Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bibit Siklon Tropis 94W di Samudra Pasifik utara Papua Barat berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia, pada Jumat (31/7/2026).
Ina Indah Prakirawan BMKG menyebut bibit Siklon Tropis 94W diprediksi berada di Samudra Pasifik utara Papua Barat. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 15 knot, tekanan udara minimum 1.008 mb, dan bergerak ke arah barat.
“Keberadaan bibit siklon tersebut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di wilayah Laut Filipina dan di sekitar pusat bibit siklon,” ujarnya di Jakarta, seperti dikutip Antara.
Selain itu, daerah perlambatan angin atau konvergensi diprakirakan terbentuk di banyak wilayah Indonesia, mulai dari Pulau Sumatera hingga Papua. Sementara daerah pertemuan angin atau konfluensi diprediksi terbentuk di Selat Malaka, Laut China Selatan, dan Samudra Pasifik utara Papua.
BMKG menyatakan, kondisi tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan, baik di sekitar bibit siklon maupun di sepanjang wilayah konvergensi dan konfluensi.
Berdasarkan prakiraan cuaca di kota-kota besar, hujan ringan berpotensi terjadi di Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Bandar Lampung, Serang, Bandung, Tanjung Selor, Mamuju, Palu, Manokwari, Nabire, Wamena, dan Merauke.
Sementara itu, kondisi cerah berawan hingga berawan tebal diprakirakan terjadi di Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Jakarta, Semarang, Pontianak, Palangka Raya, Samarinda, Banjarmasin, Denpasar, Kupang, Makassar, Kendari, Gorontalo, Manado, Ternate, Ambon, dan Jayapura.
BMKG juga memprakirakan udara kabur atau berkabut berpotensi terjadi di Bengkulu, Yogyakarta, dan Surabaya. Adapun kondisi asap atau kabut diperkirakan terjadi di Padang, Mataram, dan Sorong.
Masyarakat diimbau terus memantau informasi cuaca terkini melalui laman resmi BMKG maupun kanal media sosial resmi lembaga tersebut. Pemantauan ini diperlukan untuk mengantisipasi potensi cuaca yang dapat mempengaruhi aktivitas masyarakat.
Sebelumnya, BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027, dengan peluang puncak intensitas mencapai kategori kuat.
Teuku Faisal Fathani Kepala BMKG menyampaikan, fenomena tersebut berpotensi dibarengi dengan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026.
“Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, dimana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal,” kata Teuku Faisal.
Untuk memitigasi risiko kebakaran hutan dan lahan serta ancaman kekeringan akibat El Nino, pemerintah mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah strategis. OMC diprioritaskan di wilayah yang membutuhkan tambahan curah hujan untuk menjaga kelembapan lahan mineral dan gambut, sekaligus mengisi cadangan air waduk. (ant/bil/ipg)




