EtIndonesia.com – Militer Ukraina dilaporkan terus meningkatkan efektivitas operasi serangan jarak jauhnya terhadap berbagai fasilitas strategis Rusia. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah instalasi energi, logistik, dan industri militer Rusia kembali menjadi sasaran pesawat nirawak (drone) Ukraina, termasuk target yang berada hampir 2.000 kilometer dari garis depan. Serangan tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi Kyiv untuk memperlemah kemampuan Rusia mempertahankan perang dalam jangka panjang sekaligus meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Vladimir Putin.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa operasi tersebut bukan sekadar serangan simbolis, melainkan ditujukan untuk mengganggu rantai pasokan logistik, industri pertahanan, dan sektor energi Rusia yang selama ini menjadi tulang punggung pembiayaan perang. Menurutnya, setiap fasilitas yang berkontribusi terhadap operasi militer Rusia merupakan sasaran yang sah dalam strategi pertahanan Ukraina.
Serangan-serangan itu disebut mulai memberikan dampak nyata terhadap distribusi bahan bakar di sejumlah wilayah Rusia, termasuk Semenanjung Krimea yang diduduki Rusia. Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa gangguan pasokan bahan bakar di wilayah tersebut semakin terasa sehingga memaksa otoritas Rusia mengambil langkah-langkah darurat untuk menjaga stabilitas distribusi energi.
Situasi di Krimea bahkan memunculkan peristiwa yang oleh sejumlah pengamat disebut sebagai ironi. Wilayah yang selama bertahun-tahun dipromosikan Moskow sebagai simbol keberhasilan aneksasi kini justru menghadapi persoalan logistik akibat serangan beruntun Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia. Gangguan tersebut memperlihatkan bahwa perang kini tidak lagi hanya berlangsung di garis depan, tetapi juga mulai memengaruhi kemampuan Rusia mempertahankan sistem logistik di wilayah pendukungnya.
Di tengah meningkatnya tekanan tersebut, Institute for the Study of War (ISW) dalam laporan yang dipublikasikan 25 Juli 2026 mengungkap bahwa Presiden Vladimir Putin kembali menegaskan penolakannya terhadap usulan pembekuan garis depan perang saat bertemu Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev di Omsk. Menurut analisis ISW, Kremlin tetap bersikeras melanjutkan perang hingga seluruh tujuan militernya tercapai dan menolak gagasan penghentian konflik pada posisi saat ini.
Dalam penjelasannya, ISW menilai Putin menggunakan pertemuan tersebut untuk membenarkan kebijakan Kremlin yang tetap mempertahankan operasi militer, meskipun Rusia menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat, korban militer yang terus bertambah, serta meningkatnya serangan Ukraina terhadap wilayah Rusia sendiri. Lembaga tersebut juga menilai Kremlin terus berupaya membangun narasi bahwa masyarakat Rusia harus bersiap menghadapi perang yang berkepanjangan.
Sementara itu, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Ukraina, Jenderal Oleksandr Drapatyi, mengumumkan dimulainya audit internal secara menyeluruh di lingkungan militer Ukraina. Langkah tersebut bertujuan meningkatkan disiplin, transparansi, dan akuntabilitas di seluruh jajaran angkatan bersenjata.
Dalam pernyataannya, Drapatyi menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang berada di atas hukum. Seluruh personel, tanpa memandang pangkat maupun jabatan, akan menjalani pemeriksaan apabila ditemukan indikasi pelanggaran. Kebijakan itu disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat profesionalisme militer Ukraina di tengah perang yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun.
Di sisi lain, Presiden Zelensky juga mengeluarkan peringatan mengenai langkah Rusia yang dinilai sedang mempersiapkan mobilisasi tambahan terhadap pasukan cadangan. Menurut informasi intelijen Ukraina, Moskow diperkirakan akan kembali meningkatkan jumlah personel militernya guna menutup tingginya angka korban di medan perang.
Zelensky mengungkapkan bahwa pada periode operasi militer Ukraina di wilayah Kursk, Korea Utara diperkirakan telah mengirim sekitar 15.000 personel militer untuk membantu Rusia. Sebagian besar dari mereka hingga kini disebut masih bertugas di wilayah belakang Rusia dan belum ditempatkan langsung di garis depan Ukraina.
Lebih lanjut, Zelensky menyatakan bahwa sejak Juni 2026, Rusia telah menyiapkan pangkalan-pangkalan baru di Oblast Voronezh untuk menerima tambahan sekitar 30.000 personel Korea Utara, disertai pengiriman rudal balistik tambahan dari Pyongyang. Namun hingga saat ini belum terdapat bukti independen yang dapat mengonfirmasi kapan ataupun apakah seluruh personel tersebut benar-benar telah tiba di Rusia.
ISW menilai Rusia dan Korea Utara kemungkinan masih berhati-hati menempatkan pasukan Korea Utara langsung di wilayah Ukraina yang diduduki. Salah satu pertimbangannya adalah risiko meningkatnya respons negara-negara Barat apabila personel Korea Utara terlibat secara langsung dalam pertempuran di wilayah Ukraina.
Selain itu, sejumlah analis menilai kemampuan tempur pasukan Korea Utara masih memerlukan adaptasi terhadap karakter peperangan modern yang sangat bergantung pada drone, sistem pengintaian digital, peperangan elektronik, dan koordinasi lintas satuan secara real time.
Karena itu, pasukan Korea Utara diperkirakan lebih mungkin ditempatkan di wilayah belakang Rusia untuk menjalankan tugas pengamanan pangkalan, logistik, maupun fasilitas militer. Dengan demikian, personel Rusia yang sebelumnya bertugas di belakang dapat dipindahkan ke garis depan guna memperkuat operasi tempur.
Meski demikian, ISW memperkirakan bahwa tambahan sekitar 30.000 personel tersebut hanya akan mampu menutup kebutuhan personel Rusia selama kurang lebih satu bulan, mengingat tingginya tingkat korban yang terus dialami pasukan Rusia dalam beberapa bulan terakhir. Artinya, tambahan pasukan tersebut dinilai belum cukup untuk mengubah keseimbangan strategis perang secara signifikan.
Pada saat yang sama, Rusia juga dilaporkan menghadapi tantangan lain berupa semakin menipisnya persediaan perlengkapan militer akibat perang berkepanjangan. Kerusakan fasilitas energi, meningkatnya kebutuhan logistik, serta tekanan terhadap industri pertahanan disebut menjadi faktor yang memperumit kemampuan Rusia mempertahankan tempo operasi militernya.
Gambaran mengenai kondisi tersebut turut disoroti oleh aktivis hak asasi manusia sekaligus tokoh gerakan demokrasi Tiongkok yang bermukim di Amerika Serikat, Tang Boqiao. Dalam unggahannya di media sosial, ia menilai kondisi Rusia menunjukkan tanda-tanda kemunduran yang semakin jelas.
Tang menyoroti peringatan Hari Angkatan Laut Rusia yang dihadiri Presiden Vladimir Putin. Menurutnya, upacara tersebut hanya menampilkan sebuah kapal selam yang masih tertutup kain pelindung sebagai latar belakang inspeksi pasukan. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan parade militer Rusia pada masa lalu yang identik dengan demonstrasi kekuatan melalui kehadiran kapal perang besar maupun kapal induk.
“Kalaupun tidak ada kapal induk, setidaknya tampilkan sebuah kapal perusak. Rusia selama ini sangat menyukai pertunjukan kekuatan. Namun kini mereka hanya mampu menggelar seremoni seperti itu. Perbedaannya benar-benar sangat mencolok,” tulis Tang.
Walaupun penilaian tersebut merupakan opini pribadi dan bukan pernyataan resmi pemerintah mana pun, komentar itu mencerminkan semakin besarnya perhatian internasional terhadap kemampuan Rusia mempertahankan kekuatan militernya setelah lebih dari empat tahun perang berlangsung.
Dengan terus meningkatnya serangan jarak jauh Ukraina terhadap infrastruktur strategis Rusia, diikuti tekanan ekonomi, kebutuhan mobilisasi tambahan, serta dugaan ketergantungan yang semakin besar terhadap dukungan Korea Utara, konflik Rusia–Ukraina memasuki fase baru yang tidak hanya ditentukan oleh pertempuran di garis depan, tetapi juga oleh kemampuan masing-masing pihak mempertahankan logistik, industri pertahanan, dan stabilitas politik dalam menghadapi perang yang semakin panjang. (***)





