Grid.ID - Dedi Mulyadi dituding pilih kasih soal nominal bantuan yang ia berikan. Sang gubernur memberi alasan di baliknya.
Langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam mengulurkan tangan untuk sesama menjadi buah bibir warganet. Tak terkecuali dirinya yang belum lama ini memberikan bantuan untuk dua peristiwa tragis yang belakangan viral.
Hal yang dipermasalahkan warganet adalah mengenai perbedaan nominal yang diberikan. Pasalnya, Dedi memberikan deposit sebesar Rp50 juta kepada anak terduga pelaku pencurian di Bali yang tewas dikeroyok massa. Sementara itu, ia memberikan keluarga satpam yang tewas terbunuh di Waduk Jatiluhur bantuan tunai sebesar Rp25 juta.
Perbedaan nominal tersebut memicu kekecewaan warganet. Tak sedikit yang mempertanyakan keputusan pria yang akrab disapa KDM itu.
Alasan di Balik Perbedaan Nominal
Mengetahui apa yang tengah ramai diperbincangkan, Dedi tak tinggal diam. Ia pun memberikan tanggapan serta alasan di baliknya.
"Hayo sedang apa sekarang, sedang ngomongin perbedaan bantuan pembunuhan sekuriti dan korban pengeroyokan pencuri ayam di Bali ya? Saya dianggap membeda-bedakan ya?" tanya Dedi, dikutip dari Tribunnews.
Ia kemudian membeberkan bahwa ada pertimbangan matang serta strategi jangka panjang di balik angka Rp25 juta yang diberikan pada keluarga almarhum Sumarna. Dedi menjelaskan bahwa sebagian dana dialokasikan langsung untuk menyelesaikan urusan kewajiban almarhum kepada pihak lain agar tidak menjadi beban keluarga yang ditinggalkan.
"Waktu itu saya tidak menyerahkan, uang berbeda dengan yang di Bali karena ada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama bahwa saya paham almarhum itu ada beberapa kewajiban yang harus diselesaikan pada pihak lain sehingga saya memilih untuk menyelesaikan kewajiban pada pihak lain dibanding menyerahkan uang tunai ke keluarga korban," beber Dedi.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan soal orientasinya saat memberikan bantuan. Termasuk keberlangsungan hidup anak-anak almarhum secara berkelanjutan, bukan sekadar memberikan uang tunai dalam jumlah besar di awal.
"Kedua, saya berfokus untuk pendidikan anaknya ke depan. Yang besar itu berfokus diselesaikan sekolah SMK dan dibantu untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan di sekitar rumah sehingga bisa menjamin kehidupan ibu dan adiknya," pungkas Dedi.
"Kedua, adik kecil yang masih sekolah SD itu dijadikan anak asuh saya untuk menempuh pendidikan hingga dewasa nanti sesuai apa yang diharapkan," lanjutnya.
Alasan krusial lainnya adalah status Sumarna yang merupakan seorang pekerja resmi yang terlindungi jaminan sosial. Sehingga keluarga almarhum berhak mendapatkan santunan ratusan juta dari negara.
"Ketiga, almarhum ini merupakan anggota sekuriti yang memiliki asuransi ketenagakerjaan dan mendapat hak asuransi ketenagakerjaan Rp418 juta sehingga keluarga almarhum sebenarnya memiliki keuangan yang cukup. Yang harus dipikirkan adalah masa depan anak,"
"Semoga kita sama-sama berfokus menjadi orang yang peduli pada sesama. Terima kasih kalau perbedaan tunai yang saya berikan itu menimbulkan kegaduhan," tutup Dedi.
Pernyataan Dedi terbukti sahih. Kini ahli waris Sumarna menerima santunan dan manfaat jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan senilai Rp 418.133.773, termasuk beasiswa pendidikan bagi dua anak almarhum.
Pemberian santunan diserahkan langsung kepada istri korban, Siti Maryam, sebagai ahli waris pada Kamis (30/7/2026). Hal ini diungkap Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Trisna Sonjaya.
"BPJS Ketenagakerjaan memberikan hak ahli waris berupa santunan kurang lebih Rp418 juta. Jadi, ini merupakan hak dari perlindungan jaminan sosial yang diberikan secara langsung dan tunai," ujar Trisna, dikutip dari Kompas.com.
Selain santunan kematian, kedua anak korban juga memperoleh manfaat beasiswa pendidikan sesuai dengan ketentuan program BPJS Ketenagakerjaan. Diketahui, saat ini anak sulung Sumarna masih menempuh pendidikan di kelas XII SMK, sedangkan anak keduanya duduk di bangku kelas IV sekolah dasar.
Soal dirinya yang dituding pilih kasih mengenai nominal bantuan yang diberikan, Dedi Mulyadi buka suara. Sang gubernur ungkap alasan di baliknya. (*)
Artikel Asli




