Jakarta: Perum Bulog memprioritaskan penggilingan padi milik masyarakat sebagai mitra strategis untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Bulog lebih banyak melibatkan penggilingan kecil dalam pengolahan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pendekatan tersebut menjadi perubahan strategi Bulog yang sebelumnya lebih banyak bekerja sama dengan penggilingan berskala besar.
"Sesuai arahan Bapak Presiden, agar Bulog memberdayakan penggilingan-penggilingan kecil yang miliknya masyarakat untuk menjadi lebih diberdayakan, hidup kembali. Karena di era-era yang lalu lebih cenderung menggunakan penggilingan-penggilingan besar," kata Rizal seperti dikutip dari Antara, Rabu, 29 Juli 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Rizal dikonfirmasi mengenai inspeksi mendadak di salah satu mitra maklon penggilingan padi di Desa Turitempel, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Rizal menjelaskan kemitraan dengan penggilingan padi milik masyarakat diharapkan mampu menghidupkan kembali usaha penggilingan kecil sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di berbagai daerah.
"Nah, ini kita sudah balik, kita putar balik, kita prioritas malah kepada penggilingan-penggilingan yang dimiliki oleh rakyat, sehingga untuk pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan ekonomi rakyat di masing-masing daerah," papar Rizal.
Bulog mencatat jumlah mitra penggilingan padi yang telah bekerja sama secara nasional mencapai puluhan ribu unit. Jaringan tersebut dinilai memperkuat kapasitas pengolahan beras sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional. "Wah, kalau nasional puluhan ribu yang sudah kami kerja samakan," kata Rizal.
Baca Juga :
Serapan Beras Bulog Tembus 3,5 Juta Ton hingga 24 Juli 2026(Ilustrasi. Foto: dok MI)
Bulog tetapkan standar mutu beras mitra
Meski memperluas kemitraan dengan penggilingan rakyat, Bulog menegaskan seluruh mitra wajib memenuhi standar kualitas beras yang ditetapkan pemerintah. Standar tersebut mencakup beras medium dengan tingkat pecahan maksimal 25 persen, kadar air 14 persen, menir 2 persen, serta memenuhi ketentuan derajat sosoh.
"Kami sudah menginstruksikan kepada seluruh jajaran agar menjaga kualitas yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu beras medium dengan pecahan 25 persen, kadar air 14 persen, dan menirnya dua persen, derajat sosoh," kata Rizal.
Rizal mengungkapkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog hingga 29 Juli 2026 telah mencapai 5,4 juta ton, termasuk hasil penyerapan gabah petani nasional yang mendekati 3,5 juta ton.
Menurutnya, stok tersebut akan dimanfaatkan untuk berbagai program pemerintah, seperti bantuan pangan, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta diolah menjadi beras komersial sesuai kebijakan yang berlaku.
Tingkatkan pembinaan penggilingan kecil
Bulog juga mengakui sebagian penggilingan padi skala kecil masih menghadapi keterbatasan teknologi, terutama belum memiliki mesin color sorter yang berfungsi memisahkan beras berdasarkan kualitas warna. Karena itu, Bulog terus melakukan pembinaan agar kualitas hasil pengolahan beras dari mitra penggilingan rakyat semakin meningkat.
"Nah, itu yang harus kita jaga, kendala-kendala penggilingan-penggilingan kecil ini tidak punya seperti color sorter. Color sorter itu memisahkan antara beras yang warnanya kuning dengan yang warnanya putih atau bahkan warnanya kusam," jelas Rizal.
Melalui perluasan kemitraan tersebut, Bulog berharap penggilingan padi milik masyarakat semakin berkembang, mampu meningkatkan nilai tambah gabah petani, serta mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.




