Rekam Jejak Perry Warjiyo, Gubernur BI yang Mengakhiri Pengabdian Setelah 42 Tahun

narasi.tv
2 jam lalu
Cover Berita

Nama Perry Warjiyo tengah menjadi perbincangan publik susai dirinya mengundurkan diri dari kursi Gubernur Bank Indonesia (BI), Pengunduran diri tersebut diterima Presiden Prabowo Subianto setelah pemerintah menerima surat resmi dari Perry pada Minggu, 26 Juli 2026.

"Per kemarin, secara resmi kami menerima surat pengunduran diri dari Gubernur Bank Indonesia kepada Bapak Presiden," kata Mensesneg Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Bank Indonesia, Senin, 27 Juli 2026.

Prasetyo mengatak pengunduran diri Perry Warjiyo diajukan dengan alasan pribadi dan bukan karena faktor kesehatan.

"Karena alasan pribadinya dan tentu kita menghormati," kata Prasetyo.

Ia memastikan pengunduran diri Perry tidak berkaitan dengan kondisi kesehatan.

"Dalam suratnya hanya menyatakan pengajuan pengunduran diri oleh Pak Perry kepada Pak Presiden," ujarnya.

Lantas, seperti apa profil Perry Warjiyo dan rekam jejaknya selama berkarier di Bank Indonesia?

Profil Perry Warjiyo

Perry Warjiyo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah pada tanggal 25 Pebruari 1959. Ia menamatkan gelar sarjana ekonomi jurusan akuntansi dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Berbekal dasar pendidikan ekonomi yang kuat, Perry kemudian melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di Iowa State University, Amerika Serikat. Di kampus tersebut, ia meraih gelar Master of Science (MSc) pada tahun 1989, khusus dalam bidang ekonomi moneter dan internasional.

Tidak berhenti sampai di sana, Perry menuntaskan program doktoralnya (Ph.D) pada 1991 di bidang yang sama. Ia telah menulis dan mempublikasikan sejumlah buku, jurnal, dan makalah di bidang ekonomi, moneter, dan isu-isu internasional

Perry memulai kariernya di Bank Indonesia (BI) pada tahun 1984, artinya, sudah 42 tahun ia berkarir di bank sentral. ada tahap awal, ia menempati posisi yang berfokus pada penyelamatan kredit, pemeriksaan, dan pengawasan kredit.

Seiring berjalannya waktu, Perry menduduki berbagai posisi strategis di Bank Indonesia. Ia pernah menjadi Staf Gubernur BI pada tahun 1992—1995 dan menjabat Kepala Biro Gubernur pada 1998. Pada tahun 2001, Perry ditunjuk sebagai Project Leader Unit Khusus dalam Program Transformasi Bank Indonesia, yang merupakan upaya besar dalam memperkuat dan mereformasi institusi tersebut.

Selain itu, ia juga pernah menjadi Direktur Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan pada 2003, serta memegang peranan sebagai Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial antara 2005 hingga 2007.

Salah satu momen penting dalam karier internasional Perry adalah saat ia ditugaskan sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF) pada periode 2007–2009. Dalam kapasitas tersebut, Perry mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam kelompok pemungutan suara South-East Asia Voting Group. Tugas ini memberinya pengalaman berharga dalam diplomasi ekonomi dan kebijakan internasional, yang kemudian dapat ia terapkan di Bank Indonesia.

Setelah kembali ke tanah air, Perry dipercaya memegang posisi Asisten Gubernur yang membidangi kebijakan moneter, makroprudensial, dan isu-isu internasional. Jabatan Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter juga pernah disandangnya, sebelum akhirnya ia diangkat menjadi Deputi Gubernur BI periode 2013-2018.

Diangkat Era Jokowi, Mnegundurkan di Era Prabowo

Pada tanggal 16 April 2018, Perry Warjiyo resmi diangkat sebagai Gubernur Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 70/P Tahun 2018. Ia kemudian mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 24 Mei 2018.

etelah menjalani periode pertama dengan berbagai pencapaian, Perry kembali mendapatkan kepercayaan untuk memimpin BI pada periode kedua yakni 2023-2028. Namun, pada tahun 2026, Perry mengundurkan diri dari jabatannya, menandai pengakhiran pengabdian selama 42 tahun di bank sentral.

Selama menjabat sebagai gubernur, Perry menekankan konsep kebijakan “pro growth” (pro pertumbuhan) dan “pro stability” (pro stabilitas). Ia memimpin bank sentral untuk tidak hanya menjaga inflasi dan stabilitas makroekonomi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Di bawah kepemimpinannya, Indonesia melahirkan sistem pembayaran berbasis QR code terintegrasi bernama QRIS (Quick Respon Coden Indonesian Standard) yang kini tidak hanya menjadi tulang punggung pembayaran domestik tetapi uga menarik perhatian dunia internasional.

Perry juga memiliki visi yang kuat dalam mendorong inklusi keuangan, terutama untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta masyarakat yang selama ini belum terjangkau layanan perbankan.

Melalui digitalisasi sistem pembayaran, serta edukasi dan dukungan yang berkelanjutan, Perry berupaya memperluas akses keuangan digital di kalangan pedagang pasar tradisional, pelaku UMKM, serta masyarakat di daerah pelosok. Hal ini penting untuk memperkuat ekonomi rakyat dan meningkatkan daya saing nasional.

Baca Juga:Sudaryono Bersih-Bersih MBG, 833 Dapur yang Langgar SOP Ditutup Permanen Tanpa Insentif

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Tangkap 2 Orang Lagi Buntut Bentrok Maut di Menteng
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Jelang Musda Golkar Cianjur Muncul Dugaan Maladministrasi
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Federico Chiesa Tegaskan Komitmen Bertahan di Liverpool di Era Pelatih Baru Andoni Iraola
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tribun di Banyumas Ambruk hingga 90 Orang Luka Berawal dari Rebutan Kaus Drifter
• 11 jam laludetik.com
thumb
Kejagung periksa tiga saksi terkait kasus TPPU Febrie Adriansyah
• 3 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.