Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran yang menghantam puluhan target Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran. Operasi militer berdurasi dua jam tersebut menghancurkan pusat komando militer, fasilitas drone, hingga kapabilitas maritim Iran.
Mengutip laporan Reuters, Kamis (30/07/2026), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi gempuran tersebut berlangsung mulai pukul 00.00 hingga 02.00 GMT pada hari Kamis. Serangan balik ini diluncurkan setelah Teheran menembakkan serangkaian rudal balistik ke arah pasukan AS di Yordania.
"Serangan ini bertujuan untuk semakin mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh Iran dan kelompok proksinya terhadap pasukan Amerika, pelayaran komersial, dan negara-negara Teluk tetangga," tegas CENTCOM dalam pernyataan resminya.
Media pemerintah Iran melaporkan tiga orang tewas akibat serangan udara AS yang menghantam Pulau Qeshm. Di saat bersamaan, angkatan bersenjata Yordania mengonfirmasi berhasil menggagalkan upaya serangan Iran ke wilayah kerajaannya dengan mencegat lima rudal di udara.
Gempuran terbaru AS ini dipicu oleh konfirmasi Iran pada hari Rabu mengenai penembakan rudal balistik ke basis pasukan AS di Yordania, di mana seluruh proyektil berhasil dicegat. Pangkalan militer AS di Yordania belakangan memang menjadi target utama gempuran Iran.
Sebelum serangan ke Iran meluncur, pasukan AS dan Arab Saudi menggelar gempuran gabungan ke kelompok pro-Iran di Irak timur sebagai balasan atas serangan drone ke fasilitas minyak Saudi. Aksi gabungan tersebut mencatatkan sejarah baru sebagai kali pertama Riyadh bergabung secara terbuka dalam serangan militer bersama Washington.
Pada hari yang sama, sebuah drone menghantam kapal tanker penyimpanan gas milik perusahaan AS di Pelabuhan Damietta, Mesir. Kementerian Perminyakan Mesir mengonfirmasi kejadian kebakaran di pelabuhan tersebut meski tidak menyebutkan keterlibatan serangan drone.
Kelompok milisi Popular Mobilisation Forces (PMF) di Irak melaporkan setidaknya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya luka-luka akibat serangan gabungan AS-Arab Saudi. Surat kabar Iran Hamshahri melaporkan bahwa empat penasihat Garda Revolusi Iran turut tewas dalam gempuran di Irak tersebut.
Presidensi Irak mengecam keras serangan ke pangkalan paramiliternya sebagai pelanggaran nyata atas kedaulatan negara. Kendati demikian, Baghdad tetap menyerukan penghentian aksi serangan oleh kelompok bersenjata Irak ke negara-negara tetangga.
"Gempuran ini merupakan serangan yang tidak dapat diterima dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak," tegas pihak Presidensi Irak mengecam aksi militer tersebut.
Pasca serangan gabungan itu, Menteri Pertahanan Arab Saudi bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Washington untuk mendesak agar pemerintah tidak memperluas eskalasi ke Yaman atau Irak. Pihak Saudi memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat membuka pintu bagi risiko besar yang tidak menentu.
Konflik yang bermula sejak Februari lalu ini mulanya ditargetkan Presiden Donald Trump hanya berlangsung beberapa pekan. Namun, kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni lalu runtuh akibat pertempuran sengit memperebutkan Selat Hormuz yang kini diklaim berada di bawah kendali penuh Iran.
Iran mengonfirmasi telah menembak tiga kapal tanker yang mencoba melintasi Selat Hormuz melalui rute tidak resmi. Kesepakatan tata kelola selat yang diusulkan Oman dengan dukungan negara-negara Teluk juga telah ditolak mentah-mentah oleh pihak Teheran.
Selat Hormuz menjadi titik krusial karena mengangkut sepertujuh pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum perang meletus. Kebuntuan negosiasi di selat ini menjadi pemicu utama meluasnya konflik geopolitik di kawasan.
Pasca-eskalasi serangan terbaru, harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada hari Rabu. Harga minyak mentah berjangka jenis Brent melesat lebih dari 8% hingga menembus angka di atas US$ 90 (Rp 1,62 juta) per barel.
Presiden Donald Trump menegaskan bakal membalas keras setiap serangan rudal Iran ke pasukan AS. Meski demikian, Washington menyatakan tetap membuka pintu bagi kesepakatan damai guna mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasar energi dan keuangan global tersebut.
(tps/tps)



