Emiten raksasa perbankan swasta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA membocorkan jurus untuk mendongkrak harga sahamnya di semester kedua tahun ini. Saat ini, harga saham BBCA masih anjlok hingga 22,91% secara tahun berjalan atau year to date (ytd).
Berdasarkan RTI Business, pada perdagangan saham Selasa (28/7), saham BBCA ditutup terkoreksi 1,19% ke harga Rp 6.225 dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 767,39 triliun. Saham BBCA sebelumnya bahkan sempat menyentuh level terendahnya dalam tiga tahun terakhir di harga Rp 4.850 pada 8 Juni 2026.
Apabila melihat performanya, saham BBCA turun 4,60% dalam sepekan namun melonjak 12,16% dalam sebulan terakhir.
Merespons hal itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn mengatakan, pembelian kembali saham BBCA atau shares buyback dilakukan sesuai pengumuman dalam RUPS dan keterbukaan informasi perseroan. Aksi korporasi tersebut demi mendukung stabilitas harga saham di BEI yang sejalan dengan kebijakan dan ketentuan OJK.
“Buyback dilakukan sebagai bentuk komitmen BCA dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap fundamental BCA dan turut mendukung stabilitasi pasar modal nasional,” ucap Hera kepada Katadata.co.id, Selasa (28/7).
Kendati demikian, ia mengakui pada prinsipnya fluktuasi harga saham di pasar modal dipengaruhi oleh berbagai faktor. Termasuk dinamika global, kondisi geopolitik, hingga sentimen pasar.
Ia menegaskan, BCA tetap fokus pada fundamental bisnis perusahaan. BCA juga mengambil langkah pruden dalam menghadapi dinamika saat ini.
“Kami berkomitmen memberikan nilai tambah berkesinambungan bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Hera.
Kredit BCA Tembus Rp 1.000 Triliun Semester I 2026Di sisi lain, BCA mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.036 triliun hingga semester pertama 2026. Torehan itu tumbuh 8% secara tahunan atau year on year (YoY). Capaian itu menjadi pertama kalinya portofolio kredit BCA menembus level Rp 1.000 triliun.
Pertumbuhan kredit didukung pendanaan yang solid. Dana giro dan tabungan (CASA) meningkat 10,2% YoY menjadi Rp 1.082 triliun, sementara total dana pihak ketiga (DPK) naik 7,9% YoY menjadi Rp 1.284 triliun. Porsi CASA mencapai 84,3% dari total DPK sehingga biaya dana (cost of fund) tetap terjaga di level yang rendah.
Adapun rasio loan at risk (LAR) sebesar 4,9% dan non-performing loan (NPL) sebesar 1,9%.
Di sisi profitabilitas, BCA bersama entitas anak membukukan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun hingga semester pertama 2026. Sementara itu, penyaluran pembiayaan hijau atau green financing tumbuh 19% YoY menjadi Rp 123 triliun.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong mengatakan, kinerja BBCA pada paruh pertama 2026 ditopang oleh penyelenggaraan BCA Expoversary 2026 dan pertumbuhan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor.
Hendra juga mengatakan perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas. Kredit BCA terutama ditopang pembiayaan produktif yang mencapai Rp 802 triliun, meningkat 11% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Penyaluran kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi yang tumbuh 13,6% yoy, mencapai Rp 513,4 triliun dan kredit komersial dan UKM dengan pertumbuhan 6,6% yoy mencapai Rp 288,5 triliun,” ucap Hendra dalam konferensi pers kinerja semester I 2026 secara virtual, Selasa (28/7).
Torehan ditopang dari pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan, terutama ke sektor energi terbarukan yang melonjak 82% YoY menjadi Rp 7,7 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit kendaraan bermotor listrik meningkat 25% YoY menjadi Rp 4 triliun.




