Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat sektor ekonomi kreatif telah menyerap 27,4 juta tenaga kerja sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63 persen di antaranya merupakan generasi Z dan milenial.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif tersebut telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah. Pada 2025, pemerintah menargetkan sektor ekonomi kreatif menyerap 25,5 juta tenaga kerja.
“Tenaga kerja ekraf ditargetkan di 2025 25,5 juta. Capaiannya adalah 107 persen atau 27,4 juta," kata Teuku Riefky dalam konferensi pers Update Program Prioritas/PHTC serta Penguatan Ekonomi Kreatif Sebagai Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (29/7).
Menurutnya, komposisi tenaga kerja tersebut menunjukkan besarnya keterlibatan generasi muda dalam sektor ekonomi kreatif. Selain didominasi Gen Z dan Milenial, sebanyak 58 persen tenaga kerja ekonomi kreatif juga merupakan perempuan.
“Dari data ini yang menarik adalah pegiat ekraf 63 persen adalah Gen Z dan Milenial, dan 58 persen perempuan. Artinya sektor ini sangat inklusif begitu," ujarnya.
Capaian tenaga kerja tersebut menjadi salah satu dari empat Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Ekonomi Kreatif. Tiga indikator lainnya yakni investasi, ekspor ekonomi kreatif, serta kontribusi ekonomi kreatif terhadap laju pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi investasi, Kementerian Ekonomi Kreatif menargetkan investasi sektor tersebut mencapai Rp136 triliun pada 2025. Realisasinya mencapai 134 persen dari target tersebut.
"Jadi total realisasi investasi di tahun 2025, 9,5 persen itu masuknya ke sektor ekonomi kreatif. Artinya apa? Artinya bahwa pihak internasional juga semakin percaya melakukan investasi di sektor ekraf," kata Riefky.
Ia menyebut, nilai ekspor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 12 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia. Namun, pencatatan tersebut masih berfokus pada produk fisik yang dikirim dari Indonesia melalui kontainer laut maupun kargo udara.
“Ekspor ini baru yang berbentuk fisik yang keluar dari Indonesia melalui kontainer laut atau kargo udara. Kami sedang duduk dengan instansi terkait termasuk Bank Indonesia untuk juga bisa mencatat ekspor jasa terutama yang melalui platform digital," jelasnya.
Kemenekraf menargetkan kontribusi sebesar 5,5 persen pada 2025. Namun, realisasinya mencapai 6,8 persen atau 124 persen dari target.
Riefky menyebut capaian tersebut berada 1,75 persen di atas laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang berada di angka 5,11 persen.
Dengan capaian tersebut, pemerintah optimistis kontribusi ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dapat terus meningkat. Kementerian Ekonomi Kreatif menargetkan kontribusi sektor tersebut mencapai 8 persen pada 2029.
"Kami bersama berkolaborasi dengan berbagai pihak optimis bahwa di 2029 kontribusi ekraf terhadap pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai 8 persen," ujarnya.
Riefky menambahkan, pemerintah juga tengah memperkuat basis data sektor ekonomi kreatif agar kebijakan yang dibuat dapat lebih tepat sasaran. Kementerian Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi Nasional.
Menurut dia, pendataan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih lengkap mengenai pekerja dan wirausaha di sektor ekonomi kreatif di seluruh Indonesia.
"Kami sudah sisipkan pertanyaan untuk pendalaman baik itu pekerja atau wirausaha di sektor ekraf. Mudah-mudahan ketika data BPS ini terselesaikan di akhir tahun ini kami juga bisa memetakan pegiat-pegiat ekraf di seluruh Indonesia, potensi ekraf di seluruh Indonesia lebih baik lagi sehingga kebijakan maupun program bisa lebih tepat sasaran lagi," tuturnya.
Riefky mengatakan pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan kualitas pekerjaan melalui penguatan keterampilan dan pengembangan industri kreatif.
Hal tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya agenda peningkatan lapangan kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreatif.
"Kata kuncinya adalah dimulai dari daerah. Sesuai dengan niat mulia dari beliau bahwa pembangunan harus dimulai dari daerah dan tentu begitu juga dengan ekonomi kreatif," kata Riefky.





