Pertumbuhan Ekonomi Malaysia Diproyeksi Lampaui Target 5 Persen di 2026

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bank Sentral Malaysia (Bank Negara Malaysia/BNM) memproyeksikan perekonomian negara itu mampu melampaui target pertumbuhan resmi sebesar 4 persen-5 persen pada tahun 2026.

Optimisme tersebut didukung oleh prospek ekonomi domestik yang tetap kuat di tengah ketidakpastian global.

Mengutip Bloomberg, Gubernur Bank Negara Malaysia Abdul Rasheed Ghaffour, mengatakan prospek ekonomi Malaysia dalam jangka menengah masih positif. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tetap berada di jalur yang sesuai dengan target pemerintah.

Prospek jangka menengah tetap positif dan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tetap kuat, kata Abdul Rasheed dalam simposium tahunan bank sentral pada Selasa.

“Kami tetap berada di jalur yang tepat untuk tumbuh antara 4 persen hingga 5 persen, bahkan kemungkinan mendekati batas atas kisaran tersebut, dengan inflasi yang tetap terkendali,” ujarnya.

Pernyataan itu muncul di tengah perhatian pelaku pasar terhadap kemampuan Malaysia mempertahankan laju pertumbuhan ekonominya setelah menghadapi dampak konflik di Timur Tengah dan ketegangan perdagangan global.

Investasi di sektor kecerdasan buatan (AI), ekspor elektronik yang tetap kuat, serta permintaan domestik yang solid menjadi penopang utama ekonomi, meski risiko perlambatan ekonomi global dan tekanan inflasi masih menjadi perhatian.

Proyeksi Awal

Berdasarkan estimasi awal pemerintah, produk domestik bruto (PDB) Malaysia tumbuh 5,8 persen secara tahunan pada periode April-Juni. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,4 persen pada kuartal pertama sekaligus melampaui median proyeksi para analis.

Sebelumnya, Abdul Rasheed bersama para pembuat kebijakan lain juga menyatakan keyakinan Malaysia mampu mencapai target pertumbuhan 4 persen hingga 5 persen pada 2026 meski dibayangi dampak perang Amerika Serikat dengan Iran.

Posisi Malaysia sebagai negara penghasil energi turut menjadi faktor penopang karena ketergantungannya terhadap impor minyak dan gas lebih rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga, seperti Filipina. Kondisi tersebut membantu meredam dampak gejolak akibat konflik di Iran.

Di sisi lain, inflasi masih berada dalam level yang terkendali. Inflasi tercatat melambat menjadi 1,9 persen pada Juni, didukung kebijakan subsidi bahan bakar yang menahan dampak kenaikan harga minyak mentah global.

Kondisi pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan inflasi yang rendah juga memberi ruang bagi Bank Negara Malaysia untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75 persen sejak pemangkasan pada Juli tahun lalu.

Menurut Abdul Rasheed, arah kebijakan moneter saat ini masih sesuai dengan prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi domestik.

“Bank sentral akan terus melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dengan cara yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peristiwa 28 Juli: Perang Dunia I Dimulai hingga Vietnam Resmi Bergabung dengan ASEAN
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Marah Argentina Dicap Sombong, Lisandro Martinez Jelaskan Alasan Mereka Membelakangi Penyerahan Trofi Piala Dunia Spanyol
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Tahukah Kamu? Ternyata Isyarat 3 Jari The Hunger Games Kini Jadi Simbol Perlawanan Global
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Bongkar 96 Kasus BBM Ilegal Sepanjang 2026, Kapolda Sumsel Hadirkan Solusi Gakkum dan Ekonomi Legal
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Panggil Wagub Sofyan Franyata dan Mantan Ketua KPID Terkait Kasus Dugaan Pemerasan
• 18 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.