IRC 2026 Ditutup dengan Seruan untuk Tata Kelola yang Lincah, Akuntabilitas Platform yang Lebih Besar

antaranews.com
13 jam lalu
Cover Berita
Departemen Komunikasi Korporat, Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC)

Kuala Lumpur, Malaysia (ANTARA/Bernama-AsiaNet) – Konferensi Regulasi Internasional (International Regulatory Conference/IRC) 2026 ditutup di sini kemarin dengan seruan kuat untuk tata kelola digital yang lincah, peningkatan akuntabilitas platform, serta kerja sama internasional yang kuat guna memperkuat ekosistem digital yang aman.

Diselenggarakan oleh Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) dengan tema ‘Shaping the Next Digital Era: Regulation, Resilience and Trust,’ acara selama dua hari tersebut dihadiri lebih dari 500 regulator global, pemimpin industri, pembuat kebijakan, akademisi, dan mahasiswa.

Saat meresmikan konferensi pada Selasa, Menteri Komunikasi Datuk Seri Fahmi Fadzil menekankan bahwa kepercayaan tetap menjadi tantangan utama dalam lanskap digital modern, terutama ketika perkembangan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kerangka hukum yang ada.

"Kepercayaan telah menjadi tantangan utama pada era digital berikutnya. Dapatkah warga mempercayai platform yang mereka gunakan, informasi yang mereka konsumsi, dan sistem digital yang semakin membentuk kehidupan sehari-hari mereka? Teknologi telah berkembang jauh lebih cepat daripada banyak kerangka yang dirancang untuk mengaturnya," katanya.

Fahmi juga menyoroti sejumlah inisiatif nasional utama, termasuk Online Safety Act 2025 (ONSA), peluncuran jaringan 5G, dan National Digital Network (JENDELA), yang bertujuan melindungi pengguna sekaligus mendorong inovasi.

Sepanjang konferensi selama dua hari tersebut, para delegasi membahas berbagai prioritas penting, mulai dari keamanan daring dan pembatasan media sosial bagi anak-anak hingga perlindungan data, kerangka hukum, dan kemunculan teknologi kuantum.

Anggota Komisi MCMC Derek John Fernandez, dalam pidato utamanya, mendorong agar perlindungan hukum di ranah digital setara dengan yang berlaku di dunia fisik guna memberikan perlindungan yang lebih baik kepada kelompok rentan.

Sambil menyayangkan minimnya perlindungan di dunia digital dibandingkan dengan pembatasan usia yang ketat di dunia nyata, ia mengungkapkan bahwa MCMC saat ini menangani hingga tiga laporan materi pelecehan seksual terhadap anak setiap hari dan melaksanakan sekitar 1.700 penghapusan konten berbahaya setiap hari untuk mengatasi celah digital tersebut.

Mengenai tata kelola data dan keamanan siber, diskusi panel yang menghadirkan perwakilan dari Ericsson, Maxis, Shopee, dan TNG Digital menekankan bahwa kedaulatan data, enkripsi lokal, dan transparansi kepada konsumen merupakan prasyarat penting untuk menjaga kepercayaan digital.

Hari kedua konferensi berfokus pada penguatan penyebaran konten dan otonomi manusia, dengan Chief Executive Officer Communications and Multimedia Content Forum of Malaysia (CMCF) Mediha Mahmood menyerukan agar pengawasan regulasi tidak hanya berhenti pada pemeriksaan fakta, tetapi juga mencermati frekuensi penyebaran konten dan rekomendasi algoritma.

Di sektor kesehatan, Direktur Divisi Kesehatan Digital Kementerian Kesehatan Dr. A. Maheshwara Rao memaparkan perluasan platform MySejahtera, dengan menyebutkan bahwa basis data yang mencakup hampir 40 juta orang kini dimanfaatkan untuk mendukung pencapaian target kesehatan nasional, termasuk target penurunan berat badan masyarakat sebesar 10 juta kilogram pada 2027.

Mengenai pengembangan sumber daya manusia, CEO Government-Industry TVET Coordination Body (GITC) Tan Sri Jamil Bakri menyerukan perubahan paradigma dari pendidikan berbasis kualifikasi menuju ekosistem talenta yang berorientasi pada kompetensi untuk memenuhi kebutuhan industri.

Selain itu, para pakar hukum dan pakar internasional menegaskan bahwa Communications and Multimedia Act 1998 (CMA) Malaysia tetap bersifat netral terhadap teknologi dan cukup tangguh untuk beradaptasi dengan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (AI).

Kepala Perencanaan Strategis dan Keanggotaan International Telecommunication Union (ITU) Sulyna Abdullah memuji fleksibilitas yang melekat pada CMA, seraya menyatakan bahwa tata kelola yang efektif bagi teknologi baru harus bersifat lincah, adaptif, dan antisipatif.

Dari perspektif regional, perwakilan Sekretariat ASEAN Hazremi Hamid mengumumkan bahwa perundingan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), perjanjian ekonomi digital regional pertama di dunia yang mengikat secara hukum, telah selesai, dengan penandatanganan final diharapkan berlangsung pada KTT ASEAN di Filipina pada November mendatang.

Dalam pidato penutupnya, Wakil Menteri Komunikasi Teo Nie Ching mengungkapkan bahwa MCMC telah mengeluarkan lebih dari 377.000 permintaan penghapusan konten sejak 1 Januari hingga 15 Juli tahun ini saja, atau rata-rata hampir 1.900 permintaan setiap hari.

"Masyarakat tidak akan menilai teknologi hanya dari seberapa canggih teknologi tersebut; mereka akan menilainya berdasarkan apakah teknologi itu aman, adil, dan layak mendapatkan kepercayaan mereka. Teknologi dan akuntabilitas harus berkembang bersama," kata Teo.

SUMBER: Departemen Komunikasi Korporat, Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC)

UNTUK PERTANYAAN MEDIA, SILAKAN HUBUNGI: [email protected]




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hadapi Tantangan Anggaran, Kemenhub Jajaki Skema Pembiayaan Kereta Bersama Inggris
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menaker sebut Rp5,9 triliun disiapkan untuk MagangHub-pelatihan vokasi
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Bursa Transfer Juventus: Nasib Randal Kolo Muani Segera Ditentukan, Emiliano Martinez Batal Direkrut?
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Polisi Ungkap Pelaku Pencurian Uang Rp1,2 Miliar Modus Pecah Kaca di Jakbar Merupakan Residivis, Dua Masih Diburu
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Moon Geun Young Menikah dengan Aktor Musikal Jung Pyeong dalam Acara Keluarga Sederhana
• 9 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.