JAKARTA, KOMPAS – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) alias INKA melanjutkan kontrak yang telah disepakati sebelum keduanya resmi diputuskan untuk bergabung. Total nilai investasinya menembus Rp 14,68 triliun untuk pengadaan ratusan kereta dan ribuan gerbong komoditas.
KAI Group melanjutkan kerja sama dengan INKA yang salah satu bentuknya adalah pengadaan dan pembaruan sarana perkeretaapian nasional. Total nilai investasi dari kontrak-kontrak yang telah dilakukan berkisar Rp 14,68 triliun sampai Rp 14,88 triliun, setidaknya pada periode 2023-2027.
Di tengah kerja sama ini, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memberi mandat kepada KAI untuk mengakuisisi INKA. Proses penggabungan ditargetkan tuntas pada November 2026. Keputusan ini dilakukan guna menyelamatkan INKA dari kerugian dan beban finansial yang terus berlanjut, sehingga terjadi efisiensi operasional dan perbaikan kondisi keuangan INKA (Kompas.id, 3/6/2026).
Direktur NEXT Indonesia Center sekaligus pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Herry Gunawan, menilai Danantara sekadar mengalihkan beban keuangan INKA ke KAI. Alhasil, beban risiko akan turut ditanggung KAI, apalagi nantinya laporan keuangan INKA akan dikonsolidasikan ke dalam laporan KAI juga.
“Secara operasional, KAI sebagai entitas induk juga akan melakukan intervensi untuk mengatasi beban INKA. Danantara tidak boleh lepas tangan. Kewajiban keuangan INKA harus direstrukturisasi dulu. Kalau tidak diselesaikan, akan jadi beban KAI,” kata Herry saat dihubungi di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Sebagian besar liabilitas INKA bersifat jangka pendek dengan nilai mencapai Rp 7,18 triliun atau 87,3 persen dari total liabilitas Rp 8,22 triliun. Masalah ini perlu dituntaskan terlebih dahulu dengan keterlibatan Danantara. Sebab, liabilitas jangka pendek banyak bersumber dari pihak berelasi, khususnya bank BUMN atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Mengingat keputusan sudah telanjur dibuat, Herry berpendapat, INKA akan fokus menjadi bisnis penopang KAI, terutama untuk aspek perawatan infrastruktur. Jangan sampai INKA berjalan sendiri seperti entitas yang tidak terintegrasi dengan KAI.
Secara terpisah, Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, dalam siaran persnya, Senin (27/7/2026) malam, mengemukakan bahwa investasi KAI-INKA yang sedang berlangsung akan menghasilkan beragam jenis kereta.
Kerja sama itu meliputi pengadaan kereta Stainless Steel New Generation untuk layanan antarkota, yaitu sarana Commuter Line atau Kereta Rel Listrik (KRL) baru dan retrofit (rangkaian kereta lama yang diperbarui). Ada pula pengadaan rangkaian Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek, kereta mewah (luxury), dan gerbong datar guna mengakomodasi angkutan barang di Sumatera Selatan.
Kesinambungan pengadaan sarana memberi ruang bagi industri perkeretaapian nasional untuk meningkatkan berbagai aspek layanannya. Beberapa di antaranya meningkatkan kapasitas produksi, kompetensi sumber daya manusia, kualitas produk, serta dukungan purnajual.
“Pengadaan sarana membutuhkan perencanaan jangka panjang, kualitas yang konsisten, dan ketepatan penyelesaian. KAI Group mendorong kolaborasi profesional dengan INKA agar kebutuhan operasional dapat dipenuhi sekaligus memperkuat kemampuan industri perkeretaapian nasional,” tutur Anne.
Sebelumnya, proses dimulainya penggabungan KAI dan INKA telah diumumkan pada 21 Juli 2026 lalu. Salah satu proyeksi terbesarnya adalah pemenuhan kebutuhan KRL yang diperkirakan mencapai 156 rangkaian pada 2040.
Dalam program penggantian sarana (replacement) periode 2023-2027, KAI memesan 612 unit kereta Stainless Steel New Generation produksi INKA. Kereta tersebut dirangkai menjadi total 56 rangkaian dengan nilai kontrak pengadaan sebesar Rp 5,5 triliun.
Dari total 56 rangkaian yang dipesan, sebanyak 40 rangkaian di antaranya telah diterima KAI. Hingga kini, 39 rangkaian telah beroperasi melayani pelanggan, sedangkan satu rangkaian sisanya masih dalam tahap persiapan operasional.
Kereta generasi baru itu berfungsi untuk menggantikan sarana yang telah memasuki masa pembaruan. Pembaruan ini dilakukan secara bertahap.
Kerja sama juga dilakukan oleh KAI-INKA dalam pengadaan layanan angkutan perkotaan, khususnya KRL baru dan program retrofit dengan nilai investasi Rp 4,07 triliun. Retrofit merupakan proses pembaruan, modifikasi, serta pemasangan teknologi atau fitur baru pada rangkaian kereta lama guna meningkatkan kelaikan dan relevansi kereta tersebut dengan perkembangan zaman.
Secara detail, Anne melanjutkan, investasi didominasi oleh pengadaan KRL baru yang meliputi 16 rangkaian atau 192 kereta. Nilainya hampir menyentuh Rp 3,83 triliun. Sementara, program retrofit hanya mengakomodasi dua rangkaian dengan nilai sekitar Rp 238,63 miliar.
Dari 16 rangkaian KRL baru produksi INKA, tujuh rangkaian atau 84 kereta telah beroperasi melayani pelanggan. Sembilan rangkaian lainnya melanjutkan tahap produksi, pengujian, sertifikasi, dan persiapan operasional, sesuai perkembangan masing-masing.
Tak hanya itu, 31 rangkaian LRT Jabodebek juga sedang dipersiapkan oleh INKA dalam kerja sama ini. Tiap rangkaian yang terdiri atas enam kereta ini nilai kontraknya mencapai sekitar Rp 3,9 triliun hingga Rp 4,1 triliun. Total ada 186 kereta yang akan diproduksi.
Beragam inovasi terbaru KAI untuk mengoperasikan beragam kereta mewah juga disokong oleh INKA. Layanan premium itu dikembangkan melalui pengadaan 10 unit kereta luxury berkapasitas 26 kursi pada tiap kereta. Satu unit kereta luxury tambahan juga dipersiapkan sebagai cadangan perawatan apabila kereta lain menjalani pemeriksaan berkala.
Total nilai kontrak pengadaan kereta luxury mencapai Rp 161,16 miliar. Pengembangan ini memberi opsi pengalaman dan tingkat kenyamanan sesuai kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan kesepakatan kerja sama dengan KAI, INKA juga bertugas memproduksi 1.125 unit gerbong datar Berat Maksimum (BM) 54 ton senilai Rp 1,05 triliun. Gerbong itu dibuat untuk mendorong kapasitas angkutan barang, khususnya batu bara di Sumatera Selatan. Komoditas ini menjadi salah satu sumber pasokan energi listrik nasional.
Anne mengatakan, skala pengadaan ini memperlihatkan besarnya pasar sarana perkeretaapian di Indonesia. Kepastian permintaan perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi, penguatan rantai pasok, konsistensi mutu, ketepatan waktu, dan layanan purnajual.
“Kepercayaan kepada industri nasional dibangun melalui kualitas produk dan konsistensi dalam memenuhi komitmen,” katanya.





