Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan kecerdasan buatan atau AI kini ramai membeli buku kuno dan edisi terbatas dalam jumlah besar. Isi buku tersebut dipindai untuk melatih sistem kecerdasan buatan mereka, setelah itu buku aslinya dihancurkan sehingga tidak bisa lagi dibaca oleh manusia.
Bagi pengembang model LLM, buku hanyalah bahan baku yang diambil isinya lalu dibuang begitu saja. Sebelumnya perusahaan sering menggunakan buku digital atau bahkan salinan bajakan. Namun kini banyak beralih ke buku fisik yang dibeli murah dalam jumlah sangat banyak.
Salah satu contohnya adalah perusahaan AI ternama Anthropic. Dalam gugatan hukum yang sudah berakhir dengan perdamaian, diketahui perusahaan ini menggunakan mesin pemotong untuk memisahkan lembaran buku yang dibeli, lalu memindainya dengan peralatan canggih.
Isinya dipakai melatih sistem AI mereka. Praktik ini memanfaatkan aturan hukum yang menyatakan pembeli bebas menggunakan barang yang sudah dibeli, serta dianggap sebagai perubahan bentuk karya sehingga tidak melanggar hak cipta.
- WhatsApp Mulai Pungut Rp 700 Per Chat Untuk Pesan Jenis Ini
- Indonesia Sekarang Punya Pejabat AI, Ini Tugas Barunya
Penyedia layanan bernama ISBNdb yang menyatakan memiliki basis data buku terbesar di dunia kini turut melayani pembelian massal tersebut. Perusahaan ini menyatakan buku cetak yang diterbitkan sebelum tahun 2022 lebih bersih dari konten buatan AI yang kini banyak memenuhi internet. Buku-buku itu dianggap sebagai sumber data paling andal untuk melatih sistem kecerdasan buatan. Pihaknya bahkan menjamin kerahasiaan identitas pembeli agar tidak menuai kritik.
Salah satu penjual buku menceritakan bahwa penjualannya melonjak drastis dari puluhan menjadi ratusan eksemplar setiap pekan. Ia yakin pembelinya adalah laboratorium AI karena pesanannya beragam dan hanya mencantumkan nomor identitas buku.
Penjual tersebut menyatakan perasaan yang mendua. Ia diuntungkan karena stok lama yang susah terjual, tiba-tiba laris manis. Namun, ia sedih mengetahui buku-buku langka yang tersisa sedikit jumlahnya akhirnya dihancurkan begitu saja.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan oleh para penjual buku kuno di Belanda dan negara lain. Mereka menerima banyak pesanan dalam jumlah besar tetapi tidak bisa memastikan siapa pembelinya. Praktik ini memicu perdebatan etika karena sumber ilmu pengetahuan yang berharga justru dimusnahkan demi kepentingan pengembangan teknologi.
(dem/dem)




