Belakangan ini, konflik antara Rusia dan Ukraina mengalami kebuntuan dalam pertempuran darat di garis depan. Namun, serangan udara jarak jauh dan pertempuran drone antara kedua belah pihak meningkat secara signifikan, serta meluas ke wilayah sekitarnya.
EtIndonesia.com Ukraina baru-baru ini melancarkan serangkaian serangan untuk memperkuat serangan balasan jarak jauh terhadap fasilitas energi, logistik, dan militer Rusia, sebagai balasan atas pemboman malam hari yang dilakukan tentara Rusia terhadap kota-kota Ukraina.
Gubernur Wilayah Moskow, Vorobyov, pada Selasa 28 Juli mengonfirmasi bahwa Moskow mengalami serangan drone berskala besar pada malam hari.
Walikota Moskow, Sobyanin, melalui Telegram menyatakan bahwa dari Senin malam hingga Selasa dini hari, terdeteksi lebih dari 390 drone Ukraina, dan 81 di antaranya berhasil dicegat. Namun, situasi sebenarnya masih belum jelas.
Dalam 24 jam terakhir, Rusia melancarkan 1.107 serangan terhadap 49 pemukiman di Oblast Zaporizhzhia, Ukraina bagian tenggara, yang mengakibatkan 14 orang terluka, termasuk 3 anak-anak, serta seorang pria berusia 67 tahun yang meninggal dunia.
Dari 131 drone yang diluncurkan oleh pasukan Rusia, pasukan pertahanan udara Ukraina berhasil mencegat 107 drone pada malam itu, namun 9 drone berhasil menembus wilayah Ukraina.
Pekan lalu, Ukraina meningkatkan intensitas serangannya terhadap pusat-pusat logistik utama di wilayah Rusia, termasuk lima fasilitas milik raksasa ritel Wildberries, yang menandakan bahwa perang ini telah memasuki fase baru, di mana pihak Kyiv berusaha melemahkan ekonomi Rusia.
Sementara itu, Presiden Ukraina Zelensky berharap dapat memperkuat dukungan Amerika Serikat terhadap Kyiv melalui pertemuannya dengan Presiden AS Trump, guna membantu menangkis serangan rudal Rusia.
Seiring dengan kunjungan Zelensky, Senat AS berencana melakukan pemungutan suara prosedural pada Selasa malam mengenai rancangan undang-undang yang diprakarsai oleh almarhum Senator Graham, yang intinya adalah sanksi terhadap negara-negara seperti Rusia dan Iran.
Laporan komprehensif oleh reporter New Tang Dynasty Television, Guo Yuexi





