Aji Bayu Ramadhan masih mengingat betul masa kecilnya di Kecamatan Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang hidup dari kerja keras dan ketekunan. Ayahnya merupakan seorang buruh bangunan yang berpindah dari satu proyek ke proyek lain demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Saat kondisi ekonomi semakin sulit, sang ayah juga pernah menjadi pemungut rongsokan dan perajin. Sementara itu, ibunya menjadi penopang utama dengan mendampingi serta mendidik anak-anaknya agar memiliki harapan masa depan lebih baik.
"Di mana pun ada kesempatan, di situ ayah saya selalu berusaha untuk memaksimalkan kesempatan itu," ujar Aji pada keterangan tertulisnya, Kamis (30/7/2026).
Perjalanan Aji menuju Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) bukanlah jalan yang mudah. Ia berasal dari wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) dengan akses informasi sangat terbatas. Namun, ia gigih mencari sendiri informasi seleksi secara daring dengan berbekal doa dari kedua orang tuanya.
"Hal yang paling saya rasakan susah ketika masuk IPDN adalah informasi. Dikarenakan saya berasal dari daerah 3T yang akses informasi di situ belum terlalu terbuka," ujarnya seusai Upacara Pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII di Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Aji menyadari kesempatan masuk IPDN terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan tinggi. Ia menjadi saksi seluruh tahapan seleksi berlangsung transparan tanpa bisa diintervensi oleh pihak mana pun.
"Saya adalah saksi ... melihat segala macam proses seleksi dilaksanakan dengan betul-betul Website Online dan tidak bisa diintervensi oleh siapa pun," katanya.
Perjuangan dan pengorbanan tersebut mengantarkan Aji lolos menjadi praja IPDN. Selama empat tahun masa pendidikan, seluruh kebutuhan dasarnya dipenuhi secara penuh oleh negara.
"Tentu saja alhamdulillahnya kami di-Provide dengan gratis di sini. Saya pikir semua hal dari pakaian, sepatu, seragam, makanan, listrik, air semuanya yang menjadi foundasi kehidupan itu sudah di-Provide secara maksimal oleh kampus. Jadi, kami di sini hanya sekadar datang dan fokus belajar," tuturnya.
Sistem pendidikan tanpa biaya ini membuatnya bisa fokus belajar dan menempa diri menjadi calon aparatur pemerintahan. Aji sukses membuktikan kemampuannya dengan meraih predikat lulusan terbaik dan menerima penghargaan Kartika Astha Brata.
Puncak perjalanan tersebut tiba saat ia resmi dilantik sebagai Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII. Aji bersama 1.203 lulusan lainnya dilantik secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Saya sangat berterima kasih atas semua hal yang terjadi oleh Presiden kami. Karena ini adalah pertama kali Presiden Prabowo datang ke IPDN Jatinangor," ungkap penerima Penghargaan Kartika Astha Brata tersebut.
Kini, pelantikan tersebut menjadi awal pengabdiannya. Aji siap melangkah maju dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi masyarakat serta bangsa Indonesia.
(ega/ega)





