Perusahaan Bisa Bangkrut Kalau Pakai AI, CEO Microsoft Sudah Ingatkan

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: CEO Microsoft Satya Nadella memberi paparan pada gelaran Microsoft Build: Al Day Jakarta, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (30/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Microsoft, Satya Nadella, memberikan peringatan keras kepada perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam menjalankan bisnisnya. Menurutnya, sebuah perusahaan berpotensi hancur jika membagikan terlalu banyak informasi sensitif kepada model AI.

Ia menegaskan bahwa pelaku bisnis seharusnya lebih waspada terhadap data maupun instruksi (prompt) yang mereka bagikan ke sistem AI.

"Menurut saya, perusahaan mana pun yang tidak memiliki kendali penuh atas datanya tidak akan bertahan lama. Sebab, pada dasarnya Anda telah mengalihdayakan (outsource) proses berpikir perusahaan Anda," kata Nadella, dikutip dari Futurism, Jumat (31/7/2026).


Ia merekomendasikan agar perusahaan menyimpan seluruh data terkait cara karyawan mereka menggunakan alat-alat AI. Dengan begitu, perusahaan pada akhirnya dapat melatih atau menyempurnakan model AI berjenis open-weight milik mereka sendiri.

Selain itu, Nadella mengimbau perusahaan untuk mulai meninggalkan alat-alat AI berbasis agen (agentic AI) yang bersifat sumber tertutup (closed-source). Sebagai gantinya, ia menyarankan penggunaan platform AI khusus yang dapat mengintegrasikan berbagai jenis model AI, seperti platform yang lebih terjangkau dan bersifat open-source.

Pilihan Redaksi
  • Daftar 3 Fitur Terbaru iPhone di iOS 27, Cek Jadwal Rilisnya
  • iPhone Laku Keras tapi Apple Peringatkan Masa Depan Bakal Suram

"Dengan memisahkan kerangka kerja (framework) dari model, serta memisahkan konteks dan memori dari model tersebut, Anda dapat menggunakan berbagai model AI sesuai keunggulannya masing-masing," jelasnya.

"Pada saat yang sama, model mana pun dapat diganti atau dihapus, sehingga Anda tetap memegang kendali atas arah dan masa depan bisnis Anda sendiri," tambah Nadella.

Meskipun Microsoft berada di garda terdepan dalam perlombaan pengembangan AI bersama banyak raksasa teknologi lain, Nadella memang tergolong rajin menyuarakan kekhawatiran terkait dampak buruk teknologi tersebut.

Sebelumnya, ia juga sempat mengingatkan bahwa para pengguna AI tanpa sadar bisa saja "membayar dua kali" atas penggunaan teknologi ini-bukan hanya dengan uang untuk membeli token, melainkan juga dengan data berharga mereka.

"Pada dasarnya Anda membayar dua kali: sekali dengan uang, dan sekali lagi dengan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu pengetahuan eksklusif perusahaan agar kecerdasan AI tersebut dapat bermanfaat," ungkap Nadella dalam sebuah unggahan blog, dikutip dari TechCrunch.

Bahkan, biaya yang harus "dibayar" perusahaan akan makin tinggi seiring meningkatnya kebutuhan performa AI tersebut.

"Makin tinggi kinerja yang Anda harapkan dari model AI tersebut, makin banyak pula pengetahuan internal yang harus Anda serahkan kepadanya," pungkasnya.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Intip Cara AI Bantu Bisnis Genjot Penjualan di e-Commerce

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
10 Game Mobile Gratis yang Terus Berkembang Lewat Update Besar, Alasan Pemain Tetap Setia Bertahun-tahun
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
7 Perusahaan Pengguna Jasa Don Ritto di Kasus Febrie Diperiksa Kejagung
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Hasil Piala AFF 2026: Timnas Indonesia Menang 3-0 atas Timor Leste
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
33.758 Calon Manajer Koperasi Merah Putih Rampung Diklat Bela Negara, Kemhan Resmi Tutup Gelombang Pertama
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Tanggapi Hasil Survei 51,1 Persen, Mensesneg: Pemerintah Bekerja Bukan untuk Kejar Survei
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.