Perang Makin Gila! Poros Perlawanan Iran Bangkit Lagi-Bidik Arab Saudi

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: Para pengikut Houthi memegang senjata granat berpeluncur roket (RPG) selama demonstrasi pro-Iran, saat konflik AS-Israel dengan Iran berlanjut, di Sanaa, Yaman, 6 April 2026. (REUTERS/Khaled Abdullah)
Daftar Isi
  • Fasilitas Minyak Saudi Jadi Sasaran
  • Koordinasi Antarmilisi Pro-Iran Meningkat
  • Hubungan Lama Houthi dan Milisi Irak
  • Irak Menjadi Basis Strategis

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan terhadap Arab Saudi yang diklaim dilakukan kelompok Houthi Yaman pekan ini ternyata diduga dilancarkan dari wilayah Irak dengan dukungan kelompok-kelompok bersenjata Irak yang bersekutu dengan Iran. Temuan tersebut muncul dari penilaian pemerintah Arab Saudi dan sejumlah mitra regionalnya, yang menilai koordinasi antar milisi pro-Iran di Timur Tengah kini makin erat dan lebih berbahaya dibanding sebelumnya.

Mengutip Reuters, Jumat (31/7/2026), dua pejabat kawasan mengatakan sebagian serangan yang menghantam fasilitas minyak di Provinsi Timur Arab Saudi dilakukan dari wilayah Irak melalui operasi gabungan antara Houthi dan kelompok bersenjata Irak yang didukung Teheran.

Penilaian tersebut berbeda dengan versi resmi yang selama ini disampaikan kepada publik.


Menurut kedua pejabat itu, operasi tersebut berlangsung di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Temuan ini menunjukkan bahwa kelompok-kelompok yang tergabung dalam apa yang disebut Iran sebagai Poros Perlawanan makin memperkuat hubungan operasional mereka, sekaligus meningkatkan kemampuan untuk menyerang sekutu-sekutu Amerika Serikat di kawasan.

Perkembangan tersebut terjadi meskipun selama bertahun-tahun kelompok-kelompok itu menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dan Israel, mulai dari Lebanon hingga Iran, terutama setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 2023.

Baca: Iran Sukses 'Kelabui' Trump, Berhasil Dagang Minyak di Laut Depan RI

Fasilitas Minyak Saudi Jadi Sasaran

Serangan yang dimaksud mencakup serangan terhadap fasilitas minyak di Provinsi Timur Arab Saudi, wilayah yang menjadi pusat utama produksi minyak mentah kerajaan tersebut. Sebagai respons, Arab Saudi bersama Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi di Irak pada Rabu.

Riyadh menyatakan serangan itu menyasar lokasi yang terkait dengan serangan terhadap Arab Saudi dan secara resmi menyalahkan kelompok-kelompok bersenjata Irak yang bersekutu dengan Iran.

Di sisi lain, kelompok Houthi mengklaim bahwa merekalah pelaku serangan tersebut.

Pemerintah Irak sendiri menyatakan masih melakukan penyelidikan. Dua pejabat kawasan yang berbicara kepada Reuters mengatakan sebagian serangan memang dilakukan dari wilayah Irak oleh kelompok bersenjata Irak dan Houthi secara bersama-sama.

Setelah serangan udara Saudi-AS pada Rabu, media-media yang berafiliasi dengan Iran memberitakan kematian sejumlah anggota IRGC, pejuang Irak, dan sedikitnya satu anggota Houthi.

Baca: Trump Bikin Perang Terus, Bisnis Senjata AS Laris Manis

Koordinasi Antarmilisi Pro-Iran Meningkat

Peneliti Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga kajian Chatham House, Farea al-Muslimi, mengatakan hubungan antarkelompok dalam Poros Perlawanan kini jauh lebih erat dibanding sebelumnya.

"Sekarang terdapat pelatihan dan koordinasi langsung di antara anggota Poros Perlawanan itu sendiri, bukan hanya antara mereka dan Iran," ujarnya.

Para analis menilai perkembangan ini juga menunjukkan semakin pentingnya posisi Irak dalam jaringan Poros Perlawanan, terutama setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah dan melemahnya Hizbullah di Lebanon.

Pemerintah Arab Saudi, Iran, dan Irak tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. Demikian pula kelompok Houthi.

Houthi sebelumnya mengatakan serangan terhadap Arab Saudi dilakukan sebagai balasan atas serangan Saudi di Yaman dan bertujuan mematahkan apa yang mereka sebut sebagai "pengepungan" oleh kerajaan tersebut.

Arab Saudi membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa puluhan kapal telah tiba di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Houthi sepanjang tahun ini.

Baca: Arab Saudi Disebut Lagi Dilema, MBS Terjepit-Stabilitas Terancam

Hubungan Lama Houthi dan Milisi Irak

Kerja sama antara Houthi dan kelompok bersenjata Irak yang loyal kepada Iran sebenarnya bukan hal baru.

Hubungan tersebut terutama terjalin dengan Kataib Hizbullah, yang dianggap sebagai kelompok bersenjata Irak paling kuat dan paling terorganisasi.

Pada 2024, pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi mengumumkan keberadaan ruang operasi bersama antara Houthi dan kelompok-kelompok Irak.

Pada tahun yang sama, kedua pihak juga mengumumkan operasi gabungan pertama mereka yang menargetkan Israel.

Selain itu, Houthi juga memiliki kehadiran permanen di Irak, termasuk kantor dan perwakilan resmi bernama Ahmed al-Sharafi.

Menurut laporan Reuters, Sharafi beberapa kali menghadiri pertemuan terbuka dengan partai-partai Syiah Irak dan kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran.

Di sejumlah wilayah Baghdad, poster berwarna merah dan hijau yang menampilkan slogan Houthi atau "Sarkha" juga telah lama terlihat.

Slogan tersebut berbunyi: "Allah Maha Besar, kematian bagi Amerika, kematian bagi Israel, kutukan bagi Yahudi, kemenangan bagi Islam."

Baca: Perang Memanas: Ini Peta Kekuatan Militer Iran, Irak, Arab Saudi-Mesir

Irak Menjadi Basis Strategis

Para analis menilai Irak memiliki nilai strategis tinggi bagi Houthi dan kelompok-kelompok pro-Iran lainnya.

Wilayah negara itu yang sangat luas dan banyak area terbuka membuat aktivitas persembunyian maupun peluncuran serangan lebih mudah dilakukan secara rahasia.

Selain itu, Irak memiliki perbatasan sepanjang lebih dari 800 kilometer dengan Arab Saudi yang dinilai sulit diawasi sepenuhnya.

Kondisi tersebut menjadikan Irak lokasi ideal untuk melancarkan serangan ke Arab Saudi maupun negara-negara Teluk lainnya.

Selama bertahun-tahun, ratusan serangan terhadap Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab dituduhkan oleh negara-negara tersebut berasal dari kelompok yang beroperasi di Irak.

Di antaranya adalah serangan dua drone terhadap Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh pada Maret lalu serta serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab pada Mei.

Pemerintah Irak berulang kali menyatakan akan menyelidiki tuduhan bahwa wilayahnya digunakan untuk menyerang negara-negara tetangga Arab.

Namun para pengkritik menilai Baghdad menunjukkan kemampuan yang terbatas untuk mengatasi persoalan tersebut, sehingga merusak hubungan dan kredibilitasnya di mata negara-negara Teluk.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Houthi Blokade Laut Arab Saudi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MK Putuskan MBG Tidak Boleh Lagi Pakai Anggaran Pendidikan
• 15 jam lalunarasi.tv
thumb
Amran: Ada Mafia Jual Beras Fortifikasi Rp 42 Ribu/Kg, Kerugian Capai Rp 71,9 T
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Respons Hamas soal Pelucutan Senjata: Tentara Israel Harus Ditarik dari Gaza
• 2 jam laludetik.com
thumb
Akibat Kemarau, Krisis Air Bersih-Kekeringan Melanda Gunungkidul dan Situbondo | KOMPAS SIANG
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Sinopsis ASMARA GEN Z SCTV Episode 622, Hari Ini Kamis 30 Juli 2026: Mohan Pantang Menyerah Kejar Raisa, Rose Bikin Ken Gigit Jari
• 18 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.