Ekonom Sebut Serangan AS ke Iran Masih Jadi Sentimen Bagi Harga Minyak & Pergerakan Rupiah

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menyatakan, rupiah memperoleh sentimen dari serangan militer AS terhadap Iran, yang menyebabkan kenaikan harga minyak.

“Lonjakan harga minyak dipicu oleh serangan militer AS terhadap Iran yang meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan memicu sentimen risk-off di pasar negara berkembang,” kata Josua sebagaimana dikutip dari Antara, Jumat, 31 Juli 2026.

Baca Juga :
Destry Pastikan BI Tak Kendor Jaga Stabilitas, Ini yang Jadi Prioritas
Rupiah Menguat ke Rp 18.055 Meski Ekonom Proyeksi Ekonomi RI di Kuartal II-2026 Anjlok

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 18.078 pada Kamis, 30 Juli 2026. Posisi rupiah itu menguat 9 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 18.087 pada perdagangan Rabu, 29 Juli 2026.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede
Photo :
  • [Mohammad Yudha Prasetya]

Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 31 Juli 2026 hingga pukul 09.05 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 18.055 per dolar AS. Posisi itu menguat 56 poin atau 0,31 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 18.111 per dolar AS.

Diketahui, AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu malam, 29 Juli 2026, dengan dalih membalas "percobaan serangan Iran" terhadap pasukan AS di Timur Tengah, menurut Komando Pusat AS (CENTCOM).

Serangan tersebut terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, menjanjikan respons "sangat keras" setelah sebuah drone menghantam sebuah tanker LNG milik AS di Mesir.

Melihat sentimen global, rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS tumbuh sebesar 1,5 persen secara kuartalan (qoq) pada kuartal II-2026, melambat 2,1 persen (qoq) dari kuartal I-2026 dan berada di bawah konsesus pasar sebesar 2 persen (qoq).

Sementara itu, Personal Spending hanya meningkat 0,3 persen secara month-to-month (mtm) pada Juni 2026, melambat dari 0,9 persen (mtm) pada bulan sebelumnya dan lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen (mtm)

“Di sisi inflasi, indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu PCE Price Index dan Core PCE Price Index, masing-masing melandai menjadi 3,7 persen secara year-on-year (yoy) dan 3,3 persen (yoy) pada Juni 2026, sejalan dengan ekspektasi pasar," kata Josua.

“Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp18 ribu–18.125 per dolar AS pada hari ini,” ujarnya. (Ant).

Baca Juga :
AS Kembali Serang Iran
AS Kembali Serang Wilayah Iran dekat Perbatasan Irak
Rupiah Terus Melemah ke Rp 18.106 Meski Pasar Mulai Optimis Penunjukan Destry Damayanti Gantikan Perry Warjiyo

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Optimalkan Pelayanan Publik, Mendagri Soroti Penguatan Kapasitas dan Dukungan terhadap Kepala Daerah
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kejagung Mutasi 90 Kepala Kejaksaan Negeri, Ini Daftar Lengkapnya
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Perkuat Konektivitas Nasional, Prabowo Ingin Lampung hingga Banda Aceh Terhubung Kereta Api
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Penyimpanan Aset Makin Canggih, KPK Berangkatkan Pegawainya Belajar Kripto
• 11 jam laludetik.com
thumb
Kapolri Mutasi Wakapolda Sumut Brigjen Sonny Irawan Jadi Kasespimmen Sespim Lemdiklat
• 1 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.