Penyeimbang, Bukan Oposisi

kompas.com
14 jam lalu
Cover Berita

POLITIKUS PDI Perjuangan (PDI-P) Guntur Romli mengatakan, pihaknya setuju dengan Presiden RI Prabowo Subianto, di mana PDI-P dan pemerintah sehati soal bela negara.

Guntur menjawab, PDI-P memang memiliki kesamaan tujuan bagi bangsa, tetapi tetap berada pada "posisi politik" berbeda.

Ia juga menegaskan, partainya akan menjalankan fungsi sebagai penyeimbang, bukan sebagai pihak yang sekadar berseberangan dengan pemerintah (Kompas.com, 26/7/2026).

Sekilas, kata penyeimbang terdengar biasa. Namun, dari sudut pandang kebahasaan, pilihan itu menyimpan strategi komunikasi politik sangat cermat.

Nah, mengapa bukan menggunakan kata oposisi yang lazim dipakai dalam sistem demokrasi?

Baca juga: Dijajah Koruptor

Secara makna, oposisi dan penyeimbang sebenarnya sama-sama merujuk pada posisi di luar pemerintahan.

Akan tetapi, (boleh jadi) keduanya menghadirkan gambaran erbeda di benak masyarakat.

Kata oposisi seringnya dipahami sebagai "lawan pemerintah". Dalam percakapan sehari-hari, istilah ini kerap dikaitkan dengan pertentangan, penolakan, atau konflik.

Akibatnya, publik lebih mudah membayangkan pertarungan politik daripada fungsi pengawasan, bukan?

Sebaliknya, kata penyeimbang menghadirkan citra yang jauh lebih positif.

Secara leksikal, kata ini berasal dari verba menyeimbangkan, yaitu menjaga agar sesuatu tidak berat sebelah.

Fokusnya bukan pada siapa yang dilawan, melainkan pada fungsi dijalankan.

Pemerintah tetap dipandang sebagai pihak yang memiliki legitimasi untuk memerintah, sementara pihak di luar pemerintahan diposisikan sebagai unsur yang menjaga agar jalannya kekuasaan tetap berada dalam keseimbangan. Begitu kira-kira!

Leeuwen dalam Discourse and Practice (2008) menjelaskan, aktor sosial dapat direpresentasikan berdasarkan identitas maupun fungsinya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sepertinya, ketika seorang politisi memilih kata oposisi, ia sedang menampilkan identitas politik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
International Job Fair 2026 Hadir di Sukabumi, Tawarkan Peluang Lowongan Kerja di Luar Negeri
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Cerita Keseruan teman kumparanMOM di Festival Hari Anak 2026
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Jawab Kuasa Hukum Eks Jampidsus soal Kliennya Dituding Pemilik 74kg Emas dan Uang Ratusan Miliar
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Debut Mengerikan Mitchell Baker Bersama Timnas Indonesia, Main 58 di Piala AFF 2026 Malah Cetak Hattrick
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Viral Pemuda Curi Bunga di Jalur Hijau Surabaya Terancam Kena Denda Rp5 Juta
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.