MALANG, KOMPAS - Sepanjang tahun ini, sedikitnya terjadi 16 kali kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Jawa Timur dengan total luas area terdampak 214,5 hektar. Titik-titik api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan sehingga tidak sampai merambat ke tempat lain.
Kebakaran terluas terjadi di Blok Tempuran, Gunung Biru, Pegunungan Anjasmoro, di kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo, Kabupaten Mojokerto, yang mencapai 99,5 hektar. Disusul kebakaran lahan di Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, seluas 50 hektar, dan titik lainnya yang tersebar di beberapa daerah.
“Lahan seluas 214,5 hektar (ha) itu merupakan data per 24 Juli,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Satrio Nurseno saat dihubungi, Selasa (28/7/2026).
Mengutip siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), karhutla di Jatim terjadi di beberapa daerah dalam beberapa hari terakhir, antara lain di Kabupaten Probolinggo, Ponorogo, Pacitan, dan Situbondo.
Di Probolinggo, kebakaran menghanguskan 4 hektar lahan di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Sabtu (25/7/2026). Lahan terdampak merupakan kawasan hutan milik Perhutani di wilayah Dusun III Ngelosari RT 18 RW 04. Personel BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Jatim, bersama tim pemadam api gabungan melakukan upaya pemadaman darat.
Lokasi lahan yang terbakar menjadi tantangan dalam pemadaman. Titik api berada di perbukitan yang jauh dan sulit dijangkau. Pada Senin (27/7/2026), tim di lapangan melaporkan titik api kembali teramati akibat hembusan angin yang membawa bara api mudah menyulut daun, rumput, dan serasah kering.
Sebelumnya, api juga melalap lahan Petak 23C HL, Blok Gunung Geni dan Petak 22C HL Blok Gunung Bentar, Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Klenang, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Probolinggo, di Desa Bulujaran Kidul, Kecamatan Tegalsiwalan dan Curahsawo, Kecamatan Gending. Total 9 hektar area dilalap api dengan rincian wilayah terdampak di Tegalsiwalan 4 ha dan Gending 5 ha.
Adapun di Ponorogo, kebakaran melanda Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo. BPBD Ponorogo melaporkan area yang dilahap api seluas 2,5 hektar. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena api jauh dari pemukiman. BPBD dan instansi terkait bergotong royong bersama masyarakat melakukan pemadaman agar api tidak meluas.
Di Pacitan, lahan seluas 2 hektar di Desa Belah, Kecamatan Donorojo, juga terbakar. Sedangkan di Situbondo, ada 2 hektar lahan di Desa Balung, Kecamatan Kendit yang terbakar. Di Balung, titik api disebut muncul dari area Perhutani.
Menurut Satrio, awal kemarau di Jatim dimulai sejak April dan puncaknya pada Juli-Agustus. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMNKG) memprediksi kekeringan di Jatim tahun ini lebih kering dari sebelumnya akibat pengaruh El-Nino. Pada 2026, kekeringan diprediksi terjadi pada 916 desa di 29 kabupaten. Sedangkan pada 2025 ada 129 desa di 12 kabupaten terdampak.
Pemerintah Provinsi Jatim telah menetapkan siaga darurat kekeringan dan karhutla melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/327/013/2026 tanggal 26 Mei 2026 untuk 38 kabupaten/kota. Status ini berlaku selama 133 hari sejak dikeluarkan.
Sementara itu, di luar Jatim, karhutla juga dilaporkan terjadi, antara lain di area persawahan Srimulyo, Desa Kaligawe, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Jateng. Kebakaran yang menghanguskan 1 hektar lahan ini diduga dipicu oleh pembakaran sampah yang tidak terkendali oleh warga.
Selanjutnya, kebakaran juga melanda lahan di Desa Prigi, Kecamatan Kedungjati dan Desa Kaliwenang, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Senin (27/7/2026). Lahan seluas 3,4 hektar terbakar. Api diduga dari aktivitas pembakaran serasah bekas panen jagung.
Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, karhutla melanda area pemakaman di Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin. Menurut keterangan warga, api bermula dari area pemakaman kemudian meluas ke beberapa lahan di sekitarnya. Total luasan terbakar 1 hektar. BPBD Kabupaten Bandung bersama Dinas Kebakaran setempat segera memadamkan api.
Sementara itu, di luar Jawa, Karhutla juga dilaporkan terjadi di Lhokseumawe, Aceh; Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung; Banjarbaru, Kalimantan Selatan; dan Pinrang, Sulawesi Selatan; pada Sabtu (25/7/2026) hingga Minggu (26/7/2026).
Di luar karhutla, cuaca ekstrem juga melanda Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, Minggu (26/7/2026). Hujan intensitas tinggi disertai angin kencang menyebabkan kerusakan rumah. Ada 10 keluarga terdampak. Berdasarkan asesmen BPBD Banyuwangi, kerugian antara lain berupa 3 unit rumah rusak sedang dan 7 rumah rusak ringan.
Sebelumnya, longsor juga terjadi di Banyumas, Jateng, tepatnya Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Sabtu (25/7/2026). Longsoran rumpun bambu sepanjang 10 meter menimpa pipa air bersih sehingga terputus.
Selain itu, banjir juga melanda Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Hujan di hulu Sungai Siombo dan Parigi, sejak Jumat (24/7/2026) pagi, menyebabkan debit air naik sehingga merendam sejumlah wilayah, termasuk Desa Kalombang, Kecamatan Bungku Utara. Sebanyak 203 keluarga (504 jiwa) dan 168 unit rumah terdampak.
Hujan dengan intensitas tinggi juga memicu banjir dan longsor di Agam, Sumatera Barat, Sabtu (25/7/2026). Kejadian tersebut berdampak pada wilayah Nagari Malaka Timur, Nagari Malaka Utara, dan Nagari Sungai Batang, Kecamatan Malalak.
Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan, pihaknya mengimbau masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering di masa kemarau saat ini.
Di tengah terik cuaca akibat fenomena El nino, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah atau membuka ladang dengan cara membakar guna mencegah terjadinya karhutla, serta tidak membuang putung sembarangan.
“BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama kemarau, khususnya karhutla. Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan, serta deteksi dini terhadap potensi karhutla dan memastikan ketersediaan sarana prasarana pemadaman,” ujarnya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMNKG) memprediksi kekeringan di Jatim tahun ini lebih kering dari sebelumnya akibat pengaruh El-Nino





