potensi lokal secara mandiri, berkelanjutan, dan inovatif.
Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin antara Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Kesehatan UPN "Veteran" Jakarta. Pendekatan tersebut mengintegrasikan aspek kesehatan, teknologi, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, kesetaraan gender, hingga penguatan partisipasi warga dalam pembangunan desa.
Salah satu kegiatan utama dalam program tersebut adalah penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang dilakukan bersama Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama Fakultas Ilmu Kesehatan UPN "Veteran" Jakarta Agustiyawan, Wakil Dekan Fakultas Teknik Nanang Alamsyah, Wakil Dekan Fakultas Kedokteran dr Erna Harfiani, Kepala Desa Weninggalih, perwakilan Polsek setempat, serta mahasiswa.
Penanaman TOGA diharapkan menjadi langkah awal membangun lingkungan desa yang lebih sehat sekaligus mendorong pemanfaatan lahan untuk mendukung kesehatan keluarga. Selain menjadi simbol kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, keberadaan tanaman obat juga diharapkan memperkuat edukasi mengenai pemanfaatan sumber daya alam di lingkungan sekitar.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama Fakultas Ilmu Kesehatan UPN "Veteran" Jakarta Agustiyawan mengatakan pembangunan kesehatan perlu dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan komunitas. Menurut dia, kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi memerlukan keterlibatan aktif masyarakat.
"Kami ingin kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi memberikan dampak yang dapat dirasakan dan dilanjutkan oleh masyarakat. Melalui transformasi limbah menjadi kompos, penguatan Bank Sampah, penanaman Tanaman Obat Keluarga, serta edukasi kesehatan, kami berharap masyarakat Desa Weninggalih semakin memiliki kapasitas untuk menjaga kesehatan dan lingkungan secara mandiri," ujar Agustiyawan.
Ia menjelaskan kolaborasi lintas fakultas menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program tersebut. Fakultas Ilmu Kesehatan memberikan perspektif pembangunan kesehatan, Fakultas Kedokteran memperkuat aspek promotif dan preventif, sedangkan Fakultas Teknik berkontribusi melalui inovasi teknologi dalam pengelolaan lingkungan.
"Persoalan kesehatan masyarakat tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Karena itu, kolaborasi antara Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, mahasiswa, pemerintah desa, aparat, dan masyarakat menjadi sangat penting. Kami ingin membangun ekosistem pemberdayaan yang saling menguatkan sehingga masyarakat menjadi subjek utama pembangunan, bukan hanya sebagai penerima manfaat," katanya.
Selain penanaman TOGA, program pengabdian masyarakat juga berfokus pada transformasi limbah melalui pengolahan sampah organik menjadi kompos. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan dan budidaya tanaman, termasuk tanaman obat keluarga.
Di sisi lain, pengelolaan sampah anorganik diperkuat melalui pengembangan Bank Sampah. Masyarakat didorong memilah sampah sejak dari sumber, mengelompokkan sampah berdasarkan jenis, serta mengelola sampah yang memiliki nilai ekonomi. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat.
Menurut Agustiyawan, pemberdayaan menjadi kunci agar program dapat memberikan manfaat jangka panjang.
"Prinsip utama yang kami dorong adalah pemberdayaan. Masyarakat harus memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk mengelola potensi yang mereka miliki. Ketika masyarakat mampu mengelola sampah, memanfaatkan lahan untuk TOGA, dan menerapkan perilaku hidup sehat, maka pada saat yang sama mereka sedang membangun fondasi desa yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan," tuturnya.
Ia menambahkan, pengelolaan lingkungan yang baik memiliki hubungan erat dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Karena itu, pendekatan promotif dan preventif menjadi bagian penting dalam program tersebut dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan.
Program ini juga mengusung prinsip kesetaraan gender dengan mendorong perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pengetahuan, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, serta berkontribusi dalam pembangunan kesehatan dan pengelolaan lingkungan desa.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepedulian sosial, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, serta keterampilan menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat. Melalui keterlibatan dalam penanaman TOGA, pengolahan kompos, dan penguatan Bank Sampah, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung bahwa pembangunan kesehatan tidak hanya berlangsung di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga dimulai dari keluarga dan lingkungan.
Agustiyawan berharap kemitraan antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus berlanjut sehingga manfaat program tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
"Kami berharap apa yang dimulai bersama hari ini dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Weninggalih. Perguruan tinggi dapat memberikan pengetahuan, inovasi, dan pendampingan, tetapi keberlanjutan program berada di tangan masyarakat. Karena itu, kami ingin membangun kemitraan jangka panjang agar Desa Weninggalih dapat tumbuh menjadi desa yang mandiri, inovatif, sehat, dan mampu menjadi contoh praktik baik pemberdayaan masyarakat berbasis pembangunan kesehatan," katanya.
Melalui kegiatan tersebut, UPN "Veteran" Jakarta menegaskan komitmennya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan nyata. Sinergi antara akademisi, mahasiswa, pemerintah desa, aparat keamanan, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan model pemberdayaan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat pembangunan kesehatan berbasis masyarakat.




