Resep Turun-temurun Jadi Modal Pedagang Es Puter Menjaga Kuliner Tradisional Jakarta

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Es puter atau yang juga dikenal sebagai es podeng merupakan salah satu kuliner tradisional yang masih bertahan di Jakarta.

Dibuat dari santan yang dibekukan dengan cara diputar menggunakan tabung aluminium berisi campuran es batu dan garam, jajanan ini menawarkan cita rasa gurih yang berbeda dengan es krim modern.

Di balik semangkuk es puter dengan taburan roti tawar, kacang sangrai, meses, dan siraman susu kental manis, tersimpan resep yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Resep turun-temurun itulah yang hingga kini menjadi modal para pedagang untuk menjaga keberadaan kuliner tradisional tersebut di tengah gempuran minuman dan makanan penutup kekinian.

Baca juga: 13 Es Krim Paling Aneh di Eropa, Ada Rasa Bawang dan Bumbu Roti Panggang

Pemandangan itu terlihat di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2026). Sebuah gerobak kayu bercat merah bertuliskan "Es Podeng" berhenti di tepi jalan, tepat di atas trotoar di sisi jalur sepeda.

Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang melintas, suara sendok yang beradu dengan tabung aluminium perlahan menarik perhatian pejalan kaki.

Dari balik gerobak, seorang pedagang dengan cekatan meracik pesanan satu per satu.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Seorang pedagang es puter atau es podeng di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2026).

Sirup merah muda lebih dulu dituangkan ke dasar gelas plastik, disusul potongan roti tawar dan sesendok besar es puter berwarna putih serta cokelat.

Setelah itu, susu kental manis dan saus cokelat disiramkan sebelum ditutup taburan kacang tanah sangrai yang harum.

Gerobak itu tampak tak lagi muda. Cat merahnya mulai memudar dan mengelupas di beberapa bagian.

Namun, tulisan "Es Podeng" pada kaca depan masih terlihat jelas, menjadi penanda bahwa kuliner tradisional tersebut masih bertahan di tengah derasnya perkembangan es krim modern.

Nama es podeng diyakini berasal dari bahasa Madura, "podeng", yang berarti "puter" atau berputar.

Baca juga: Tiga Pelaku Pengganjal ATM Diciduk Saat Beraksi di Pamulang, Dua Ditembak Polisi

Sebutan itu merujuk pada teknik pembuatannya, yakni memutar adonan santan dan gula di dalam tabung aluminium yang dikelilingi campuran es batu dan garam hingga membeku menjadi tekstur lembut menyerupai es krim.

Tradisi berjualan es podeng diyakini dibawa para perantau Madura ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, termasuk Jakarta, sehingga kuliner ini juga dikenal luas sebagai es puter.

Kini, jumlah pedagang es puter di Jakarta kian berkurang dan regenerasi pelaku usahanya berjalan lambat.

Meski demikian, sebagian pedagang masih memilih bertahan dengan mempertahankan resep keluarga yang diwariskan lintas generasi, sebagai upaya menjaga salah satu warisan kuliner tradisional ibu kota agar tidak hilang ditelan zaman.

Salah satunya adalah Azam (58). Sudah sekitar 35 tahun ia mendorong gerobak es puter menyusuri kawasan Jatinegara, Matraman, Kampung Melayu hingga Pisangan Baru.

Namun, keterampilannya membuat es puter sebenarnya telah dipelajari jauh sebelum ia mulai berjualan sendiri.

"Saya mulai sekitar tahun 1991. Sebelumnya membantu bapak membuat es puter di rumah. Kalau musim libur sekolah saya ikut mendorong gerobak. Lama-lama belajar sendiri, mulai dari memarut kelapa, membuat santan, sampai memutar tabung es," ujar Azam saat ditemui Kompas.com, Jumat.

Baca juga: Tangis Pemulung dan Anak Kelaparan, Saat Rumah Makan Gratis Bekasi Terus Berbagi Makanan

Ketika sang ayah tak lagi sanggup berkeliling, Azam mengambil alih usaha keluarga tersebut.

Sejak saat itu, ia mempertahankan cara produksi yang sama seperti diajarkan ayahnya puluhan tahun silam.

Baginya, resep keluarga bukan sekadar daftar bahan, melainkan identitas yang tidak boleh berubah.

"Sampai sekarang saya masih memakai cara lama karena menurut saya rasanya berbeda. Memang lebih capek, tetapi pelanggan lama bilang rasa yang mereka cari ya seperti ini," kata dia.

Pekerjaan membuat es puter dimulai sejak pagi.  Kelapa tua diparut lalu diperas menjadi santan segar.

Santan kemudian dimasak bersama gula pasir yang dicampur sedikit gula merah agar menghasilkan aroma lebih harum.

Azam membuat beberapa varian rasa, mulai dari kelapa, cokelat, kacang hijau, nangka, durian hingga alpukat.

Setelah adonan matang dan dingin, semuanya dimasukkan ke dalam tabung aluminium.

Di sinilah proses yang membedakan es puter tradisional dengan es krim pabrikan dimulai.

Tabung aluminium tersebut diletakkan di dalam wadah berisi campuran es batu dan garam kasar.

Selama lebih dari satu jam, tabung diputar secara manual hingga adonan perlahan membeku dan berubah menjadi es bertekstur lembut.

Baca juga: Kemarau Panjang dan Kekeringan di Bekasi, Air Bersih Jadi Paling Dinanti

Proses itu membutuhkan tenaga dan kesabaran. Namun, Azam menolak menggantinya dengan mesin modern.

Menurutnya, penggunaan santan segar serta proses pemutaran manual menghasilkan rasa gurih yang lebih kuat sekaligus tekstur yang lebih lembut dibandingkan proses instan.

Bagi Azam, mempertahankan cara lama berarti menjaga cita rasa yang selama ini membuat pelanggannya kembali.

Ia mengaku sebagian besar pembelinya merupakan pelanggan lama yang telah mengenalnya selama bertahun-tahun.

"Banyak yang dulu beli waktu masih SD, sekarang datang lagi sambil membawa anaknya sendiri," kata Azam.

Menurut Azam, di situlah letak kekuatan es puter.

Ia tidak hanya menjual makanan, tetapi juga kenangan.

"Saya senang kalau ada orang tua yang mengajak anaknya membeli es puter sambil bercerita kalau dulu mereka juga sering makan es ini,” ucap dia.

Meski demikian, mempertahankan usaha turun-temurun itu bukan perkara mudah.

Harga kelapa, gula, susu hingga buah-buahan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Satu porsi es puter maupun es podeng dijual dengan harga yang masih relatif terjangkau, berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per gelas.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Harga tersebut berbeda-beda, bergantung pada ukuran porsi dan kelengkapan topping yang dipilih pembeli.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Tulang Bawang Evaluasi Kinerja ASN untuk Penataan Mutasi dan Alih Tugas
• 7 jam lalueranasional.com
thumb
Hari Pertama Tugas, Kapolres Malang AKBP Rulian Silaturahmi ke Ketua PN-Kejari
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Indonesia dan China Sepakati Penjajakan Kerja Sama Strategis Sektor Perumahan, Fokus pada Teknologi hingga Pembiayaan
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Mendagri: Sudah Waktunya Revisi Gaji Kepala Daerah
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Hak Keuangan Kepala Daerah Diusulkan Berbasis Kinerja, Ini Alasannya
• 51 menit laluliputan6.com
Berhasil disimpan.