Era Suku Bunga Tinggi, Pemerintah Optimistis Ekonomi Tahun Ini Masih Tumbuh 5%

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap mampu bertahan di atas 5% hingga akhir tahun, meski perekonomian masih dibayangi oleh tingginya tingkat suku bunga.

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini akan ditopang oleh peningkatan belanja pemerintah dan investasi yang diperkirakan semakin menguat. 

"Kuartal ketiga dan keempat tentu salah satu yang didorong adalah belanja pemerintah dan investasi," ujar Airlangga kepada wartawan di kantornya, Rabu (29/7).

Menurutnya, minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia masih relatif tinggi. Namun, para investor masih mengharapkan pemerintah dapat menyelesaikan sejumlah hambatan yang selama ini mengganggu realisasi investasi, terutama yang berkaitan dengan proses perizinan.

"Investasi kemarin sebetulnya minat untuk investasi relatif tinggi, tetapi mereka minta ada beberapa hal yang terkait dengan debottlenecking, termasuk di antaranya terkait dengan perizinan," katanya.

Ia mengatakan pemerintah masih terus memantau perkembangan berbagai indikator ekonomi. Meski demikian, Airlangga memastikan pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini dapat dipertahankan di atas level 5%.

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 bps sejak Mei. Namun dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada pekan lalu, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman  memperkirakan Bank Indonesia masih berpotensi menaikkan suku bunga lagi pada kuartal ketiga tahun ini sebesar 25 bps. Hal ini seiringg ketidakpastian global dan domestik yang terus-menerus kemungkinan tidak akan mereda dalam waktu dekat, sehingga menimbulkan risiko berkelanjutan terhadap stabilitas rupiah. 

"Secara eksternal, konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah terus menimbulkan risiko kenaikan yang signifikan terhadap inflasi global dan jalur suku bunga kebijakan global," ujar dia.

Selain itu, menurut dia, kerentanan domestik juga tetap tinggi, terutama terkait potensi efek limpahan dari harga energi dan bahan bakar global yang lebih tinggi terhadap prospek inflasi, posisi fiskal, dan neraca eksternal Indonesia. Risiko-risiko ini, menurut dia, dapat berkontribusi pada pelebaran defisit kembar. 

Proyeksi serupa juga disampaikan Kepala Ekonom BCA David Sumual. Ia menilai masih ada potensi BI kembali menaikkan suku bunga acuan seiring dengan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed. 

Meski demikian, David masih memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun ini masih mampu tumbuh di atas 5%.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pendakian Puncak Kawinajang Wisata Gunung Kawi dari Sudut Berbeda
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Begini Cara Bayar MRT Jakarta Pakai Kartu Kredit, Tak Perlu Top Up Lagi
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Suasana Haru dan Bangga Orang Tua Penuhi Pelantikan Pamong Praja IPDN
• 11 jam laludetik.com
thumb
KPK Periksa Geisz Chalifah Terkait Kasus Eks Bupati Kukar Rita Widyasari 
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Misteri Serangan Laut Kaspia! Kapal Iran Dihantam, Dugaan Keterlibatan NATO Gegerkan Dunia!
• 19 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.