SURVEI kepuasan kepemimpinan sering menjadi korban kesalahpahaman.
Ketika hasilnya menguntungkan, ia dirayakan sebagai bukti legitimasi.
Sebaliknya, ketika hasilnya tidak sesuai harapan, yang pertama kali dipersoalkan adalah surveinya, termasuk lembaganya.
Hasil survei adalah indikator membantu membaca sebuah keadaan pada saat tertentu.
Dalam ilmu metode survei, tidak ada instrumen yang sempurna. Survei memiliki keterbatasan, seperti margin of error, tingkat kepercayaan, dan dinamika opini publik yang dapat berubah.
Semua keterbatasan itu diantisipasi melalui kaidah metodologi statistik. Selama survei dilakukan dengan desain sampel yang benar, teknik pengumpulan data dapat dipertanggungjawabkan, dan pelaporan metodologi transparan, hasilnya tetap memiliki nilai ilmiah sebagai dasar memahami kecenderungan masyarakat.
Kritik terhadap metodologi survei tentu sah jika didukung bukti kuat.
Apabila kritik muncul karena hasilnya tidak sesuai harapan, yang tepat dipersoalkan sesungguhnya bukan metodologinya, melainkan kenyataan dipotret oleh survei tersebut.
Survei bekerja seperti panel indikator pada sebuah mobil. Jarum indikator bukanlah penyebab mesin bermasalah.
Jarum hanya menunjukkan, ada sesuatu yang perlu diperiksa. Orang bijak tidak akan memaki dan memukul panel indikator ketika lampu peringatan menyala.
Ia akan membuka kap mesin untuk mencari sumber persoalan.
Dalam konteks pemerintahan, hasil survei menunjukkan rendahnya tingkat kepuasan publik seharusnya dipahami dengan logika sama.
Survei bukan penyebab turunnya kepuasan masyarakat. Survei hanya merekam persepsi masyarakat terhadap kebijakan, pelayanan, komunikasi, atau kondisi sosial ekonomi mereka rasakan.
Baca juga: Bayang-bayang Centeng dalam Mesin Pajak
Pemimpin matang tidak menghabiskan energi untuk memperdebatkan keberadaan survei, melainkan menggunakan hasilnya sebagai bahan evaluasi.
Angka-angka tersebut dapat membantu memetakan sektor mana dianggap berhasil, bidang mana dinilai lemah, kelompok masyarakat mana merasa belum terlayani, dan isu apa paling memengaruhi persepsi publik.