Suasana teduh dan sejuk langsung terasa tatkala memasuki gerbang penjagaan Samboja Lestari yang terletak di Kelurahan Margo Mulyo, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pepohonan hutan yang rimbun tampak menaungi Samboja Lestari milik Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
Nuansa alam ini membuat siapa pun yang berkunjung ke sana tidak menyangka jika sekitar tiga dekade lalu, lahan ini adalah tanah kering. Rimbunnya hutan di sana adalah buah dari kerja keras yayasan ini dalam merehabilitasi lahan demi menjadi rumah sementara bagi orangutan, seperti Rambo.
Orangutan berusia 34 tahun ini adalah salah satu orangutan Kalimantan (Pongo pymaeus) yang direhabilitasi di BOSF sejak 2006. Dulunya, ia adalah hewan sirkus yang kemudian disita pemerintah untuk kemudian dirawat. Di BOSF, Rambo dirawat dan dilatih agar dapat mengembalikan insting liarnya sebagai orangutan.
Sayangnya, pengalaman hidup membuatnya sulit melepaskan kebiasaan lama sehingga Rambo belum siap dilepasliarkan. Kebiasaan itu tampak dari cara berjalan Rambo menggunakan dua kaki dengan tangan terangkat. Tidak seperti orangutan pada umumnya yang berjalan dengan dua kakinya dan juga bertumpu pada kedua tangannya. Karena perilaku seperti itulah Rambo masih tinggal di Samboja Lestari meskipun sudah dua dekade lamanya.
Tidak semua orangutan yang masuk ke pusat rehabilitasi BOSF bernasib seperti Rambo, kendati mayoritas memiliki ”trauma” karena pengalaman hidup sebelumnya. Termasuk juga para bayi orangutan yang diserahkan ke Samboja Lestari. Nantinya, bayi-bayi orangutan ini akan dirawat dan dididik di sekolah hutan agar memiliki sifat liar layaknya orangutan yang hidup di alam bebas. Jika berhasil dididik dan dinyatakan mandiri, bayi orangutan yang bertumbuh dewasa ini akan dilepasliarkan ke Hutan Kehje Sewen di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Anak-anak orangutan itu diterima dari warga atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) yang berhasil menyelamatkan mereka dari perburuan, penyekapan, atau pengurungan untuk jadi hewan peliharaan. Selain itu, banyak pula dari mereka yang telantar karena terlepas dari induknya.
Jika pun terlepas dari induknya, maka sesuatu terjadi pada induk orangutan. Sebab, hampir tidak mungkin anak-anak orangutan ini berjarak dari induknya. Kecuali, terjadi konflik antara manusia dan orangutan maupun adanya gangguan lain, seperti kebakaran hutan.
Manajer Program Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Agus Irwanto menjelaskan, sang induk selalu membawa bayi orangutan ke mana pun ia pergi. Kecuali pada kasus-kasus tertentu, induk tersebut bisa jadi terbunuh karena konflik dengan manusia, seperti saat habitat mereka dirambah untuk kepentingan lain seperti perburuan.
”Sebelum 8 tahun dia (orangutan) masih digendong-gendong ke mana pun ibunya pergi atau ibunya pergi akan diikutin. Jadi, untuk (oknum yang ingin) mendapat satu bayi orangutan, harus membunuh induknya,” jelas Agus saat ditemui di di Samboja Lestari, pada Kamis (16/7/2026).
Konflik orangutan dengan manusia bukan menjadi pemandangan baru lagi di Kalimantan Timur. Provinsi ini termasuk daerah yang menjadi habitat orangutan Kalimantan dengan subspecies Pongo pygmaeus morio. Paling tidak enam bentang alam tempat kumpulan atau metapopulasi orangutan Kalimantan terlihat.
Keenam lokasi itu adalah Lanskap Belayan-Senyiur, Lanskap Beratus, Lanskap Taman Nasional Kutai-Bontang, Lanskap Wehea-Lesan PF, Lanskap Sangkulirang, dan Sungai Wein. Menurut laporan Analisis Kelayakan Populasi dan Habitat 2016 (PHVA 2016), jumlah orangutan yang terpantau menghuni kawasan-kawasan itu sebanyak 2.900 individu.
Karena itu, setiap perubahan hutan, yang menjadi kantong habitat orangutan, memicu munculnya konflik manusia dan orangutan. Mengutip jurnal berjudul ”Sebaran Dan Karakteristik Konflik Orangutan (Pongo Pygmaeus) dengan Manusia di Kalimantan Timur”, pada periode 2012-2021 tercatat 109 kejadian konflik orangutan di Kalimantan Timur. Konflik tersebut terjadi di berbagai lokasi, seperti kebun masyarakat, perkebunan sawit, kawasan perkebunan industri, pertambangan.
Lokasi konfik orangutan dengan manusia itu mengindikasikan, habitat orangutan yang mulai terganggu dan terambah oleh aktivitas manusia. Ruang hidup yang tergerus industri ekstraktif hingga pembangunan infrastruktur membuat mereka kehilangan persediaan makanan. Selain itu, jalur jelajah yang sudah beralihfungsi menjadi penggunaan lahan lainnya membuat kemunculan mereka semakin sering. Di sinilah konflik antara orangutan dan manusia tidak terhindarkan.
Beberapa video yang beredar di media sosial dalam setahun terakhir semakin menguatkan fenomena itu. Misalnya, ada video yang menampilkan seekor orangutan yang berjalan di jalan Hauling kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI), Kalimantan Timur. Dengan berjalan perlahan, orangutan ini menyusuri jalur HTI Kawasan Bendang-Muara Bengkal Km 23 yang terdapat kendaraan perusahaan melintas. Baru pada Rabu (22/7/2026), pihak BKSDA akhirnya berhasil mengevakuasi orangutan tersebut.
Kemudian ada pula, video yang menampilkan seekor orangutan di jalur Bengalon-Kaliorang, Kalimantan Timur, pada Desember 2025. Kendati menjadi jalur kendaraan umum, munculnya orangutan di jalur tersebut menarik perhatian pengendara sehingga mereka memberi makan satwa tersebut.
Dua peristiwa ini hanyalah sebagian dari banyaknya peristiwa serupa di Kalimantan Timur. Konflik orangutan dengan manusia timbul seiring masifnya pembangunan infrastruktur serta aktivitas industri ekstraktif yang terus menggerus habitat orangutan di daerah ini. Selain terdampak deforestasi hutan besar-besaran, nyatanya hutan yang masih tersisa sebagai rumah terakhir mereka juga terkikis perlahan karena aktivitas itu.
Litbang Kompas berkolaborasi dengan analis geospasial Raden Pranantya dan Anggito Venuary mencoba menganalisis lanskap hutan di Kalimantan Timur yang menjadi habitat dari orangutan ini. Analisis geospasial pada citra satelit Landsat 7 ETM+ tahun 2001 dan citra Landsat 8 OLI tahun 2024 dilakukan untuk mendeteksi fragmentasi hutan yang tersisa.
Fragmentasi hutan ini menggambarkan kondisi hutan terpecah belah yang membuat habitat satwa langka seperti orangutan terimpit. Fragmentasi hutan digambarkan dalam 4 kategori berdasarkan kepadatan hutan dalam moving window. Keempat kategori tersebut, yaitu sangat terfragmentasi (90 persen).
Hasilnya, fragmentasi hutan terjadi di sejumlah kawasan yang menjadi habitat orangutan dengan tingkatan yang beragam. Kawasan sekitar habitat orangutan, seperti lanskap Beratus, Belayan-Senyiur, Kutai-Bontang, Sangkulirang, dan Wehea-Lesan, terdeteksi mengalami degradasi lanskap hutan cukup parah pada kategori transisi hingga terfragmentasi. Meskipun kawasan inti hutan habitat orangutan masih dalam kondisi utuh, terpecahnya bagian pinggiran hutan menandakan kritisnya ruang hidup orangutan di Kalimantan Timur.
Kondisi tersebut terdeteksi juga pada lokasi penemuan dua ekor orangutan di jalur HTI Kawasan Bendang-Muara Bengkal Km 23 dan jalur Bengalon-Kaliorang. Dua jalur tersebut berada di sekitar kawasan habitat orangutan, yaitu Bentang Alam Sangkulirang dan Bentang Alam Kutai-Bontang. Menurut data Analisis Kelayakan Populasi dan Habitat 2016, dua bentang alam ini menjadi rumah dari lebih dari 2.000 individu orangutan.
Berdasarkan analisis Litbang Kompas, dua titik lokasi tersebut terletak pada daerah dengan tingkat fragmentasi moderat hingga tinggi. Ini artinya, hutan pada area ini sudah terpecah belah dan tidak saling terkoneksi.
Fenomena ini juga terlihat pada hasil analisis fragmentasi pada citra tahun 2001. Pada 2024, perambahan hutan di sekitar bentang alam habitat orangutan semakin masif sehingga tingkat fragmentasi yang terdeteksi semakin luas. Jika dilihat lebih detail, dua kawasan ini memang padat aktivitas manusia, seperti industri perhutanan, perkebunan sawit, tambang, permukiman warga, hingga pembangunan infrastruktur jalan.
Bagi orangutan sendiri, terpecahnya ruang hidup mereka juga membuat mereka harus beradaptasi dengan kondisi ”rumah” yang berbeda. Rustam Kepala Laboratorium Alam KHDTK Diklathut Fahutan Universitas Mulawarman menceritakan penelitian salah satu mahasiswanya yang menemukan habitat orangutan di tengah perkebunan pulau sawit.
”Itu seperti pulau-pulau kecil di tengah perkebunan sawit. Mereka mengidentifikasi jumlah orangutan di perkebunan lebih banyak dari yang ada di hutan alam,” jelasnya dalam wawancara pada Selasa (16/6/2026).
Orangutan itu tetap berada di sana seakan-akan terjebak karena habitatnya terkepung perkebunan sawit dan jalur jelajahnya terputus. ”Bahkan, orangutan di sana itu ada yang beradaptasi, makan biji sawit. Sudah ada yang begitu,” tambah Rustam.
Dampak dari fragmentasi habitat orangutan di Kalimantan Timur tidak berhenti di situ saja. Lebih parah lagi, masalah ini dapat menyebabkan terhentinya rantai reproduksi. Menurut Agus, perambahan hutan membuat jalur jelajah orangutan terganggu dan berakibat pada terhambatnya perkembangbiakan orangutan.
”Orangutan jantan tiap hari bergerak minimal 20 kilometer untuk mencari makan dan mencari pasangan. Kalau betina cukup 5 kilometer. Sekarang kalau keadaan hutannya terfragmentasi kan susah. Jadi, induk betina enggak bakal ketemu jantan. Karena kan, misalnya, ini betinanya di sini, ini jantannya di sini, ini ada sawit atau tambang kan enggak mungkin,” jelas Agus saat ditemui di Samboja Lestari, tempat rehabilitasi orangutan dan lahan milik Yayasan BOSF, pada Kamis (16/7/2026).
Ruang jelajah yang terpisah oleh aktivitas industri ekstraktif hingga pembangunan infrastruktur itu membuat kesempatan orangutan jantan dan betina untuk bertemu serta berkembang biak semakin kecil. Jika dibiarkan, kondisi ini akan mengakibatkan regenerasi populasi lambat. Apalagi, interval kelahiran antarorangutan tergolong lama, yaitu setiap 8 tahun. Hal ini disebabkan siklus hidup orangutan khususnya betina cukup unik.
Orangutan betina akan merawat dan mendidik anaknya untuk bertahan hidup sampai sang anak berusia kurang lebih 8 tahun. Agus menjelaskan, orangutan betina akan mengajarkan semua keterampilan di hutan, seperti cara mencari makan hingga navigasi. Setelah sang anak berusia 8 tahun serta sudah siap dilepas, orangutan betina baru akan siap bereproduksi. Itu pun saat betina dalam masa subur serta ada orangutan jantan yang datang. Sebab, orangutan jantanlah yang aktif mencari betina. Dalam hal inilah fragmentasi hutan membuat orangutan jantan kesulitan untuk menemukan orangutan betina.
Kombinasi rusaknya habitat serta siklus hidup orangutan yang unik ini membuat jumlah populasi orangutan di Kalimantan terus merosot. Menurut data Yayasan BOSF, dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun sejak 1973, populasi orangutan menurun 50 persen. Pada 1973, populasi orangutan Kalimantan diperkirakan ada 288.500 individu. Namun, pada 2016, hanya tersisa 57.350 individu.
Kondisi tersebut juga menjadi sorotan utama dalam hasil PHVA 2016. Laporan ini menunjukkan, risiko kepunahan orangutan dan tekanan lingkungan pada habitat mereka. Khusus di Kalimantan Timur, hasil analisis ini menunjukkan, tren populasi orangutan cenderung menurun di semua kantong populasi. Bentang alam Wehea-Lesan menjadi kawasan dengan tren penurunan populasi paling signifikan.
Menurut Manajer Regional Yayasan BOSF Kaltim Aldrianto Priadjati, kondisi tersebut menjadi tantangan berat bagi konservasi orangutan di Kalimantan Timur. Contoh sederhana, proses pemilihan hutan sebagai tujuan pelepasliaran orangutan yang telah berhasil direhabilitasi Yayasan BOSF.
”Kami ingin, ketika melepasliarkan itu hutannya benar-benar aman. Aman tidak amannya yang pertama dari perubahan lahan. Yang kedua, perburuan. Yang ketiga, memang enggak banyak pilihan, itu (hutan) merupakan habitat alaminya orangutan,” jelasnya.
Aldrianto menambahkan, meskipun ketiga hal ini dapat terpenuhi ada syarat khusus yang perlu diperhatikan. Hutan harus dapat terpantau dan terawasi yayasan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri jika muncul kebijakan lain dari pemerintah maupun perubahan peruntukan lahan untuk keperluan industri dan pembangunan. Aldrianto memperingatkan, jangan sampai orangutan yang dilepasliarkan kembali masuk ke rehabilitasi karena hutan tempat pelepasliaran terdegradasi. (LITBANG KOMPAS)
Liputan ini didukung oleh Indonesia Data Journalism Network (IDJN) melalui fellowship Data Journalism Hackathon 2026





