JAKARTA, DISWAY.ID– Iran terus mendorong pemungutan biaya layanan (service fees) bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Pejabat Iran menyatakan sistem tersebut sudah memasuki fase operasional, dengan kisaran biaya US$1,5–2 juta per kapal tergantung ukuran dan jenis kargo.
Biaya tersebut, menurut Teheran, bukan tol melainkan imbalan atas layanan navigasi, keamanan, asuransi, dan perlindungan lingkungan.
BACA JUGA:Jeda Pertempuran Iran-AS Picu Rebound, Harga Emas Kembali Menguat
Pembayaran diterima dalam bentuk tunai, cryptocurrency (seperti Tether), barang, atau barter. Badan Persian Gulf Strait Authority (PGSA) dibentuk untuk mengelola izin dan pemungutan.
Sementara itu, Oman pada akhir pekan lalu menyerahkan proposal alternatif ke Iran. Usulan itu, yang mendapat dukungan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), mengusulkan pengelolaan bersama regional dengan biaya sukarela.
Modelnya meniru Selat Malaka, di mana kontribusi opsional digunakan untuk navigasi, perlindungan lingkungan, dan operasi pencarian-penyelamatan.
Sumber Teluk dan diplomat Barat yang dikutip Reuters menyebutkan, proposal Oman menolak kontrol tunggal Iran atas selat. Iran belum memberikan respons resmi terhadap usulan tersebut.
BACA JUGA:Serangan AS ke Iran Membabi Buta, 50 Orang Tewas dan 517 Luka-luka
Amerika Serikat menolak keras biaya wajib apa pun. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menekankan Selat Hormuz adalah jalur air internasional yang tidak boleh dikenakan tol atau fee.
Presiden Donald Trump sebelumnya juga menekankan status bebas biaya.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) menolak usulan tarif dari Iran maupun pihak lain karena bertentangan dengan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS).
Menurut aturan tersebut, negara pantai tidak boleh memungut tol untuk lintas transit di selat internasional, meski biaya untuk layanan spesifik yang benar-benar diberikan masih diperdebatkan para ahli.
BACA JUGA:RESMI! Roberto Mancini Kembali Jadi Pelatih Italia, Mulai Era Kedua usai Drama FIGC
Diketahui, isu iuran muncul di tengah konflik AS-Israel versus Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
- 1
- 2
- »





