HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Sebanyak 15 santri Ta’limul Qur’an (TQA) Lil Aulad Alwi Hamu mengikuti Ujian Hafalan Al-Qur’an 5 Juz Bil Ghaib di D’Edelweis Ballroom Universitas Fajar (Unifa), Selasa (28/7/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pembacaan Surah Yasin dan doa bersama untuk almarhum HM Alwi Hamu.
Ujian hafalan ini menjadi bagian dari evaluasi capaian santri sekaligus upaya mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang mampu menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Program tersebut juga diharapkan menjadi benteng moral bagi anak-anak dan remaja di tengah berbagai tantangan sosial.
Pimpinan TQA Alwi Hamu, Ustaz Rahmatullah S, mengatakan seluruh peserta telah mengikuti program pembinaan hafalan secara intensif. Dari 15 santri yang mengikuti pembinaan, tiga orang berhasil menuntaskan hafalan lima juz dan menjalani ujian tasmi’ atau ujian komprehensif hafalan.
“Hari ini anak-anak santri kami mengikuti ujian tasmi’ kategori 5 juz. Alhamdulillah, dari 15 santri ada tiga orang yang telah menyelesaikan hafalan lima juz dan mengikuti ujian komprehensif. Sebelumnya mereka juga telah menyelesaikan sima’an Al-Qur’an,” ujarnya.
Menurut Rahmatullah, para santri menjalani proses pembinaan selama kurang lebih sembilan bulan sebelum mengikuti ujian. Selama masa tersebut, mereka dibimbing untuk memperkuat hafalan sekaligus meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an.
Ia menjelaskan, metode pembelajaran di TQA Alwi Hamu dilakukan secara bertahap. Santri memulai hafalan dari Juz 30 sebagai dasar sebelum melanjutkan ke Juz 1 hingga Juz 5 dan seterusnya.
“Program kami dimulai dari Juz 30 terlebih dahulu sebagai dasar. Setelah itu baru berlanjut ke Juz 1, 2, 3, 4, hingga 5. Tahapan ini membuat hafalan anak-anak lebih kuat dan terstruktur,” jelasnya.
Rahmatullah menilai tantangan terbesar dalam proses menghafal Al-Qur’an bukan pada penambahan hafalan baru, melainkan menjaga hafalan agar tetap melekat dalam ingatan. Karena itu, setiap santri yang telah menyelesaikan ujian lima juz diwajibkan mengikuti program muraja’ah atau mengulang hafalan secara rutin selama dua pekan sebelum melanjutkan hafalan berikutnya.
“Setiap santri yang lulus ujian lima juz harus fokus muraja’ah selama dua pekan agar hafalannya benar-benar kuat sebelum menambah hafalan baru,” katanya.
Menurutnya, muraja’ah merupakan kunci utama dalam menjaga kualitas hafalan. TQA Alwi Hamu tidak hanya berorientasi pada jumlah juz yang dihafal, tetapi juga memastikan hafalan para santri tetap terjaga dengan baik.
Mayoritas santri yang berhasil mencapai hafalan lima juz berusia 13 hingga 14 tahun. Meski demikian, TQA Alwi Hamu juga memberikan kesempatan kepada santri usia sekolah dasar mengikuti ujian apabila telah memenuhi target hafalan.
“Usia bukan faktor utama. Yang paling menentukan adalah kedisiplinan, konsistensi, dan metode belajar yang tepat,” tuturnya.
Salah seorang peserta ujian, Muh Mahir (13), mengaku memiliki metode tersendiri untuk memperkuat hafalannya. Ia menghafal tiga baris ayat hingga benar-benar lancar, kemudian melanjutkan ke tiga baris berikutnya sebelum mengulang seluruh bagian yang telah dipelajari.
“Jadi ini cara saya supaya cepat menghafal dan paham,” ujarnya.
Selain Muh Mahir, dua santri lainnya yang berhasil menyelesaikan hafalan lima juz adalah Syekh Mubarak Assagaf (14) dan Muhammad Al-Qubara (16).
Keberhasilan ketiga santri tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan yang dilakukan secara konsisten mampu melahirkan generasi muda penghafal Al-Qur’an. TQA Alwi Hamu berharap semakin banyak anak yang terdorong untuk mencintai, menghafal, serta mengamalkan Al-Qur’an sejak usia dini. (wis)





