Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) melonjak sekitar 5 persen pada Selasa (28/7/2026) malam waktu setempat setelah Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS mengklaim, pasukan AS mencegat serangan dari Iran di Timur Tengah.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September sempat naik 5,1 persen menjadi 83,30 dolar AS (1 dolar AS = Rp18.088) per barel. Kenaikan harga kontrak berjangka minyak mentah WTI kemudian menyusut menjadi sekitar 3 persen.
“Pada pukul 17.45 Eastern Time hari ini, pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan beberapa rudal balistik dari Iran dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah,” tulis CENTCOM AS di platform X, melansir Antara.
“Semua rudal Iran berhasil dicegat,” katanya, seraya menambahkan bahwa “pasukan AS tetap waspada dan dalam keadaan siaga tinggi.”
Baik harga minyak mentah berjangka WTI maupun Brent untuk pengiriman September memperpanjang kerugian dan turun lebih dari 4 persen pada penutupan perdagangan Selasa.
Jeda dalam serangan antara AS dan Iran menekan harga minyak dalam beberapa hari terakhir, dengan investor mengamati dimulainya kembali negosiasi bilateral dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Optimisme di pasar menyebabkan penurunan tajam harga minyak mentah berjangka dalam tiga sesi sebelumnya.
Menurut Nikos Tzabouras, analis pasar di platform perdagangan Tradu, premi risiko pada harga minyak dapat dengan cepat kembali meningkat dan mendorong harga kembali di atas 100 dolar AS per barel. (ant/lta/ipg)




