JAKARTA, DISWAY.ID-- Presiden Prabowo Subianto menilai perang Rusia-Ukraina lebih lama jika dibandingkan Perang Dunia II.
Ia menyebut perang di Ukraina telah berlangsung dari 2022. Namun, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
BACA JUGA:Sekolah Rakyat Wonosobo Terima Ratusan Siswa Baru, Wamensos: Harapan Keluarga Kurang Mampu
"Perang Ukraina mulai tahun 2022. Tahun 2022, 2023, 2024, 2025, sudah masuk 2026. Mungkin Perang Ukraina lebih lama dari Perang Dunia Kedua juga," kata Prabowo dalam sambutannya di hadapan jajaran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Istana Kepresidenan, Jumat, 31 Juli 2026.
Presiden membandingkan durasi konflik tersebut dengan Perang Dunia II yang berlangsung sejak September 1939 hingga Mei 1945, atau sekitar lima tahun.
Sementara itu, perang di Ukraina kini telah memasuki tahun kelima. Menurut Prabowo, konflik yang berkepanjangan itu telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar sekaligus memberikan dampak luas terhadap perekonomian dunia.
BACA JUGA:Pembukaan MPLS, Orang Tua Siswa Terharu Anaknya Masuk Sekolah Rakyat
"Jutaan sudah korban. Dan kita baru mengerti, perang di satu bagian bumi itu pengaruhnya ke mana-mana, kepada harga BBM dan sebagainya," ujarnya.
Prabowo juga menyoroti bahwa dunia masih dihadapkan pada berbagai konflik lain yang belum mereda. Setelah perang di Ukraina, ketegangan di Gaza, Lebanon, hingga kawasan Teluk dan Selat Hormuz terus meningkat dan dinilai berpotensi berlangsung dalam waktu yang lama.
Ia bahkan mengingatkan bahwa ancaman perang nuklir tidak boleh dianggap remeh, baik dalam konflik di Ukraina maupun di Timur Tengah.
Selain itu, Presiden menyinggung situasi di kawasan Asia Tenggara yang turut menghadapi tantangan keamanan.
BACA JUGA:Daftar Rotasi Polri Terbaru, Kadiv Hubinter hingga Jajaran Kapolres
Menurutnya, perang saudara di Myanmar menunjukkan bahwa kawasan ASEAN yang selama ini dikenal sebagai zona perdamaian juga tidak luput dari dampak instabilitas geopolitik.
"Di Myanmar berkecamuk perang saudara dengan belasan atau puluhan milisi bersenjata yang didukung oleh negara-negara lain," imbuhnya.





