Kuala Lumpur (ANTARA) - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memandang transisi menuju energi bersih dan terbarukan merupakan bentuk keamanan nasional yang mendasar, yang perlu diprioritaskan.
Di tengah kondisi global yang tidak menentu, Anwar Ibrahim mengatakan Malaysia perlu mempercepat proses transisi energi alternatif.
"Ketergantungan pada sumber energi yang terbatas membawa risiko yang melekat. Oleh karena itu, transisi menuju sumber energi bersih dan terbarukan bukan hanya preferensi ekologis, ini adalah keharusan keamanan nasional yang mendasar," ujar Anwar Ibrahim.
Demikian disampaikan Anwar saat menghadiri Konferensi Greater Bay Area (GBA) and negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) di Selangor, Rabu.
Anwar menyampaikan selama bertahun-tahun, sumber daya bahan bakar fosil telah mendorong pertumbuhan industri dan membantu meningkatkan standar hidup bagi Malaysia dan banyak negara lain di dunia.
Namun, tidak dapat disangkal bahwa saat ini model ini semakin terpapar pada realitas global baru, terutama ketegangan dan gejolak geopolitik, yang mengganggu rantai pasokan dan mendorong fluktuasi harga.
"Ini bukan sekadar seruan atau pernyataan. Hal ini mempengaruhi kehidupan masyarakat kita, termasuk yang paling terpinggirkan dan termiskin," ujarnya.
Oleh sebab itu menurutnya transisi energi terbarukan penting untuk memperkuat keamanan energi Malaysia dan kawasan, selain juga berkaitan dengan daya saing ekonomi.
Dia menilai sebelum krisis energi terjadi seperti saat ini, ketergantungan yang berlebihan pada bahan bakar fosil telah menarik banyak perhatian ASEAN pada alternatif seperti energi surya dan angin.
Namun, dia menyayangkan bahwa energi nuklir kurang mendapat perhatian ASEAN.
"Hal ini cukup disayangkan mengingat kawasan ini memiliki pengalaman regulasi yang substansial serta keahlian teknis yang dibutuhkan untuk melanjutkan langkah yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap realisasi pilar-pilar Rencana Aksi ASEAN untuk Kerja Sama Energi (APAEC)," jelasnya.
Malaysia sendiri, kata Anwar, telah menetapkan target kapasitas energi terbarukan sebesar 31 persen pada tahun 2025, meningkat menjadi 40 persen pada tahun 2035, dan diperkirakan mencapai 70 persen pada tahun 2050.
Menurutnya, Malaysia berkomitmen untuk tidak membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru dan secara bertahap akan menghentikan penggunaan kapasitas batu bara yang ada.
Baca juga: Kapasitas terpasang energi terbarukan Malaysia naik jadi 31 persen
Baca juga: Malaysia umumkan pendanaan awal transisi energi Rp6,56 triliun
Di tengah kondisi global yang tidak menentu, Anwar Ibrahim mengatakan Malaysia perlu mempercepat proses transisi energi alternatif.
"Ketergantungan pada sumber energi yang terbatas membawa risiko yang melekat. Oleh karena itu, transisi menuju sumber energi bersih dan terbarukan bukan hanya preferensi ekologis, ini adalah keharusan keamanan nasional yang mendasar," ujar Anwar Ibrahim.
Demikian disampaikan Anwar saat menghadiri Konferensi Greater Bay Area (GBA) and negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) di Selangor, Rabu.
Anwar menyampaikan selama bertahun-tahun, sumber daya bahan bakar fosil telah mendorong pertumbuhan industri dan membantu meningkatkan standar hidup bagi Malaysia dan banyak negara lain di dunia.
Namun, tidak dapat disangkal bahwa saat ini model ini semakin terpapar pada realitas global baru, terutama ketegangan dan gejolak geopolitik, yang mengganggu rantai pasokan dan mendorong fluktuasi harga.
"Ini bukan sekadar seruan atau pernyataan. Hal ini mempengaruhi kehidupan masyarakat kita, termasuk yang paling terpinggirkan dan termiskin," ujarnya.
Oleh sebab itu menurutnya transisi energi terbarukan penting untuk memperkuat keamanan energi Malaysia dan kawasan, selain juga berkaitan dengan daya saing ekonomi.
Dia menilai sebelum krisis energi terjadi seperti saat ini, ketergantungan yang berlebihan pada bahan bakar fosil telah menarik banyak perhatian ASEAN pada alternatif seperti energi surya dan angin.
Namun, dia menyayangkan bahwa energi nuklir kurang mendapat perhatian ASEAN.
"Hal ini cukup disayangkan mengingat kawasan ini memiliki pengalaman regulasi yang substansial serta keahlian teknis yang dibutuhkan untuk melanjutkan langkah yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap realisasi pilar-pilar Rencana Aksi ASEAN untuk Kerja Sama Energi (APAEC)," jelasnya.
Malaysia sendiri, kata Anwar, telah menetapkan target kapasitas energi terbarukan sebesar 31 persen pada tahun 2025, meningkat menjadi 40 persen pada tahun 2035, dan diperkirakan mencapai 70 persen pada tahun 2050.
Menurutnya, Malaysia berkomitmen untuk tidak membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru dan secara bertahap akan menghentikan penggunaan kapasitas batu bara yang ada.
Baca juga: Kapasitas terpasang energi terbarukan Malaysia naik jadi 31 persen
Baca juga: Malaysia umumkan pendanaan awal transisi energi Rp6,56 triliun





