Jakarta, VIVA – Forum Intelektual Muda (FIM) menilai Indonesia harus mampu bergerak cepat, berani mengambil keputusan hingga memahami denyut sektor riil. Terlebih di tengah perang tarif, tekanan pasar global, perubahan rantai pasok, dan persaingan produk antarnegara yang semakin agresif.
Co-Founder FIM, Muhammad Sutisna mengatakan perdagangan nasional tidak boleh dikelola dengan pendekatan rutin ketika dunia sedang mengalami perubahan ekonomi yang luar biasa cepat.
“Presiden perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh. Jangan sampai kita menghadapi perubahan ekonomi global dengan kebijakan yang berjalan terlalu lambat. Perdagangan adalah salah satu mesin utama ekonomi nasional dan membutuhkan kepemimpinan yang responsif, berani, serta memiliki visi jangka panjang,” ujar Sutisna di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Sutisna, tantangan Indonesia tak sederhana. Perang tarif dan proteksionisme negara-negara besar dapat memukul ekspor Indonesia, sementara tekanan harga komoditas dapat menggerus pendapatan pelaku usaha dan masyarakat.
Dalam situasi seperti itu, pemerintah tidak cukup hanya menjadi 'pemadam kebakaran'. Indonesia membutuhkan strategi perdagangan yang mampu membaca perubahan sebelum krisis datang.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk negara lain. Kita harus berani membangun politik perdagangan yang melindungi industri nasional, memperkuat produksi dalam negeri, sekaligus memaksa produk Indonesia naik kelas di pasar internasional,” tegasnya.
FIM menilai salah satu persoalan mendasar perdagangan Indonesia adalah ketergantungan terhadap komoditas dengan nilai tambah relatif rendah.
Karena itu, kebijakan ekspor tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan berapa banyak barang yang berhasil dijual ke luar negeri, tetapi harus bergeser menjadi berapa besar nilai tambah yang berhasil diciptakan di dalam negeri.
Indonesia memiliki sumber daya alam, basis produksi, tenaga kerja, serta pasar domestik yang besar. Namun, kata dia, seluruh potensi itu akan kehilangan makna apabila Indonesia hanya menjadi pemasok bahan mentah sementara keuntungan terbesar justru dinikmati negara lain.
“Yang harus kita kejar bukan sekadar volume ekspor. Kita harus mengejar nilai tambah, industrialisasi, dan kemampuan produk nasional menguasai pasar global. Kalau bahan baku kita diekspor murah kemudian kita membeli kembali produk jadinya dengan harga mahal, itu bukan kemenangan perdagangan,” kata Sutisna.





