NFC China-BRMS Bakal Garap Timah Hitam di Sumut, Kapasitas 1 Juta Ton per Tahun

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

PT Dairi Prima Mineral (DPM) memastikan akan melanjutkan proyek tambang bawah tanah timah hitam (Pb) dan seng (Zn) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

PT Dairi Prima Mineral (DPM) akan melanjutkan proyek tambang bawah tanah timah hitam (Pb) dan seng (Zn) di Sumatera Utara. (Foto: iNews Media/Yanto Kusdiantono)

IDXChannel - NFC China dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melalui PT Dairi Prima Mineral (DPM) memastikan akan melanjutkan proyek tambang bawah tanah timah hitam (Pb) dan seng (Zn) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Hal tersebut setelah DPM mengantongi persetujuan revisi studi kelayakan dan adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada 2026. Perusahaan bersiap mengembangkan deposit Anjing Hitam dengan kapasitas pengolahan mencapai 1 juta ton bijih per tahun.

Baca Juga:
Nasib AMMN-BRMS di GDX Jadi Sorotan, Kapan EMAS Naik Kelas?

Technical Manager PT Dairi Prima Mineral, Widianto, mengatakan perjalanan pengembangan proyek tersebut telah berlangsung hampir tiga dekade sejak Kontrak Karya ditandatangani pada 1998. Pada periode 2002, perusahaan menemukan endapan timah hitam dan seng dengan kadar yang dinilai signifikan.

"Prospek yang ditemukan tersebut dinamakan Prospek Anjing Hitam," kata Widianto dalam diskusi bertema Perspektif Sains, Hukum, Teknologi dan Perlindungan Lingkungan di Jakarta, Senin (27/7/2026).

Baca Juga:
BUMI Lepas 3,03 Persen Saham Citra Palu Mineral ke BRMS Senilai Rp152 Miliar

Dia menjelaskan, studi kelayakan pertama proyek tersebut disusun pada 2004, sementara AMDAL disahkan oleh Bupati Dairi pada 2005. Selanjutnya, perseroan memperoleh Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) seluas 53,11 hektare pada 2012.

Pada 2015, DPM melakukan revisi studi kelayakan menyusul perubahan lokasi portal tambang, Tailing Storage Facility (TSF), serta gudang bahan peledak.

Menurut Widianto, pemerintah kemudian menyetujui adendum AMDAL pada 2022 yang mengakomodasi tiga perubahan tersebut. Namun, pada 2024 Mahkamah Agung memenangkan gugatan kelompok masyarakat terhadap persetujuan adendum AMDAL tersebut.

Atas putusan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup mencabut persetujuan adendum AMDAL pada 2025. Kendati demikian, IPPKH seluas 53,11 hektare dan Kontrak Karya DPM tetap berlaku hingga 29 Desember 2047.

Sementara itu, berdasarkan kajian terbaru yang menjadi dasar revisi studi kelayakan, DPM memiliki dua prospek utama, yakni Anjing Hitam dan Lae Jehe.

"Untuk sumber daya Prospek Anjing Hitam, kami mendapatkan tonase 8,5 juta ton dengan kadar seng 13,8 persen dan kadar timah hitam 7,9 persen. Sedangkan Prospek Lae Jehe memiliki sumber daya 27,9 juta ton dengan kadar seng sekitar 6 persen dan timah hitam 3,7 persen," ujar Widianto.

Dari hasil konversi sumber daya menjadi cadangan, Prospek Anjing Hitam memiliki cadangan sebesar 7,7 juta ton dengan kadar seng 12,5 persen dan timah hitam 7,3 persen. Sementara Prospek Lae Jehe memiliki cadangan sekitar 10 juta ton dengan kadar seng 6,4 persen dan timah hitam 3,8 persen.

"Untuk tahap awal, kami akan mengembangkan Prospek Anjing Hitam terlebih dahulu, sedangkan Lae Jehe masih akan dilakukan pengeboran lanjutan untuk memperoleh data kadar mineral yang lebih detail," katanya.

Terapkan Tambang Bawah Tanah dan Sistem Backfill

Widianto menegaskan DPM akan menerapkan metode penambangan bawah tanah dengan kombinasi metode longhole stoping dan cut and fill. Melalui metode tersebut, ruang bekas tambang akan diisi kembali menggunakan material tailing yang telah diolah.

"Material tailing tidak dibuang atau ditempatkan di permukaan, tetapi dipisahkan terlebih dahulu antara cairan dan padatan. Cairannya digunakan kembali dalam proses pengolahan, sedangkan padatannya dicampur semen lalu dipompa kembali ke dalam lubang tambang sebagai material backfill," katanya..

Pada tahap produksi, DPM merencanakan pembangunan fasilitas pengolahan dengan kapasitas 1 juta ton bijih kering per tahun dari deposit Anjing Hitam. Produk akhir yang dihasilkan berupa konsentrat seng, konsentrat timah hitam, dan konsentrat sulfur yang selanjutnya akan dijual kepada perusahaan pemurnian atau smelter.

Berdasarkan rencana produksi perusahaan, selama masa operasi total konsentrat kering yang dihasilkan diperkirakan mencapai 2,43 juta ton, dengan kandungan logam sekitar 473.895 ton timah hitam dan 821.150 ton seng.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Prajurit Muda TNI AD Tewas Dikeroyok 7 Orang di Tangerang, Diduga Berawal dari Rebutan Antrean Sate Taichan
• 15 jam lalugrid.id
thumb
Istri Dianiaya Suami di Apartemen Bekasi, Sempat Berlindung Pakai Keranjang
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Bos BCA Ungkap Pesan Khusus untuk Calon Perngganti Perry Warjiyo Jadi Gubernur BI
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Trump: Ada Peluang Bagus Capai Kesepakatan dengan Iran
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Antisipasi Dampak El Nino, Prabowo Minta BRIN Perkuat Teknologi Air
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.